Harapan yang Dinanti, Aksi Bersih-Bersih Fasum Hidupkan Kembali Ruang Kelas Pascabencana Sumatra

ACEH — “Kapan kami bisa sekolah lagi, Bu?” Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sangat sulit dijawab oleh Nora Rusaifa, Guru PAUD Tazkiyatun Nufus, di Gampong Kubu, Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen, Aceh.

Bukankah pertanyaan itu hanya cukup dijawab dengan sebuah tanggal? Sayangnya lumpur yang masih tertinggal membuat pertanyaan tersebut sulit dijawab. Lumpur-lumpur itu masih memenuhi lantai PAUD Tazkiyatun Nufus. Dinding-dindingnya juga masih tertimpa oleh sisaan lumpur akibat banjir dan longsor yang terjadi dua bulan silam.

Tiga bangunan berdiri berderet di sana, ada ruang kelas, ruang bermain, dan satu Pos Persalinan Desa (Polindes). Ketiganya dipenuhi oleh lumpur. Di ruang bermain, ruang yang seharusnya dipenuhi oleh tumpukan bola seperti sebuah bak mandi bola, namun bola-bola itu justru tertahan oleh lumpur yang hampir mengering.

Sejak banjir dan longsor menimpa Gampong Kubu, pembelajaran di PAUD Tazkiyatun Nufus dan Polindes terhenti, mereka tidak tahu kapan pastinya aktivitas bisa kembali dilakukan di sana.

“Aktivitas sekolah ya karena kayak gini jadi berhenti. Kalau kemarin lumpur yang di sini sebatas itu (dinding) mungkin ada sebatas itu ya,” ungkap Nora.

Baca juga: Pulihkan Akses Air Bersih Pascabanjir, Dompet Dhuafa Lakukan Pipanisasi di Tapanuli Tengah

Nora sempat menyelamatkan beberapa barang, namun buku dan perlengkapan lainnya terpaksa ditinggalkan, karena air sudah mulai naik dan situasi kian mengkhawatirkan.

“Kebetulan ada bawa kunci, ya sudah masuk terus ke sini. Wireless-nya itu kami taruh di atas apa, lemari kami selamatkan. Kalau yang kayak kipas angin, buku-buku, itu nggak sempat (dievakuasi), karena takutnya airnya keburu tinggi,” lanjut Nora.

Seperti angin segar, Allah menjanjikan dalam Al-Qur’an bahwa setiap kesulitan selalu disertai kemudahan. Janji itu terasa nyata ketika pertolongan Allah datang tepat waktu, sering kali melalui jalan-jalan kebaikan yang tak terduga.

Alhamdulillah, pertolongan tersebut hadir melalui kolaborasi Dompet Dhuafa bersama para mitra kebaikan, di antaranya Baitul Mal Masjid Izzatul Islam, Taman Serua RW 08, DKM Masjid Al Hidayah, Yayasan Nur Ilaahi Taman Serua, dan Masjid An Nur. Sinergi ini menjadi perantara hadirnya rasa lega di tengah situasi sulit yang dihadapi para penyintas.

Dompet Dhuafa bersama para mitra masjid berkolaborasi mendistribusikan air bersih serta melakukan pembersihan fasilitas umum, seperti Polindes, PAUD, dan ruang bermain anak. Berkat dukungan para mitra kebaikan, lumpur yang menempel perlahan terurai oleh aliran air, hingga dinding-dinding kembali menampakkan warna aslinya yang sempat tertutup kecoklatan lumpur.

Tak hanya para relawan yang terlibat dalam membersihkan ruangan-ruangan tersebut, tapi juga Nora bersama anak-anak bahu-membahu, kembali mewujudkan impian mereka untuk bisa bersekolah kembali.

Baca juga: Bantuan Sumur Bor Air Bersih Jadi Oase di Aceh Tamiang

“Saya bantu dari bersihin ruangan belajar, sekarang bersihin ruangan bermain. Di situ ada-ada bola ada perosotan. Ya sebenarnya untuk amal jariah juga, apalagi kayak gini sudah ada orang-orang (relawan) yang mau membersihkan, masa kami nggak mau? masa cuma melihat saja?” sambung Nora.

Pertanyaan yang semula sulit untuk dijawab kini mulai menemukan jawabannya. “Saya kadang sedih kak, ketika anak-anak tanya kapan mereka bisa bersekolah, saya nggak bisa jawab,” dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, pandangan Nora tunduk.

“Insyaallah, rencananya habis Lebaran mereka akan kembali bersekolah. Saya sudah kangen ngajar dan main sama anak-anak. Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk para donatur, semoga apa yang sudah dibantu ini menjadi amal ibadah untuk ke depan di alam akhirat,” ucap Nora, lega.

Sudah sejak lama Nora dan anak-anak merindukan kegiatan belajar mengajar, kini alhamdulillah dengan bantuan Dompet Dhuafa dan Mitra Masjid, mereka dapat bersekolah kembali.

Salah satu relawan Dompet Dhuafa, Dicky, menjelaskan bagaimana kondisi di Gampong Kubu pada awal terjadinya bencana. Wilayah tersebut sempat terisolasi akibat terputusnya jembatan utama, baik dari arah Pasaman maupun Pasaman Selatan, sehingga akses menuju lokasi tidak dapat dilalui. Pemerintah daerah kemudian berupaya membuka kembali jalur utama desa, sementara tim relawan bersama pihak terkait menyeberang ke lokasi menggunakan perahu karet dan memasang sling guna memudahkan pendistribusian logistik ke wilayah terdampak.

“Kami sudah melakukan wash beberapa kali, yang kita bersihkan utama itu ada Polindes, PAUD Tazkiyatun Nufus dan Taman Bermain, kondisi lumpur yang ada di dalam ruangan itu paling tinggi sampai di atas lutut orang dewasa dan dengan kondisinya yang sudah mengeras membuat teman-teman lain menguras tenaga yang luar biasa untuk membersihkannya. Alhamdulillah atas kerja sama yang solid beberapa tempat kita wash itu selesai dan dapat dipergunakan untuk orang banyak,” tutur Dicky.

Dompet Dhuafa mengapresiasi seluruh mitra yang telah berkolaborasi untuk pemulihan Sumatra. Dukungan, kepedulian, dan kerja sama yang terjalin bukan hanya membantu memulihkan kondisi fisik pascabencana, tetapi juga menghadirkan kelegaan dan harapan bagi masyarakat terdampak. Semoga setiap ikhtiar dan kebaikan yang diberikan menjadi amal jariah serta menguatkan langkah untuk terus saling menolong di tengah berbagai ujian. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Anndini Dwi Putri
Penyunting: Ronna