Hidupkan Lentera Iduladha di Rumah Zahroh Bersama Dompet Dhuafa

Woman in a conical hat stands among greenery, holding a woven basket in a fruit grove with mountains in the background.

SITUBONDO, JAWA TIMUR — Tahun 2024 lalu, Halimatuzahroh bahkan tidak pernah tahu berapa harga sekilo beras atau bagaimana cara mengayuh sepeda ke pasar desa. Sebab, ia adalah seorang istri yang sepenuhnya dilindungi dan “diratukan” oleh suaminya. Namun, sebuah kemalangan memaksa perempuan “penakut” dari ujung timur Situbondo ini bertarung sendirian menjadi kepala keluarga, mengarit rumput di bawah bayang-bayang senja demi mimpi besar sang buah hati.

Kehidupan Zahroh berubah total sejak tahun lalu. Sang suami yang biasa menjadi tulang punggung keluarga meninggal dunia secara mendadak akibat muntaber parah. Belum kering air mata dan tepat setelah 100 hari kepergian suaminya, sang ayah menyusul berpulang. Dua pilar pelindung dalam hidupnya runtuh dalam waktu yang berdekatan, memaksa Zahroh pulang kembali ke rumah ibunya di Dusun Merak, Desa Sumberwaru, Situbondo.

“Awalnya ditinggal ya itu, saya enggak bisa kerja. Enggak bisa naik sepeda ke desa,” kenang Zahroh dengan tawa getir.

“Saya memang dimanja dulunya, enggak pernah belanja-belanja, apa-apa suami yang belanja. Sekarang harus mandiri karena situasi,” lanjutnya.

Dari seorang istri yang selalu dilindungi, kini Zahroh harus bertransformasi menjadi ibu sekaligus ayah bagi anak bungsunya, Ica, yang berusia 11 tahun. Demi menyambung hidup, ia melakoni pekerjaan apa saja. Ia menjadi buruh tani tanaman milik orang lain dengan upah Rp40.000 untuk setengah hari kerja bahkan harus membawa bekal makan sendiri dari rumah.

Saat sore menjelang, ia harus mengarit rumput sendiri untuk kambing-kambing peliharaannya. Semua keahlian pengairan dan perawatan sawah yang dulu dipegang suaminya, kini harus ia pelajari sendiri secara otodidak.

“Kalau ngeleb (mengairi sawah) ya ngeleb sendiri, ngobat (menyemprot hama) ya ngobat sendiri. Enggak mau nyuruh orang,” ujarnya tegap.

Baca juga: Tembus Pelosok Situbondo, Bahagianya Warga Dusun Merak Sambut Tebar Hewan Kurban

Person harvesting fruit from a tree in a sunlit orchard, wearing a colorful headscarf and patterned clothing on a blue sky day.

Semua kerja keras ini ia lakukan demi satu tujuan, yakni memenuhi impian Ica yang bercita-cita ingin melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren. Berbeda dengan anak pertamanya yang kini tinggal di Banyuwangi, si bungsu memiliki tekad yang kuat dari keinginannya sendiri.

“Walau enggak ada Bapaknya, anaknya semangat banget mau mondok. Jadi, saya ya harus semangat,” ucapnya dengan mata berbinar.

Dusun Merak memiliki dinamika yang menantang. Terletak di balik jalur hutan yang sulit diakses di Kawasan Taman Nasional, wilayah ini baru beberapa tahun belakangan merasakan aliran listrik. Sebelum itu, warga harus mengandalkan mesin diesel penyuplai daya atau menggunakan lampu minyak strongking untuk menerangi malam. Pasang surut angin laut pun sering kali membuat pasokan pangan dan sayuran dari luar dusun tersendat.

Sebagian besar warga di sini bekerja sebagai petani dan pengembala ternak. Namun ironisnya, hewan ternak yang bertebaran di Dusun Merak mayoritas milik orang luar yang dititipkan. Karena kondisi ekonomi warga yang pas-pasan, momen Iduladha sering kali berlalu begitu saja tanpa ada hewan yang disembelih.

“Pernah enggak ada (kurban), sering deh. Enggak mesti ada,” cerita Zahroh.

Bilapun ada kurban lokal di masjid, dagingnya sering kali tidak cukup untuk didistribusikan merata hingga ke rumah Zahroh yang terletak di ujung dusun.

Bagi keluarga Zahroh, menu makanan sehari-hari didominasi oleh tahu, tempe, atau ikan laut, jika musim tangkap sedang bagus. Daging sapi atau kambing adalah kemewahan yang sangat jarang mereka nikmati. Oleh karena itu, kehadiran Program Tebar Hewan Kurban dari Dompet Dhuafa menjadi oase di tengah keringnya perayaan Hari Raya di dusun tersebut.

A small, shaded porch area of a rustic building with a tiled roof and blue-green walls, surrounded by trees and a tire swing hanging from a tree branch

White rural house with a corrugated metal roof; clothesline across the yard with colorful clothes drying, tall grass in front.

Zahroh bercerita dengan antusias bagaimana kehadiran listrik berpadu indah dengan melimpahnya pasokan kurban tahun ini. Bila dahulu daging kurban yang didapat harus langsung dihabiskan seluruhnya karena takut membusuk, kini ia bisa menyimpannya di kulkas kecil miliknya untuk lauk beberapa hari ke depan.

“Dikit-dikit (makannya), nanti besok-besok lagi itu ditaruh di kulkas. Sekarang enak. Secukupnya saja diolah, sisanya taruh di kulkas,” katanya bersyukur.

Daging kurban tersebut rencananya akan dimasak kecap atau rawon, hidangan spesial yang akan menemani hari-hari kebersamaannya dengan sang ibu dan anaknya.

Baca juga: Tak Terhalang Medan Terjal, Dompet Dhuafa dan Masjid Jenderal Sudirman Hadirkan Kurban ke Dusun Merak Situbondo

Bagi Zahroh, kedatangan para relawan yang membawa amanah kurban dari tempat jauh seperti Surabaya dan Jakarta bukan sekadar pembagian makanan gratis. Ini adalah pesan moral yang kuat bahwa ia dan keluarganya tidak pernah berjalan sendirian di sudut Situbondo ini.

Sambil melihat daging kurban yang didapatkan, dengan senyum tulus yang mengembang bebas, Zahroh menitipkan pesan mendalam untuk para donatur.

“Alhamdulillah, saya bisa makan daging sama keluarga di sini, di Hari Raya Iduladha ini. Terima kasih masyarakat sini sudah senang ada Dompet Dhuafa ke sini. Semoga tahun depan bisa ke sini lagi,” ungkap Zahroh.

Kurban tahun ini mungkin telah usai ditunaikan, namun bagi Zahroh, pasokan energi baik dari para donatur telah berhasil menghidupkan kembali “lentera” di rumahnya sebuah lentera harapan untuk terus tegap berjuang, berkebun, mengarit rumput, dan mengantarkan sang buah hati menjemput mimpinya di pondok pesantren. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Roseta
Penyunting: Dhika