Ranking Kedermawanan Indonesia Bergeser, Momentum Benahi Ekosistem Filantropi

Dalam publikasi artikelnya pada 11 Agustus 2025, Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) menuliskan bahwa selama tujuh tahun berturut-turut, Indonesia bangga banget jadi “juara dunia” dalam urusan kedermawanan menurut World Giving Index (WGI). Predikat itu seakan jadi bukti nyata kalau budaya gotong royong dan saling bantu masih kental banget di negeri ini. Tapi, laporan terbaru World Giving Report (WGR) 2025 bikin kaget juga: posisi Indonesia turun ke peringkat 21 dari 101 negara.

Sekilas, wajar kalau orang bertanya-tanya: apakah orang Indonesia jadi makin pelit? Atau kondisi ekonomi bikin orang enggan berbagi? Ternyata jawabannya nggak sesederhana itu. Faktanya, tradisi berbagi dan peduli sesama masih kuat. Bedanya, cara WGR 2025 menghitung sekarang lebih detail—nggak cuma seberapa sering kita memberi, tapi juga soal nilai donasinya, dampaknya, sampai bagaimana catatannya terdokumentasi.

Dari data, rata-rata donasi masyarakat Indonesia ada di angka 1,55 persen dari pendapatan tahunan. Angka ini memang lebih tinggi dibanding rata-rata global (1,04 persen), tapi masih jauh di bawah standar spiritual yang kita kenal: zakat 2,5 persen dalam Islam atau persembahan 10 persen dalam Kristen. Artinya, potensi kebaikan kita masih jauh lebih besar dari yang sudah kelihatan.

Baca juga: Bayangin Kalau Tunjangan Rumah Anggota DPR Jadi Rumah Sehat Gratis

Hal lain yang menarik, mayoritas donasi di Indonesia masih disalurkan lewat jalur informal. Sekitar 40 persen langsung ke orang atau keluarga, 24 persen ke masjid atau lembaga agama, dan cuma 36 persen lewat lembaga resmi. Survei IDEAS bahkan nunjukin, hampir 70 persen masyarakat lebih suka kasih langsung ke penerima manfaat atau rumah ibadah. Akibatnya, kebaikan besar ini banyak yang nggak tercatat di data internasional.

Nah, di sinilah sebenarnya letak tantangan sekaligus peluang. Turunnya ranking bukan berarti semangat berbagi kita melemah, justru jadi alarm penting buat berbenah. Yang perlu diperbaiki bukan niat orang untuk memberi, tapi ekosistemnya: gimana caranya biar donasi jadi lebih mudah, lebih dipercaya, dan dampaknya lebih terasa.

Kuncinya ada di kepercayaan. Data global nunjukin, negara yang masyarakatnya percaya sama lembaga filantropi, biasanya angka donasinya juga tinggi. Di Indonesia sendiri, survei IDEAS bilang 83 persen donatur informal sebenarnya mau banget pindah ke lembaga resmi asal ada transparansi dan akuntabilitas yang jelas.

Apa langkah konkret yang bisa dilakukan?
● Perkuat kapasitas lembaga filantropi. Pengelolaan dana harus makin profesional dan nyata manfaatnya.
● Permudah kanal donasi. Jangan bikin orang ribet kalau mau berbagi.
● Edukasi publik. Biar makin paham kalau donasi lewat lembaga resmi bisa kasih dampak lebih luas dan jangka panjang.
● Dukungan pemerintah. Aturan dan insentif yang bikin pencatatan donasi rapi tanpa menghilangkan nilai budaya gotong royong.

Pada akhirnya, semangat berbagi masyarakat Indonesia nggak pernah pudar. Ia cuma butuh wadah yang lebih kokoh. Dengan ekosistem filantropi yang transparan dan akuntabel, kebaikan orang Indonesia bakal lebih mudah terlihat, diakui, dan bener-bener kasih dampak nyata—baik di rumah sendiri maupun di panggung dunia. (Dompet Dhuafa)

Teks : Tira Mutiara (Peneliti IDEAS)
Penyunting : IDEAS, Dhika