Penerima Beasiswa ETOS ID, Raden Achmad Zildhan: Aku Ingin Jadi Sarjana Pertama di Keluarga

Raden Achmad Zildhan Frans Bestand (tengah) penerima manfaat beasiswa ETOS ID, Mahasiswa Sistem Informasi Tahun Ketiga UIN Jakarta, Selasa (20/01/2026).

TANGERANG SELATAN — Tidak ada yang istimewa dari jaket coklat muda bergaya kasual dengan kerah lipat dan beberapa saku di bagian depan yang dipakai oleh Raden Achmad Zildhan Frans Bestand. Ukurannya cukup pas di badannya dan terlihat logo lembaga berwarna hijau di dada sebelah kanannya. Tapi, bagi lelaki yang akrab disapa Zildhan itu, jaket tersebut sudah menghidupkan kembali harapan besar dan impiannya.

“Seandainya aku nggak menerima beasiswa ETOS ID, mungkin aku akan putus kuliah,” ucapnya dengan sengau saat ditemui di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa (20/01/2026).

Mahasiswa tahun ketiga itu adalah anak tunggal dari pasangan Sutarni dan Ahmad Irfan Frans Bistan. Ibunya seorang dasawisma dan ayahnya bekerja serabutan. Mereka tinggal di bilangan Jakarta Barat. Namun, saat ini, kata Zildhan, mereka masih menumpang di rumah keluarga. Meski tidak punya privilese seperti kebanyakan anak muda seusianya, tapi Zhildan punya impian untuk melanjutkan studi meneruskan cita-cita ibunya.

“Aku pengin jadi sarjana pertama di keluarga,” tutur Zildhan.

“Dulu Papa nggak sempat menyelesaikan studi karena kondisi kesehatannya,” lanjutnya.

Sementara, Ibu Zildhan menyelesaikan pendidikan hanya sampai Program D2. Dahulu sang Ibu guru di pondok pesantren, dan belum berkesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana. Zildhan pun ingin meneruskan cita-cita Ibunya untuk menjadi seorang dosen, sekaligus praktisi pada bidang yang digelutinya.

Baca juga: Program Great Edunesia Raih Jangkauan Luas, Sentuh 77 Ribu Lebih Penerima Manfaat di Seluruh Indonesia, Ditopang Beasiswa ETOS ID Dompet Dhuafa

Raden Achmad Zildhan Frans Bestand penerima manfaat beasiswa ETOS ID, Mahasiswa Sistem Informasi Tahun Ketiga UIN Jakarta, Selasa (20/01/2026).
Raden Achmad Zildhan Frans Bestand penerima manfaat beasiswa ETOS ID Mahasiswa Sistem Informasi Tahun Ketiga UIN Jakarta Selasa 20012026

Quality Assurance Dibimbing.id itu sangat senang ketika mengetahui dirinya diterima pada Program Studi Sistem Informasi di UIN Jakarta pada 2023 lalu. Namun, kebahagiaan itu tiba-tiba berubah menjadi kebimbangan karena Zildhan mendapatkan golongan Uang Kuliah Tunggal (UKT) tertinggi pada jurusannya yakni sebesar Rp7.961.000 per semester.

“Aku bingung saat itu, karena kondisi orang tua nggak punya back up-an, tabungan atau dana darurat itu nggak punya. Waktu itu pinjam ke kampung untuk bayar UKT karena sifatnya mepet,” tuturnya.

Namun, beberapa minggu kemudian secercah harapan itu datang. Dompet Dhuafa melalui GREAT Edunesia meluncurkan program beasiswa ETOS ID. Informasi ini pun sampai di telinga Zildhan lewat broadcast di WhatsApp grup fakultasnya.

“Kebetulan itu hari terakhir, aku coba daftar, alhamdulillah keterima,” ungkap Awardee ETOS ID itu.

Raden Achmad Zildhan Frans Bestand penerima manfaat beasiswa ETOS ID, Mahasiswa Sistem Informasi Tahun Ketiga UIN Jakarta, Selasa (20/01/2026).
Raden Achmad Zildhan Frans Bestand penerima manfaat beasiswa ETOS ID Mahasiswa Sistem Informasi Tahun Ketiga UIN Jakarta Selasa 20012026
Raden Achmad Zildhan Frans Bestand penerima manfaat beasiswa ETOS ID, Mahasiswa Sistem Informasi Tahun Ketiga UIN Jakarta, Selasa (20/01/2026).
Raden Achmad Zildhan Frans Bestand penerima manfaat beasiswa ETOS ID Mahasiswa Sistem Informasi Tahun Ketiga UIN Jakarta Selasa 20012026

ETOS ID merupakan salah satu pilar program Dompet Dhuafa dalam bidang pendidikan yang ditujukan untuk kaum duafa di beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Beasiswa ini disediakan untuk mahasiswa semester I yang ingin melanjutkan pendidikan, tapi terkendala secara finansial.

Saat ini, ETOS ID telah menyasar sejumlah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di berbagai wilayah Indonesia, dengan jumlah mitra kampus bervariasi tergantung tahun, namun pada tahun 2023 mencakup sekitar 15 PTN seperti USU, Unand, Unila, Unhas, dan IPB, dan pada tahun 2025 dikonsolidasikan menjadi tujuh kampus mitra utama (Unila, Unsyiah, USU, Unmul, Unlam, UHO, Unram) untuk fokus pembinaan.

“Mereka (ETOS ID) ngasih program beasiswa nggak cuma UKT aja, nggak cuma uang saku aja, melainkan ada program bimbingan beasiswanya, ada program hard skill dan soft skill, ada fasilitatornya juga tempat kita curhat dan menumpahkan keluh kesah,” ungkap ex-Head of Product and Project Management LetStudy itu.

Selama menjadi Awardee ETOS ID, Zhildan menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas produktif. Ia pernah tergabung dalam gerakan Kuliah Tak Gentar (KTG) untuk memberikan pendampingan dan dukungan pendidikan kepada siswa kelas XII SMA/sederajat, mahasiswa semester 1–3, serta peserta gap year dari keluarga prasejahtera di seluruh Indonesia.

“Semester 2 aku udah join KTG dan ikut bantu-bantu pengurus,” katanya.

Saat ini, Zildhan tercatat sebagai mahasiswa berprestasi UIN Jakarta penerima penghargaan Student Achievement Awards (SAA) dalam kategori penerbitan karya kreatif.

“Selama kuliah alhamdulillah, penantian aku dua tahun untuk publish salah satu antologi sama teman-teman direalisasikan tahun ini. Alhamdulillah tahun ini aku mendapatkan SAA,” ujarnya.

Raden Achmad Zildhan Frans Bestand penerima manfaat beasiswa ETOS ID, Mahasiswa Sistem Informasi Tahun Ketiga UIN Jakarta, Selasa (20/01/2026).
Raden Achmad Zildhan Frans Bestand penerima manfaat beasiswa ETOS ID Mahasiswa Sistem Informasi Tahun Ketiga UIN Jakarta Selasa 20012026

Baca juga: Tampil Tunggal, Tegar Penerima Beasiswa ETOS ID Sabet Juara 2 di InspireX 2025

Zildhan tidak hanya mementingkan prestasi akademik, ia juga punya kepedulian pada lingkungan sosial dan sekitar. Lewat program Ruang Riang, ia ikut melakukan pendampingan literasi dan numerasi di salah satu RT di Kampung utan, Belakang kampus UIN Jakarta. Dua minggu sekali mereka turun untuk memberikan pendampingan sampai ada output berkelanjutan.

“Alhamdulillah kemarin udah launching, kita bikin Pojok Baca,” kata Zildhan.

Ia mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada semua donatur dan berbagai pihak yang turut mendukung pendidikannya dan semua anak bangsa di Indonesia. Zildhan berpesan kepada semua pemuda Indonesia untuk tetap semangat dan jangan pernah menyerah dengan keadaan.

“Tetap semangat, harus dicoba dulu, dan maksimalin usaha sepenuhnya,” tutup Zilhdan. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Aji Pangestu
Penyunting: Dhika