Jalur Langit ala Islam Slimani: Cetak Gol dan Hadiahkan Seluruh Hadiah Untuk Warga Gaza

Algerian soccer players celebrate with a golden trophy, wearing white uniforms and green sashes, as confetti falls and fans cheer.

Piala Dunia 2026 menyapa dunia. Bagi miliaran pasang mata, ini adalah panggung drama di mana teknik olah bola, strategi taktik, dan adu fisik menjadi pusat perhatian. Namun, di balik hingar-bingar lampu stadion dan angka-angka statistik, terdapat sebuah “pertandingan” lain yang jauh lebih substansial dalam sebuah kompetisi untuk meraih keberkahan melalui aksi kemanusiaan.

Di tengah gemerlap karier para atlet sepakbola profesional, kita menemukan sosok-sosok yang sadar bahwa prestasi di lapangan hijau hanyalah titipan. Salah satunya adalah Islam Slimani, penyerang tajam asal Aljazair yang kisahnya tidak hanya berhenti di catatan gol, melainkan melampaui batas lapangan hingga ke medan-medan kemanusiaan yang membutuhkan.

Nama Islam Slimani telah diukir dengan tinta emas dalam buku sejarah sepak bola Afrika. Dengan raihan 18 gol di babak kualifikasi Piala Dunia, Slimani kini berdiri sejajar dengan legenda-legenda besar seperti Didier Drogba dan Samuel Eto’o. Ketajamannya makin terbukti saat ia mengunci kemenangan Aljazair atas Somalia dengan skor 3-1 pada match day pertama kualifikasi Piala Dunia FIFA 26 bagi Les Fennecs.

Pada perhelatan Piala Dunia 2014 sebelumnya, Islam Slimani dan seluruh rekan setimnya mengambil keputusan yang mengguncang dunia: mereka mendonasikan seluruh uang hadiah (prize money) yang mereka peroleh kepada masyarakat di Gaza. Saat ditanya mengenai motivasi di balik keputusan besar tersebut, Slimani menjawab dengan kalimat yang menghujam sanubari: “mereka lebih membutuhkan daripada kami”.

Pernyataan ini bukan sekadar kata-kata manis. Ia adalah manifestasi dari konsep zakat profesi dan sedekah, di mana seorang atlet dengan kesadaran penuh mengalihkan harta yang ia terima sebagai bentuk kepedulian terhadap saudara yang menderita.

Islam Slimani

Dunia sepak bola sering kali disuguhi berita-berita tentang sengketa bonus, perselisihan gaji, atau aksi boikot pemain yang menuntut kenaikan bayaran di tengah turnamen besar. Namun, skuad tim nasional Aljazair pernah memberikan tamparan halus bagi dunia dengan menunjukkan wajah Islam yang sesungguhnya.

Slimani adalah contoh dari atlet Muslim yang mengintegrasikan nilai religiusitas dalam napas kariernya. Baginya, setiap gol yang tercipta bukanlah murni hasil kerja keras pribadi, melainkan sebuah bentuk amanah yang menuntut pertanggungjawaban sosial.

Kisah Slimani adalah pengingat bagi kita semua tentang hak orang lain yang memiliki amanah dalam harta kita. Dalam perspektif Islam, setiap penghasilan profesional termasuk gaji dan bonus atlet memiliki kewajiban zakat apabila telah mencapai nisab. Namun, seperti yang dicontohkan Slimani, ada tingkatan yang lebih tinggi yakni bersedekah secara sukarela untuk misi kemanusiaan.

Piala Dunia 2026 adalah momentum bagi kita untuk melihat sepak bola dengan kacamata yang berbeda. Bukan lagi sekadar tentang siapa yang mengangkat trofi, melainkan tentang bagaimana kita berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat).

Pada akhirnya, rekor gol akan selalu bisa dipatahkan oleh pemain lain di masa depan. Namun, kebaikan yang disalurkan melalui sedekah dan zakat adalah investasi abadi yang tidak akan pernah pudar nilainya di sisi Allah.

Jadikan gairah sepak bola tahun ini sebagai awal dari keberkahan bagi sesama. Karena di setiap keberhasilan yang kita raih, ada hak orang lain yang menanti untuk ditunaikan. Mari berkontribusi sekarang, dan biarkan “gol” kebaikan Anda dirasakan oleh mereka yang membutuhkan melalui https://digital.dompetdhuafa.org/donasi/bestianyatim. (Dompet Dhuafa)

Teks: Roseta
Penyunting: Dhika