KROASIA – Osijek -kota terbesar ke-4 di Kroasia, mungkin belum terlalu familiar bagi banyak orang. Kota ini ternyata menyimpan lapisan sejarah yang luar biasa, terutama terkait kehadiran Muslim. Jujur saja, saya tidak menyangka akan menemukan kisah yang begitu kaya dan berliku di sini.
Keberadaan kaum muslim di Osijek sudah tercatat sejak lama, bahkan sebelum era Ottoman. Berdasarkan Piagam Raja Emeric tahun 1196, sudah ada Ismailit -komunitas Muslim pertama, yang tinggal di Osijek sebagai pedagang. Piagam ini adalah catatan tertua tentang nama kota dan keberadaan penduduk Osijek, sebuah bukti nyata bahwa daerah ini sudah menjadi persimpangan budaya dan perdagangan sejak lama.
Kehadiran Sultan Suleiman al-Qanuni (Suleiman the Magnificent) dan pasukannya pada 1526 setelah kemenangan penting dalam Pertempuran Mohacs, yang sangat melemahkan Kerajaan Hungaria, membuka jalan bagi dominasi Ottoman di Eropa Tengah dan mengubah wajah Osijek. Saya membayangkan hiruk pikuk pembangunan Jembatan Suleiman di atas Sungai Drava, sebuah mahakarya yang membentang lebih dari enam kilometer. Memikirkannya saja sudah membuat saya takjub—tak heran jika dulu orang menyebutnya “keajaiban dunia.” Jembatan ini, yang berulang kali hancur dan dibangun kembali, adalah saksi bisu betapa strategisnya Osijek di mata Kesultanan Ottoman.
Saat berada di lokasi pembangunan Islamic Center Osijek, imajinasi saya melayang akan megahnya Masjid Kasim Pasha yang dibangun pada 1558 pasti memancarkan aura spiritual yang kuat. Tak hanya itu, ada juga Masjid Mustafa Pasha, dibangun 1569, yang saya yakin bahwa keduanya tak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tapi juga pusat ilmu dengan adanya madrasah di sana. Berdasarkan studi historiografi lokal Osijek setidaknya ada enam masjid yang berdiri tegak di kota ini sebelum kekuasaan Ottoman berakhir pada 1687. Pasti suasana kota saat itu sangat berbeda, penuh dengan gema adzan dan aktivitas keagamaan.
Setelah periode yang panjang tanpa kehadiran Muslim yang terorganisir, sebuah babak baru dimulai di awal abad ke-20. Pada akhir 1927, Komunitas Muslim Osijek didirikan. Hal ini menjadikan mereka sebagai komunitas Muslim tertua kedua di Kroasia. Mereka membentuk kepengurusan dari Zagreb yang berjarak 280 km dari Osijek. Para pengurus yang mayoritas bermigrasi dari Bosnia dan Herzegovina datang ke Osijek untuk mencari nafkah, dan kemudian berjuang membangun kembali komunitas mereka.
Saat berada di Masjid Osijek, saya merasakan juga bagaimana perasaan gembira jamaah saat membuka ruang shalat pertama pada 1936, dipimpin oleh Imam Husein ef. Jahić, ketika hanya ada sekitar 500 Muslim di Osijek. Sebenarnya ada upaya untuk membangun masjid pada masa Perang Dunia II, bahkan peletakan batu pertama pun sempat dilakukan pada 1942—sebuah momen penuh harapan. Sayangnya belum terwujud saat itu. Baru pada tahun 1978, sebuah rumah berukuran 70 m2 di Zagrebačka 35, dibuka sebagai masjid dan tetap masih digunakan hingga kini. Sungguh sangat mengharukan mendengar kisah tentang pengumpulan dana untuk masjid yang tak kunjung dibangun kala itu, sebuah bukti betapa kuatnya keinginan mereka. Imam Enes ef. Poljić, yang memimpin komunitas selama hampir empat dekade hingga 2018, pasti meninggalkan jejak yang mendalam bagi mereka.
Menggapai Impian: Islamic Center Osijek Masa Depan
Saat ini, komunitas Muslim di Osijek semakin beragam, mencakup sekitar 3.000 Muslim di wilayah sekitar Osijek saja. Mereka adalah penduduk asli Kroasia, atau berlatar belakang dari Albania, Bosnia, Herzegovina, Serbia, Arab, Turki—semuanya menyatu dalam mozaik budaya Osijek. Ruang shalat mereka saat ini, sudah menjadi rumah tua yang sudah tidak lagi memadai. Saya bisa merasakan betapa mereka merindukan tempat yang lebih layak.
Baca juga: Wamenlu Anis Matta Kagumi Zona Madina sebagai Dampak Positif Pengelolaan Ziswaf
Ada semangat sejak awal tahun 2000-an. Saya merasa bangga melihat bagaimana muslim di Osijek gigih mencari solusi, hingga akhirnya berhasil membeli tanah di daerah Jug 2, dekat pemakaman Muslim. Sebuah perjalanan panjang yang pada tahun 2015, akhirnya izin bangunan untuk Islamic Center di Osijek berhasil didapatkan dari pemerintah kota.
Saat melihat maket dan deskripsi arsitek Davor Mateković, yang menggambarkan proyek ini sebagai “kota kecil,” saya bisa merasakan visi yang besar di baliknya. Bukan hanya masjid, tapi sebuah pusat spiritual, budaya, pendidikan, dan kemanusiaan seluas lebih dari 900 m2. Ini adalah impian yang diwariskan dari generasi ke generasi di Osijek. Saya bertekad untuk menjadi bagian dari momen ketika pintu Islamic Center itu terbuka, dan jemaah pertama kali melangkah masuk untuk salat di Masjid Istiqlal. Nama yang juga terinspirasi dari Masjid di Kota Sarajevo yang mulai dibangun oleh Indonesia tahun 1995 sebagai simbol persahabatan Indonesia dan Bosnia Herzegovina. Kelak, Masjid Istiqlal di Islamic Center Osijek bukan hanya bangunan fisik, tapi juga manifestasi amanah yang telah lama dinantikan, buah persaudaraan Indonesia dan Kroasia. (Dompet Dhuafa)
Teks : Prima Hadi Putra
Foto : KBRI Zagreb

