Saat Sebagian Pergi, Dokter Rifa Menetap: Potret Relawan Medis di Hari ke-57 Pascabencana di Aceh

TAKENGON, ACEH TENGAH – Bagi kebanyakan orang, hari ke-57 pasca-bencana adalah waktu untuk pulang dan kembali ke rutinitas normal. Namun bagi dr. Rifa Karimah, kalender seolah berhenti sejak banjir bandang dan tanah longsor melumat tanah kelahirannya.

Sejak bergabung pada malam 23 Desember hingga senja di hari ke-57 ini, dokter muda kelahiran 1997 itu tak pernah benar-benar ‘pulang’. Baginya, luka Aceh belum mengering hanya karena genangan air sudah surut. “Masih jauh dari kata pulih,” gumamnya di sela debu lumpur kering yang mulai menyesakkan dada.

“Dari hari pertama kejadian, 26 November 2025, saya yang juga warga Takengon, sangat terkejut dan sedih sekali peristiwa ini terjadi di Aceh. Saya bisa bantu apa? Saya ingin mengabdikan ilmu medis ini untuk membantu masyarakat korban bencana. Tapi selama satu bulan pertama kejadian itu, akses di Takengon masih sulit dijangkau karena banyak titik yang terputus,” ungkap dr Rifa.

“Setelah itu, dapat kabar dari teman tentang pergerakan respons Dompet Dhuafa di Aceh Tengah, dan ternyata lagi butuh tenaga medis dokter untuk turun di lapangan. Akhirnya tanggal 23 Desember 2025 malam hari, pertama kalinya saya ikut layanan medis ke lokasi bencana di Desa Burlah, Ketol, bareng tim medis Dompet Dhuafa,” jelasnya lagi.

Baca juga: Akses Kesehatan Pascabencana Hari ke-57 Masih Sulit Dijangkau, Dompet Dhuafa di Aceh Tengah Jemput Bola Hadirkan Pos Medis

Pada Kamis (22/1/2026), dr. Rifa bersama tim medis Dompet Dhuafa menembus akses yang terputus menuju Dusun Wihlah Setie, Kecamatan Bintang. Di sana, ia tidak hanya membawa stetoskop, tapi juga membawa harapan bagi 52 warga, terutama lansia dan anak-anak yang kini akrab dengan ISPA dan trauma.

“Sering sakit kepala dan gatal-gatal sejak habis banjir ini. Lahan sawah kena banjir dan air di rumah kotor. Tapi alhamdulillah, tadi sudah periksa di Pos Medis dan dapat obat-obatan juga dari Dompet Dhuafa, ada dokternya. Jauh sekali ke puskesmas,” aku Kamaludin.

“Anak saya sedang demam, batuk, dan ada bintik-bintik merah dan gatal di bagian pipi dan lehernya. Akses jalan masih banyak sisa longsor, dan debu makin banyak juga,” aku Yurida.

Ironi bencana ini memang mengerikan. Data BNPB per 21 Januari 2026 mencatat angka yang menyayat hati: 1.200 nyawa melayang dan 143 orang masih hilang. Di balik angka-angka dingin itu, ada orang-orang seperti Kamaludin (65) yang kehilangan sawah dan kini didera pening kepala, atau Yurida (35) yang menggendong bayinya yang demam di tengah debu longsor yang kian pekat.

“Akses kesehatan masih lumpuh. Puskesmas rusak atau terlalu jauh untuk dijangkau. Kami harus jemput bola,” ujar alumni Universitas Abulyatama ini.

Bagi dr. Rifa, setiap pasien adalah cermin masa kecilnya. Dahulu, ia kerap mendampingi orang tuanya berobat dan terkagum pada sosok dokter yang tak hanya menyembuhkan fisik, tapi juga memberi ketenangan melalui empati. Kini, peran itu ia ambil sepenuhnya.

Baca juga: Susur Sungai Selama 3 Jam, Tim Medis LKC Rujuk Penyintas dari Pengungsian ke RSUD Tamiang

Dan di saat sirine ambulans lain mulai jarang terdengar dan kabar tentang bencana di Aceh mulai beralih, jubah putih dr. Rifa justru kian kusam terpapar sedimen. Ia membuktikan bahwa panggilan kemanusiaan bukanlah lari cepat, melainkan sebuah maraton panjang yang melelahkan, namun penuh arti.

Namun kenyataan di lapangan tak semudah yang ia kira. Selain akses jalan, tim medis respon bencana membuat Pos Medis dengan tempat seadanya atau di tenda-tenda. Pun peralatan medis secukupnya.

“Dari 13 kali gabung Dompet Dhuafa di lokasi bencana, saya teringat waktu di Desa Tebuk. Saat itu kami lakukan layanan medis jelang malam hari dan tiba-tiba hujan lebat. Anak-anak menangis, para penyintas ketakutan air sungai akan naik dan longsor lagi. Trauma itu masih ada, namun suasana pengungsian alhamdulillah kondusif kembali dan layanan medis berlanjut,” aku dr. Rifa, mengingat aksi malam yang masih mencekam.

Pada akhirnya, dr Rifa mengajarkan kita bahwa pemulihan pascabencana bukan hanya soal membangun kembali jembatan yang putus atau mengeruk lumpur dari jalanan. Pemulihan sejati adalah tentang kehadiran yang menetap saat semua orang mulai pergi. Di antara puing-puing Gampong yang masih gelap gulita, dedikasinya adalah cahaya kecil yang mengingatkan para penyintas: bahwa mereka tidak dibiarkan berjuang sendirian.

“Saya ingin mendedikasikan hidup saya untuk memberikan dampak yang sama, untuk menolong orang lain secara nyata,” dr Rifa, lugas.

Sahabat baik, kamu juga dapat mengambil peran dalam memperkuat solidaritas kemanusiaan bagi para penyintas banjir bandang di Sumatra. Donasi kamu akan membantu menyediakan berbagai kebutuhan hingga pemulihan jangka panjang. Salurkan bantuan terbaikmu melalui PRAY FOR SUMATERA. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Aryo, Dhika
Penyunting: Dedi Fadlil