Muslim di Jepang Terus Bertumbuh, Sugimoto Sensei Ajak Masyarakat Indonesia Perkuat Dakwah Melalui Pembangunan Masjid di Chiba

Large diverse group posing for a group photo in an ornate hall, many attendees raising one finger in a gesture of unity.

BOGOR — Sekitar 400 jemaah memadati Masjid Darussalam Kota Wisata Cibubur dalam Safari Dakwah bersama Dr Hajj Kyoichiro Sugimoto PhD, Ketua Chiba Islamic Cultural Center (CICC), Jepang. Kegiatan yang diselenggarakan Dompet Dhuafa ini menjadi ruang berbagi tentang perkembangan Islam di Jepang sekaligus mengajak masyarakat Indonesia berperan dalam memperkuat dakwah melalui pembangunan Masjid Al-Muttaqin di Chiba, Jepang.

Didampingi sang istri, Sugimoto Sensei membagikan pengalaman hidupnya sebagai mualaf sekaligus perjalanan dakwah yang telah dijalaninya selama lebih dari dua dekade. Sejak memeluk Islam pada 1997, ia mendedikasikan dirinya untuk mengenalkan Islam kepada masyarakat Jepang melalui pendekatan yang santun, dialog yang terbuka, dan pendidikan.

Hingga saat ini, Sugimoto Sensei telah menyelenggarakan sekitar 6.000 kelas Islam, lebih dari 100 kegiatan dakwah, mengunjungi 45 prefektur di Jepang, membimbing sekitar 280 orang mengucapkan syahadat, serta mendistribusikan 40.000 Al-Qur’an terjemahan bahasa Jepang agar masyarakat lebih mudah memahami ajaran Islam. Seluruh ikhtiar tersebut dilakukan agar masyarakat Jepang dapat mengenal Islam secara benar dan terbuka.

Open Japanese book with extensive yellow highlights and many colored sticky tabs, held by a person in a blue patterned outfit.

Dalam kajiannya, Sugimoto Sensei menjelaskan bahwa sebagian besar masyarakat Jepang belum mengenal Islam. Sekitar 63,3 persen masyarakat Jepang mengaku tidak beragama, sementara jumlah Muslim diperkirakan baru sekitar 0,3 persen dari total populasi. Kondisi tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan bagi perkembangan dakwah di Negeri Sakura.

“Muslim di Jepang adalah minoritas. Sebanyak 99,7 persen penduduk Jepang bukan Muslim, hanya sekitar 0,3 persen yang beragama Islam. Karena itu, kami membutuhkan tempat untuk beribadah, belajar, berdakwah, dan membina para mualaf,” ujar Sugimoto Sensei.

Menurutnya, tantangan dakwah di Jepang tidak berhenti ketika seseorang mengucapkan syahadat. Banyak mualaf masih membutuhkan pendampingan, pendidikan agama, serta lingkungan yang dapat membantu mereka bertumbuh sebagai Muslim. Masjid bukan hanya tempat salat. Masjid adalah pusat pendidikan, pembinaan, dakwah, dan tempat membangun komunitas. Di sanalah para mualaf mendapatkan teman, guru, dan keluarga baru dalam Islam.

Baca juga: Cerita Haji dan Rahasia Istiqomah di Negeri Sakura ala Sensei Sugimoto

Crowded auditorium with women wearing hijabs watching a panel discussion on stage in a marble-walled hall.

Sugimoto Sensei juga membagikan kisah perjalanan spiritualnya. Sebelum memutuskan menjadi Muslim, ia mengaku menghabiskan waktu membaca Al-Qur’an dalam bahasa Jepang dan mencari jawaban atas berbagai pertanyaan yang muncul dalam dirinya.

“Saya membaca Al-Qur’an dalam bahasa Jepang berkali-kali. Saya memiliki banyak pertanyaan. Setelah mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, akhirnya saya memutuskan mengucapkan syahadat,” tuturnya.

Melihat kebutuhan umat Islam di Jepang yang terus berkembang, Dompet Dhuafa bersama Rumuuichi dan berbagai mitra di Indonesia menginisiasi pembangunan Masjid Al-Muttaqin di Chiba. Masjid ini dirancang tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi Islamic Cultural Center yang berfungsi sebagai pusat dakwah, pendidikan Islam, pembinaan mualaf, dan ruang dialog antara masyarakat Muslim dan nonmuslim.

Panel discussion on stage with four speakers in front of an audience of women wearing headscarves; two speakers hold microphones and converse on stage.

Direktur Resources Mobilization Dompet Dhuafa, Etika Setiawanti, mengatakan bahwa antusiasme jemaah dalam Safari Dakwah menjadi bukti besarnya kepedulian masyarakat Indonesia terhadap saudara-saudara Muslim di Jepang.

“Alhamdulillah sekitar 400 jemaah hadir dan sangat antusias mendengarkan perkembangan Islam di Jepang. Mereka juga mengetahui bahwa para mualaf di sana masih sangat membutuhkan fasilitas ibadah. Karena itu, Dompet Dhuafa bersama Rumuuichi dan berbagai lembaga di Indonesia menginisiasi pembangunan Masjid Al-Muttaqin di Chiba. Kami berharap masjid ini menjadi Islamic Cultural Center yang menghadirkan manfaat, menjadi rumah yang aman bagi umat Islam, sekaligus ruang pertukaran budaya antara masyarakat Jepang dan Indonesia,” ujarnya.

Dalam rangkaian kegiatannya, ada pula sesi serah terima donasi dari jemaah masjid Darussalam dan dukungan untuk kolaborasi ini akan terus dibuka sampai tiga bulan ke depan. Bendahara Umum Yayasan Darussalam Kota Wisata (YDKW), Budi Kristiyana, yang mengapresiasi kolaborasi antara Masjid Darussalam dan Dompet Dhuafa.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Dompet Dhuafa atas kerja sama dalam dakwah dan pembangunan masjid di Jepang. Semoga kolaborasi ini dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat bagi keberlangsungan umat Islam, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di berbagai belahan dunia,” ucap Budi.

Four adults in a hallway conversation; two men wearing traditional caps and long-sleeve shirts, two women in hijabs listening to the discussion.

Baca juga: Bakar Semangat Siswa SMART Ekselensia, Sensei Sugimoto: Ayo Berdakwah Hingga Mancanegara dan Berani Lihat Indonesia dari Luar

Bagi para peserta, Safari Dakwah ini menghadirkan perspektif baru mengenai dakwah di negara minoritas Muslim. Salah seorang jemaah, saudari Happy, mengaku mendapatkan pelajaran berharga dari kisah Sugimoto Sensei.

“Saya mendapatkan banyak ilmu tentang bagaimana berdakwah kepada masyarakat Jepang. Yang paling penting adalah kita harus menjadi Muslim yang baik, menjaga ibadah, dan menunjukkan akhlak yang baik. Dari situlah Islam dapat dikenal dengan benar,” tutur Happy.

Menutup safari dakwahnya, Sugimoto Sensei menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada masyarakat Indonesia yang telah mendukung perkembangan Islam di Jepang dan terus mengajak untuk mendukung gerakan kebaikan ini untuk saudara-saudara Muslim di Chiba.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada rakyat Indonesia, para donatur, dan seluruh mitra Dompet Dhuafa yang telah mendukung pembangunan Masjid Al-Muttaqin di Chiba. Saya berharap masjid ini menjadi pusat ibadah, dakwah, pendidikan, dan tempat berkumpulnya masyarakat. Semoga Allah menerima setiap sedekah dan memberikan balasan yang terbaik,” kata Sugimoto.

Smiling woman in a dark patterned hijab seated among a diverse audience of Muslim women.

Digital display promoting collaboration to build a mosque, featuring the slogan ‘MARI BERKOLABORASI’ and a QR code with logos and a building image.

Safari Dakwah di Masjid Darussalam Kota Wisata Cibubur menjadi pengingat bahwa perjuangan dakwah tidak mengenal batas negara. Kehadiran sebuah masjid dapat menjadi tempat lahirnya harapan, pusat pembinaan mualaf, sekaligus jembatan yang memperkenalkan Islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam.

Masyarakat Indonesia memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari ikhtiar tersebut. Setiap dukungan yang diberikan akan menjadi manfaat yang terus mengalir, menghadirkan tempat ibadah sekaligus membuka jalan bagi masyarakat Jepang untuk mengenal Islam.

Mari bersama menghadirkan harapan bagi saudara-saudara Muslim di Jepang. Karena bisa jadi, dari setiap langkah kebaikan yang kita titipkan hari ini, akan lahir lebih banyak senyum, lebih banyak mualaf yang terbina, dan lebih banyak hati yang menemukan cahaya Islam melalui Masjid Al-Muttaqin Chiba. (Dompet Dhuafa)

Teks: Elfi
Foto: Elfi, Dilla
Penyunting: Dhika