Lahir dari Pemberdayaan, Kartini Ini Kini Memberdayakan

Siti Hapsoh dengan produk Stik Rengat buatannya.

JAWA BARAT — Hari Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April bukan hanya tentang mengenang sosok Raden Ajeng Kartini semata, tetapi juga menjadi momen refleksi atas jejak perjuangan perempuan masa kini. Bagaimana mereka bertahan, berkembang, bahkan menjadi penggerak perubahan di lingkungannya. Di tengah tantangan ekonomi dan sosial, tak sedikit perempuan bangkit dari keterbatasan menjadi pilar pemberdayaan. Salah satunya adalah Siti Hapsoh (44), Kartini masa kini dari Bogor.

Perjalanan Hapsoh bermula dari dapur rumahnya. Single parent itu ingin tetap mandiri dan produktif, meski harus membesarkan anak-anaknya sendiri. Sejak tahun 2018, ia memulai usaha jajanan ringan berupa stik bawang kemasan. Namun seperti banyak usaha kecil lainnya, awalnya penuh keterbatasan, modal kecil, minim pengetahuan pemasaran, dan belum memahami manajemen usaha yang baik.

Akan tetapi sejak bertemu dengan Zona Madina Dompet Dhuafa, arah hidupnya berubah. Saat itu, Dompet Dhuafa tengah menggencarkan program pemberdayaan ekonomi bagi ibu-ibu di sekitar wilayah Parung, Bogor. Hapsoh yang datang dengan rasa pesimis, diterima dengan tangan terbuka. Ia menemukan bukan hanya akses pelatihan dan pendampingan, tetapi juga ekosistem kolaboratif yang membesarkan.

Baca juga: Hari Zakat Nasional dan Hari Kartini, Ajang Unjuk Gigi Para Perempuan Pahlawan Zakat

“Awal mulai di tahun 2018. Pilih produk stik bawang untuk usaha. Tapi banyak return produk karena sistem belum jelas. Alhamdulillah tim Zona Madina bantu evaluasi. Sekarang semuanya lebih tersistem, pengiriman perminggu, dan produk sudah masuk ke rumah makan dan tempat wisata,” kenangnya.

Siti Hapsoh dengan produk Stik Rengat buatannya.
Siti Hapsoh dengan produk Stik Rengat buatannya

Berkat proses itu, Stik Rengat, produk andalannya, kini dikenal luas. Ia bahkan bisa memproduksi hingga 25 kilogram setiap pekan dan mulai membuka peluang kerja bagi tetangga-tetangga di sekitarnya.

Keberhasilan itu tidak membuat Hapsoh puas sendiri. Ia justru melihat bahwa pemberdayaan sejati adalah ketika seseorang mampu menginspirasi yang lain. Dari sanalah semangatnya tumbuh, dan keyakinan pun datang. Ia kemudian dipercaya menjadi Ketua Rumah Kemasan Rumah UMKM Zona Madina, memimpin lebih dari 60 perempuan lain, yang juga tengah membangun usaha mikro mereka.

Sebagai ketua, Hapsoh tidak hanya mengatur administrasi dan distribusi produk. Ia menjadi penguat moral, pendamping semangat, sekaligus mentor bagi para perempuan lainnya. Di Rumah UMKM Zona Madina Dompet Dhuafa, ia menginisiasi sesi-sesi belajar informal, berbagi pengalaman tentang produksi, pengemasan, hingga membangun kepercayaan diri anggota yang merasa minder dengan keterbatasan mereka.

“Banyak ibu-ibu yang awalnya malu dan takut memulai usaha. Tapi di Rumah UMKM ini, kita saling dorong. Kita saling bantu. Saya bilang ke mereka, jangan takut gagal, yang penting mulai dulu,” ujar Hapsoh penuh keyakinan.

Baca juga: Darwina, Kartini Masa Kini Penggerak UMKM #JadiManfaat

Peranannya bukan hanya sebagai pengusaha rumahan, tetapi sebagai pemimpin komunitas perempuan. Ia adalah gambaran nyata bahwa perempuan bukan sekadar penerima manfaat, melainkan subjek aktif pembangunan sosial. Sementara Rumah UMKM menjadi ruang aman dan produktif bagi para perempuan untuk bertumbuh bersama, baik fisik, mental, maupun spiritual.

Kisah Hapsoh adalah satu dari banyak cerita tentang bagaimana filantropi Islam yang diimplementasikan secara strategis mampu melahirkan kemandirian, bukan ketergantungan. Melalui pendekatan yang mengedepankan pendampingan, pelatihan, akses permodalan, hingga digitalisasi usaha, Dompet Dhuafa membuktikan bahwa pemberdayaan perempuan bukan hanya angan-angan, tapi menjadi kerja nyata.

Siti Hapsoh dengan produk Stik Rengat buatannya.
Siti Hapsoh dengan produk Stik Rengat buatannya

Perempuan seperti Hapsoh kini tak hanya mencukupi kebutuhan keluarga, tetapi juga mengangkat harkat hidup orang lain. Ia adalah pemimpin yang lahir dari pemberdayaan, dan kini menjadi pemberdaya. Nilai-nilai seperti ini sejalan dengan semangat Kartini: bahwa perempuan berhak bermimpi, tumbuh, dan memimpin.

Lebih dari itu, Hapsoh membuktikan bahwa integritas perempuan tidak dibentuk oleh gelar atau status, tapi oleh kesungguhan, konsistensi, dan kemauan untuk terus belajar dan berbagi. Dalam ekosistem pemberdayaan Dompet Dhuafa, integritas inilah yang terus dibangun agar setiap perempuan memiliki nilai, daya, dan arah dalam hidupnya.

Baca juga: Sosok Kartini dari Pedalaman Hutan Tanaman Industri

Peringatan Hari Kartini tahun ini membawa pesan mendalam bahwa di tengah kesederhanaan dan keterbatasan, ada banyak perempuan yang diam-diam menjadi penggerak perubahan. Seperti Hapsoh, yang bukan hanya bangkit dari kesulitan, tetapi bangkit dalam semangat kebersamaaan.

Melalui Rumah UMKM Zona Madina, Dompet Dhuafa tidak hanya mendistribusikan bantuan. Ia menanamkan visi dan nilai. Dompet Dhuafa mencetak para Kartini baru yang berpijak di bumi, tapi punya cita setinggi langit.

Dan selama semangat itu terus hidup, selama filantropi berjalan seiring pemberdayaan, maka akan selalu ada perempuan-perempuan yang menyalakan terang bagi sekitarnya. Sebab, seperti kata ibu kita Kartini: Habis Gelap, Terbitlah Terang. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Riza Muthohar
Penyunting: Dhika