Peta Geopolitik Jelang Kenabian Muhammad Saw

Dunia abad ke-6 dikuasai oleh beberapa kekuatan besar. Di Barat, berdiri kekaisaran Romawi. Romawi awalnya sebuah kerajaan yang berdiri di tahun 753 sebelum Masehi dengan Ibu Kota di Roma, Italia. Seribu tahun kemudian, Kaisar Konstantinus Agung memindahkan Ibu Kota itu ke Byzantium di tahun 330 M dengan alasan lebih strategis bagi pertahanan dan perdagangan. Kota itu pun diganti namanya menjadi Konstantinopel. Wilayahnya membentang dari Spanyol di ujung barat Eropa hingga Syam (Suriah, Lebanon, Palestina) di Asia Barat.

Perpindahan Ibu Kota ternyata berujung pada pecahnya Romawi menjadi Barat dan Timur. Romawi Barat kemudian runtuh karena serangan kerajaan-kerajaan lokal, sementara Romawi Timur justru berkembang dan makmur. Kekuasaan Romawi Timur membentang dari Yunani dan Balkan di Eropa tenggara hingga Syam dan Mesir.

Di sebelah timurnya, bangsa Persia mendirikan kekaisaran Sasania. Ardashir mendirikan kekaisaran ini di tahun 224 M setelah meruntuhkan kerajaan Parthia. Ibu kotanya di tepi sungai Tigris, 35 km sebelah tenggara Baghdad. Wilayahnya membentang dari Kaukasus (Armenia, Azerbaijan, Georgia, Dagestan) sampai Asia Tengah dan Selatan (Turkmenistan, Uzbekistan, Tajikistan, Afganistan, Pakistan).

Di Asia Timur, Kaisar Wen dari dinasti Sui berhasil menyatukan Cina yang terpecah-pecah selama tiga abad dan menjadikannya imperium besar di tahun 581 M. Wilayahnya membentang dari pesisir Pasifik hingga perbatasan Asia Tengah yang dikuasai Sasania.

Baca juga: 10 Peristiwa Agung dalam Sejarah Kenabian di Bulan Muharram

Ekonomi dunia saat itu dihubungkan oleh Jalur Sutra dari Cina di timur, melintasi Asia Tengah yang dikuasai Sasania, menuju Romawi Timur di perbatasan Eropa. Selain Jalur Sutra yang melintasi daratan, ada juga jalur rempah-rempah. Pusatnya di wilayah Nusantara (Sumatra, Jawa, sampai Maluku). Jalur perdagangannya melintasi Samudra sampai ke India dan Yaman. Dari India, rempah-rempah dibawa para pedagang ke Jalur Sutra Asia Tengah di Samarkand. Sementara dari Yaman, para pedagang Arab membawanya ke Romawi melalui Syam.

Romawi dan Sasania itu musuh bebuyutan. Mereka terjebak dalam konflik yang saling mengunci selama 400 tahun (tahun 224–628); perang yang disebut sebagai Perang Dunia Kuno karena melibatkan dua kekuatan dunia terbesar. Konflik itu bahkan sudah terjadi sejak tahun 92 SM saat Persia masih dikuasai Kekaisaran Parthia.

Romawi dan Sasania juga bersaing ketat untuk menguasai Jalur Sutra. Sasania sering memblokir atau mengenakan pajak tinggi barang-barang dari Asia Timur yang menuju Romawi. Perang kedua kekaisaran juga sering dibungkus dengan narasi agama. Romawi beragama resmi Kristen Ortodoks, sementara Sasania merupakan penganut Zoroaster yang menyembah api.

Puncak perang kedua imperium itu terjadi di awal abad ke-7 yang oleh para sejarawan disebut sebagai The Last Great War of Antiquity (Perang Besar Terakhir Zaman Kuno). Tahun 602 saat Romawi jatuh dalam konflik internal, Kaisar Sasania Koshrow II melakukan invasi besar-besaran. Pasukan Sasania berhasil merebut wilayah-wilayah terkaya Romawi seperti Syam dan Mesir. Pasukan Sasania bahkan membantai penduduk Yerussalem dan merampas Salib Suci Yesus, membawanya ke Ibu Kota Sasania di Ktesifon (dekat Baghdad).

Heraklius yang memenangkan perebutan kekuasaan di Konstantinopel meluncurkan serangan balik di tahun 626; membawa pasukannya menyeberangi Laut Hitam dan menyerang garis depan pasukan Sasania di Armenia, Azerbaijan, dan Iraq utara. Ia akhirnya berhasil menghancurkan kekuatan pasukan Sasania di tahun 627; memaksa keluarga Kerajaan Sasania menggulingkan Koshrow II dan memohon perdamaian.

Baca juga: Sejarah Nabi Nuh dan Relevansinya di Hari Ini

Pada tahun 628, perjanjian damai disepakati. Batas wilayah dikembalikan seperti sebelum perang dimulai. Dua puluh enam tahun perang itu keduanya kembali ke posisi nol. Kedua kekaisaran itu sama-sama hancur, kehilangan banyak uang dan tentara, dan memicu krisis ekonomi.

Saat Romawi dan Persia berperang sengit, Muhammad Saw menerima wahyu pertamanya di Makkah tahun 610. Dan dalam waktu 23 tahun, ia berhasil membangun peradaban baru di wilayah yang selama 2000 tahun tak pernah melahirkan peradaban besar seperti Romawi dan Persia.

Saat dua imperium dunia itu sedang kelelahan, tiba-tiba sebuah kekuatan baru dari gurun pasir Arab bangkit. Suku-suku yang sering berselisih itu tiba-tiba bersatu dan membangun peradaban alternatif. Kedua Kaisar itu tak menyadari bahwa masa kejayaan mereka akan segera berakhir dan digantikan oleh peradaban baru yang lahir dari tempat yang tak pernah mereka perkirakan. (Dompet Dhuafa)

Penulis: Fatchuri Rosidin
Penyunting: Dhika