BEKASI, JAWA BARAT — Islamic Bilingual School (IBS) Al Ikhlas menyerahkan donasi senilai Rp60 juta untuk para penyintas bencana banjir bandang dan longsor di Pulau Sumatra. Donasi tersebut disalurkan melalui Dompet Dhuafa, Rabu (17/12/2025), di Masjid Al Ikhlas, Pondok Melati, Bekasi.
Kegiatan bertajuk “Al-Ikhlas Care for Sumatera” ini merupakan inisiasi dari sekolah IBS Al Ikhlas untuk membantu para penyintas bencana di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Kumpulan dana donasi tersebut berasal dari uluran tangan para guru dan tenaga pendidik, siswa, serta orang tua siswa.
“Karena kita bagian dari saudara masyarakat yang ada di Indonesia, maka kita harus memiliki empati. Salah satu caranya dengan hari ini kita melakukan pengumpulan donasi for Sumatera,” ujar Direktur IBS Al Ikhlas, Herdin Nurdin dalam sambutannya.
“Mudah-mudahan sedikit yang kita berikan paling tidak bisa sedikit memberi keringanan bagi saudara-saudara kita di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat,” sambungnya.



Baca juga: One Heart for Palestina, Rangkaian Karya Siswa IBS Al Ikhlas Peduli Palestina
Sebelum puncak penyerahan donasi, rangkaian pertama dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh dua orang siswa dari IBS Al Ikhlas. Setelah itu, berlanjut dengan unjuk kreativitas oleh para siswa, mulai dari membaca puisi hingga aksi pertunjukkan drama edukatif tentang pemeliharaan lingkungan.
Dalam acara tersebut, para siswa yang terdiri dari SD (4,5,6) serta SMP (7,8,9) juga turut berdonasi langsung untuk para penyintas bencana di Sumatra. Mereka dengan antusias memasukkan selembar uang ke dalam kantong amal diiringi dengan penampilan marawis para siswa SD IBS Al Ikhlas.


Tak hanya untuk menggalang donasi, acara ini juga menghadirkan Influencer asal Aceh, Sherly Annavita Rahmi, yang membagikan cerita kepada para guru dan siswa tentang kondisi para penyintas bencana di Sumatra, khususnya di Aceh.
“Setelah tiga minggu terjadi (bencana Sumatra) untuk mendapatkan makanan, utamanya beras saja masih sangat sulit. Lima terdampak paling parah adalah Aceh Tengah Takengon, Aceh Utara, Gayo Lues, Aceh Tamiang. Maka untuk mengakses empat dari lima wilayah itu masih harus menggunakan udara alias helikopter, pesawat yang otomatis jumlah bantuan yang masuk tentu sangat terbatas,” ujar Sherly.
Sherly juga menjelaskan, bantuan yang sulit masuk juga disebabkan keterbatasan Starlink (layanan internet satelit) di Aceh, khususnya Gayo Lues.
“Starlink itu sangat terbatas disana, baru hari ke-10 dan ke-11 Starlink itu baru masuk, itu juga 10 titik di Gayo Lues. Gayo Lues itu ibaratnya satu kabupaten, empat jalur untuk masuk ke Gayo Lues jalur utamanya (jembatan) itu hancur. Bayangkan betapa bantuan itu sangat sulit masuk,” ungkap Sherly.
“Kalaupun sudah masuk via udara, maka untuk mendistribusikan ke desa-desanya itu sangat sulit,” sambungnya.
Menutup cerita, Sherly berharap, penanganan bencana Sumatra bisa dilakukan secara cepat, tepat, dan masif. Khususnya, pada pembangunan infrastruktur yang harus difokuskan oleh para pemangku kebijakan.
Baca juga: IBS Al-Ikhlas Belajar dari SMART Ekselensia: Membangun Sekolah Unggul Berbasis Zakat

Di sisi lain, Manager Penghimpunan Retail Dompet Dhuafa, Yudha Andilla mengatakan kolaborasi ini dapat menjadi inspirasi bagi siswa dan siswi, serta semua masyarakat tentang berbagi kebahagiaan di tengah kesulitan.
“Kolaborasi ini juga sebagai penguatan semangat dan support kemanusiaan, Terima kasih kepada manajemen sekolah IBS Al-Ikhlas, Ka Sherly Annavita Rahmi serta semua bagian yang terlibat dalam kolaborasi ini,” pungkasnya.


Sahabat, kondisi Sumatera pascabencana masih sangat sulit. Para penyintas bencana sangat memerlukan banyak bantuan pokok seperti makanan, baju, perlengkapan bayi dan lansia, serta masih banyak lagi.
Untuk itu, Dompet Dhuafa terus berkomitmen mengajak seluruh masyarakat Indonesia agar bersatu memulihkan Sumatera dengan berdonasi melalui digital.dompetdhuafa.org/donasi/bangkitsumatera. Bersama Dompet Dhuafa Indonesia Siap Siaga bencana. (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Moh Reynaldi Risahondua
Penyunting: Dhika

