Menembus Bitorik, Negeri yang Sudah Sangat Lama Merindukan Perayaan Kurban

MALUKU — Di balik riuh kota metropolitan, di balik bangunan beton yang sibuk dan suara peluit kendaraan yang tiada henti, aku menemukan satu tempat yang sunyi nan hening. Tempat yang nyaris tak terjamah zaman, terletak jauh di timur Pulau Seram, Maluku. Negeri itu bernama Bitorik. Tak ada yang menyangka, bahwa di balik gelombang laut dan jalanan rusak, ada masyarakat yang begitu kuat, begitu ramah, dan begitu besar penantian akan harapan. Perjalananku dari Jakarta ke sana bukanlah perjalanan biasa. Ini adalah misi. Misi membawa semangat berbagi ke sebuah tempat yang selama 26 tahun tidak pernah merayakan Iduladha dengan penyembelihan hewan kurban.

Perjalanan panjangku dimulai dari Kota Ambon, ditemani oleh pasangan muda inspiratif bernama Farhan dan Mutia, yang dikenal dengan nama “Sejauh Angin”. Dari pelabuhan, kami menyebrang laut menuju Pelabuhan Amahai, Masohi, lalu melanjutkan perjalanan darat selama dua hari penuh. Tak kami duga, salah satu jembatan utama dalam rute ke sana telah putus. Kami harus berhenti, berpindah kendaraan, lalu mencari jalur alternatif. Setiap kilometer terasa seperti ujian, namun semangat tak boleh padam. Karena kami yakin, di ujung perjalanan ini, ada harapan yang menanti.

Jembatan satu-satunya akses menuju Negeri Manggis runtuh.
Jembatan satu satunya akses menuju Negeri Manggis runtuh
Dari Negeri Manggis menuju Negeri Bitorik dapat dilalui menggunakan perahu.
Dari Negeri Manggis menuju Negeri Bitorik dapat dilalui menggunakan perahu

Tiba di Negeri Manggis, perjalanan masih harus dilanjutkan dengan perahu kecil menyusuri perairan dengan gelombang yang cukup tinggi. Naik turun air laut seolah tanda sebuah keriangan alam menyambut harapan. Saat perahu menyentuh bibir pantai Bitorik, aku dikejutkan oleh sambutan yang begitu hangat. Masyarakat menyambut kami dengan tarian adat, simbol-simbol budaya, dan senyuman tulus yang bermekaran. Di balik kesederhanaan, aku melihat ada rasa hormat dan cinta yang begitu besar.

Kami bermalam di rumah salah satu warga. Malam itu, aku tidur beralaskan tikar diselimuti udara laut yang lembab. Tapi hatiku hangat, karena aku tahu, aku sedang berada di tengah keluarga dengan hati yang besar, yaitu masyarakat Bitorik.

Di desa ini, aku tak melihat adanya warung, apalagi pasar. Seakan tidak ada aktivitas ekonomi sama sekali. Jika warga membutuhkan sesuatu, sebotol minyak misalnya, atau selembar kain, hingga sebatang sabun, mereka harus menyeberang ke desa lain. Sumber pangan utama mereka adalah laut dan kebun. Sagu pun menjadi makanan pokok sehari-hari mereka bersama ikan-ikan hasil tangkapan.

Baca juga: Tebar Hewan Kurban 1446 H Sasar Penyintas Erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki di Flores Timur

Warga Bitorik membantu melabuhkan perahu.
Warga Bitorik membantu melabuhkan perahu
Warga Bitorik menyambut dengan berbagai pertunjukan adat.
Warga Bitorik menyambut dengan berbagai pertunjukan adat
Warga Bitorik sedang menjemur sagu.
Warga Bitorik sedang menjemur sagu
Warga Bitorik menganyam daun sagu sebagai atap rumah.
Warga Bitorik menganyam daun sagu sebagai atap rumah

Saat berjalan-jalan berkeliling, kami melihat para pria menenun atap rumah dari daun sagu, sementara para wanita menjemur sagu di depan rumah. Langkah kami terhenti di sebuah rumah kecil, hingga bertemu Siti Hajar Rumadaul, seorang janda berusia 72 tahun yang tinggal bersama dua cucunya. Kakinya sakit, ia tidak bisa bekerja. Untuk makan saja, ia menunggu tetangga memberinya sagu. Kadang, jika beruntung, ia memakannya dengan pisang agar ada sedikit rasa manis, atau dengan air kelapa. Kami duduk bersamanya di beranda rumah yang sederhana sambil mendengarkan ceritanya yang penuh haru dan makna.

“Saya tidak bekerja. Kaki saya sakit, tidak bisa banyak bergerak. Menunggu saja ada orang yang pulang dari hutan memberi sagu. Di belakang rumah ada pohon pisang. Kadang kami makan sagu dengan air dan buah pisang, biar ada rasa manis,” terangnya.

Tak berselang lama, kami diajaknya ke ruang dapur dengan suguhan sagu dan kelapa muda. Saat kami menyampaikan kabar bahwa seekor sapi kurban akan datang ke Bitorik, wajahnya berubah. Dari datar menjadi haru, dari teduh menjadi bersinar.

Farhan dan Mutia berbincang dengan Siti Hajar Rumadaul di depan rumahnya.
Farhan dan Mutia berbincang dengan Siti Hajar Rumadaul di depan rumahnya
Farhan dan Mutia menikmati sagu dan air kelapa di dapur rumah Siti Hajar Rumadaul.
Farhan dan Mutia menikmati sagu dan air kelapa di dapur rumah Siti Hajar Rumadaul

Muhammad Yasin Kesuy, tokoh masyarakat Bitorik, mengatakan bahwa terakhir kali ada pemotongan hewan kurban sudah 26 tahun yang lalu. Itu pun satu kambing hasil patungan untuk dinikmati semua orang se-Bitorik.

“Terakhir kali ada kurban di sini, 26 tahun lalu. Itu pun kambing patungan,” ucapnya.

Sejak saat itu, di Bitorik, setiap momen Iduladha hanya dirayakan dengan salat Id. Tanpa daging. Tanpa perayaan. Tanpa makna sosial yang mengikat umat. Alasan tak ada kurban di Bitorik karena dua hal. Pertama, karena kondisi ekonomi masyarakat. Kedua, karena memang tak ada sapi di sana.

“Kami sangat ingin seperti orang-orang di sana yang merayakan Iduladha dengan menyembelih hewan kurban. Tapi mau gimana lagi. Di sini tidak ada yang mampu berkurban. Hewannya pun tak ada. Jadi biasanya setelah salat Iduladha, ya masyarakat langsung kembali ke rumah masing-masing. Karena sudah tidak ada perayaan lain,” jelasnya.

Namun tahun ini mungkin akan berbeda. Dengan dukungan dari para donatur, Dompet Dhuafa berencana akan mengirimkan beberapa ekor sapi kurban ke Bitorik tahun ini. Hewan kurban akan didatangkan dari daerah-daerah sekitar menggunakan perahu milik warga. Aku pun mulai membayangkan, bagaimana seekor sapi dapat membahagiakan 70 keluarga di Bitorik.

Baca juga: Proses Panjang Quality Control dari Bajawa hingga Flores Timur Demi Tebar Hewan Kurban Berkualitas

Raun, wadah yang akan digunakan untuk mendistribusikan daging kurban.
Raun wadah yang akan digunakan untuk mendistribusikan daging kurban
Proses QC sapi-sapi kurban di Negeri Kobisonta untuk nanti diantar ke Negeri Bitorik.
Proses QC sapi sapi kurban di Negeri Kobisonta untuk nanti diantar ke Negeri Bitorik

Antusias mereka semakin berlanjut. Masyarakat bahkan mulai membuat “Raun”, wadah dari daun sagu yang nanti akan menjadi tempat pembagian daging kurban. Mereka membuatnya dengan telaten, satu per satu, seperti merajut harapan. Karena bagi mereka, kurban ini nanti bukan sekadar makanan, tapi juga sebuah penghormatan. Pun Raun, wadah ini sebagai bentuk pemuliaan mereka terhadap daging-daging kurban yang mereka dapatkan.

Dari Bitorik, kami kemudian bertolak ke Negeri Kobisonta, kembali melewati laut dan daratan yang penuh liku. Di sana, kami mencari sapi terbaik untuk nantinya dibawa ke Bitorik. Kami memastikan bahwa hewan yang dipilih benar-benar sehat, layak, dan mampu menjadi simbol kurban yang penuh makna. Proses Quality Control (QC) kami lakukan sebagaimana standar yang ditetapkan pada Program Tebar Hewan Kurban (THK) Dompet Dhuafa.

Perjalanan berisi harapan yang penuh makna ini membuatku semakin bersemangat untuk mensukseskan program THK Dompet Dhuafa. Aku mengajak sahabat baik sekalian untuk menjadi bagian dari kisah ini. Mari bersama-sama menjalankan ibadah kurban untuk Bitorik melalui Dompet Dhuafa. Karena satu kurban, mampu menyalakan senyum mereka yang telah lama menanti harapan. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Riza Muthohar
Penyunting: Dhika