AMBON, MALUKU — Kegembiraan warga Pulau Buru membuncah jelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah. Meski waktu sudah larut malam, puluhan pasang mata tak ingin melewatkan momen yang sulit sekali ditemukan di desanya itu.
Anak-anak hingga orang dewasa berkumpul di halaman Balai Desa. Mereka dengan antusias menyaksikan kehadiran 50 ekor sapi yang dikirim oleh Dompet Dhuafa untuk persiapan Lebaran Kurban keesokan harinya.
Dengan tarikan kuat, petugas menuntun hewan-hewan tersebut turun dari sebuah truk menuju halaman Balai Desa. Warga pun menyambutnya dengan mengumandangkan takbir dan pawai obor.

Ya, menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah pada Selasa (26/05/2026), persiapan Program Tebar Hewan Kurban (THK) di Maluku disebut telah memasuki tahap akhir. Persiapan program tersebut bahkan telah mencapai lebih dari 90 persen menjelang hari pelaksanaan kurban.
Baca juga: Press Touring The Kurban Series 1447 H, Dompet Dhuafa Ajak Media Tinjau Kandang di Desa Tolokan
Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Maluku, Lajaenuri, mengatakan bahwa persiapan THK telah dilakukan sejak dua bulan sebelum Iduladha. Saat ini, tim di lapangan juga mulai mendistribusikan hewan kurban ke sejumlah masjid mitra yang bekerja sama dalam program tersebut.
“Persiapan kita sebenarnya dua bulan sebelum sudah dimulai untuk penyaluran THK. Sekarang kesiapan kita sudah di atas 90 persen,” ujar Lajaenuri saat diwawancarai.
Lebih lanjut, Lajaenuri menjelaskan bahwa program kurban tahun ini mencakup distribusi kurban nasional, THK lokal, hingga Program Kurban Ekspres yang bermitra dengan berbagai masjid di Maluku.

Hingga malam jelang Iduladha, jumlah hewan kurban yang akan Dompet Dhuafa distribusikan melalui Program THK dan Kurban Ekspres telah mencapai 45 ekor sapi atau setara dengan kurang lebih 300 doka (domba/kambing).
Adapun wilayah distribusi kurban tersebar di sejumlah daerah di Maluku, seperti Kota Tual, Kota Ambon, Maluku Tengah, Seram Bagian Barat, Seram Bagian Timur, Pulau Buru, hingga Buru Selatan.
Menurut Lajaenuri, distribusi hewan kurban paling banyak difokuskan ke wilayah Pulau Buru dan Maluku Tengah, karena tingginya kebutuhan masyarakat di wilayah tersebut. Sementara Kota Ambon menjadi salah satu titik utama Program Kurban Ekspres melalui kemitraan dengan masjid-masjid setempat.
Dalam proses persiapan, terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi, mulai dari kondisi sosial masyarakat, fluktuasi harga hewan kurban, hingga akses distribusi menuju wilayah terpencil di kawasan kepulauan Maluku.
“Tantangannya biasanya kondisi masyarakat setempat, kemudian harga hewan yang kadang tiba-tiba mahal dan tidak sesuai budget. Ada juga permintaan mitra di lokasi yang cukup jauh, sehingga sulit dijangkau,” jelasnya.
Baca juga: Setelah 26 Tahun Penantian, Begini Euforia Perayaan Kurban di Bitorik Maluku
Selain itu, kondisi ekonomi tahun ini turut memengaruhi jumlah pekurban dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, antusiasme masyarakat untuk berkurban dinilai masih tetap tinggi.
“Tahun ini mungkin kondisi ekonomi cukup berat bagi sebagian orang, jadi jumlah pekurban sedikit menurun dibanding tahun lalu. Tapi, antusias masyarakat masih sama,” katanya.

Ke depan, Program THK diharapkan dapat terus berkembang dan menjangkau lebih banyak penerima manfaat hingga ke pelosok negeri.
“Mudah-mudahan tahun depan lebih bagus lagi dan semakin banyak masyarakat yang berkurban melalui Dompet Dhuafa, sehingga manfaatnya bisa menjangkau seluruh pelosok negeri,” tutup Lajaenuri.
Meski menghadapi berbagai tantangan distribusi di wilayah kepulauan, Program THK di Maluku diharapkan dapat berjalan optimal melalui dukungan mitra lokal dan persiapan yang matang. Untuk itu, luaskan kebaikan kurbanmu melalui https://digital.dompetdhuafa.org/kurban. (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Nurul
Penyunting: Dhika

