JAKARTA — Tradisi kurban identik dengan kisah keluarga Nabi Ibrahim. Konon amalan ini juga dilakukan sekitar 33 abad sebelumnya, pada masa Nabi Adam (oleh kedua putranya). Kurban mungkin merupakan ritual tertua yang pernah dilakukan manusia hingga saat ini dan selalu berulang setiap tahunnya melalui perayaan Iduladha (Lebaran Kurban).
Secara etimologi, kurban atau qurban (qaraba-qariba-yuqaribu-qurbanan-qaribun) berasal dari bahasa Arab (قربان) yang dalam terjemahan bahasa Indonesia artinya dekat atau mendekatkan. Pun terdengar familiar dengan kata akrab juga kerabat, bukan? Agama Samawi meyakini bahwa ritual kurban bermakna pengorbanan, hadiah, kerelaan, keikhlasan, kesabaran, serta persembahan, untuk mendekatkan, bukti ketakwaan, dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kasih dan Maha Penyayang.


Penyembelihan hewan ternak yang sehat (domba, kambing, unta, sapi, atau lembu) adalah cara pelaksanaan ritual kurban—dalam kepercayaan Islam—yang dianjurkan setelah peristiwa Nabi Ibrahim. Tapi pernahkah bertanya, mengapa? Apa arti dari hewan/domba ini bagi Nabi Ibrahim?
Domba tersebut menggantikan putranya yang pada awalnya akan dikorbankan sebagai persembahan kepada Tuhan, sebagai bentuk ketaatan pada perintah-Nya. Darah dan daging yang sangat ia cintai, Nabi Ibrahim persembahkan kepada-Nya, termasuk segala keinginan duniawinya, dan ia masuk ke dalam stasiun penyerahan diri yang sempurna, aslam (terjemahan bahasa Arab: berserah). Namun, sesaat sebelum Nabi Ibrahim menggoreskan pisau ke tubuh anaknya, Tuhan memintanya untuk mengambil domba yang berada di dekatnya sebagai kurban persembahan.
Baca juga: Inilah Sejarah Kurban dan Alasan Mengapa Kita Diperintahkan Berkurban



Di Indonesia, praktik kurban tertanam sebagai tradisi dengan keragaman budayanya. Ritual ini juga menjadi momen penting di Hari Iduladha, yang dirayakan setiap bulan Zulhijah dalam kalender Hijriah. Masyarakat merawat hewan ternak, menyembelih, memotong, dan membagikan dagingnya kepada yang berhak dan membutuhkan. Menjadikan kurban sebagai salah satu sarana interaksi antarmanusia dan Sang Pencipta.
Ya, di Indonesia, upaya ini juga menjadi tantangan yang dilakukan meski berada di wilayah kepulauan. Menjadikan kurban sebagai salah satu sarana interaksi sosial antarmanusia hingga menjamah pulau ke pulau. Sengaruh itu perjalanan daging hasil sembelihan hewan kurban.



Beberapa hikmah berkurban bagi yang mampu dapat disimpulkan, antara lain:
- Sebagai ekspresi rasa syukur kita kepada Allah Swt, sesuai firman Allah: “Supaya mereka menyebut nama Allah atas apa yang Allah karuniakan kepada mereka berupa binatang ternak…” (Al-Hajj : 34)
- Sebagai bukti bahwasanya seorang hamba bertakwa pada Tuhan-Nya: “Daging-daging kurban dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridaan Allah, tetapi ketakwaanmu lah yang dapat mencapainya…” (Al-Hajj : 37)
- Diakui sebagai umat Rasulullah Saw, sesuai sabdanya: “Barangsiapa yang mempunyai keluasan harta dan tidak mau berkurban, maka janganlah mendekati tempat salat kami!” (HR Ahmad, Ibn Majah, Al-Hakim, Ad Daruquthni dan Al Baihaqi)
- Ibadah kurban memiliki pahala yang besar: “Pada setiap lembar bulunya itu memperoleh satu kebaikan.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah)



Baca juga: Potong Hewan Kurban di Tengah Minoritas Islam
Menurut Jumhur Ulama, hukum berkurban adalah sunah muakadah (utama). Hal ini sesuai sabda Rasulullah Saw:
“Aku diperintahkan (diwajibkan) untuk menyembelih kurban, sedang kurban itu bagi kamu adalah sunah.”
(HR Tirmidzi)
“Telah diwajibkan atasku (Nabi Muhammad Saw) kurban dan ia tidak wajib atas kalian.”
(HR Daruquthni)
Kurban juga dapat menjadi wajib bila seseorang bernazar.
“Barangsiapa yang bernadzar untuk ketaatan kepada Allah, maka hendaklah ia melaksanakannya. Barangsiapa yang bernadzar untuk kemaksiatan kepada Allah, maka janganlah ia melaksanakannya.”
(HR Bukhari, Abu Dawud, dan Tirmidzi)
“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.”
(Al-Hajj: 36)



Dalam terjemahan bahasa Arab, kata Idul berarti perayaan dan Adha berarti penyembelihan. Maka seharusnya, Iduladha memiliki tempat tersendiri bagi pengalaman spiritual kita akan sayatan makna ritual kurban yang (sesungguhnya) tersusun dari hulu hingga hilir, berputar setiap alurnya, dan berulang setiap tahunnya. Wallahu ‘alam. (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Dhika Prabowo
Penyunting: Dedi Fadlil

