KALEDONIA BARU — Suasana Idulfitri 1446 H di lingkungan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Noumea, Kaledonia Baru, terasa begitu hangat. Umat muslim dari berbagai latar belakang berkumpul dan merayakan hari kemenangan dengan penuh sukacita.
Di momen yang berkah ini, Dai Ambassador Dompet Dhuafa penugasan Kaledonia Baru, Ustaz Basyir Arif, berkesempatan menjadi khatib salat Id. Pada khotbahnya, Ustaz Basyir menekankan pentingnya memperkuat ukhuwuah islamiyah di tengah keberagaman masyarakat Kaledonia Baru.
Kepulauan ini memang memiliki keunikan tersendiri dalam hal masyarakatnya. Negara ini memiliki perpaduan budaya dan etnis yang beragam, mulai dari penduduk asli Kanak, keturunan Prancis, hingga keturunan Arab Magrebin dan Jawa Indonesia. Ini menjadi cerminan nyata kehidupan multikultural. Tak hanya itu, muslim dari Comoros dan Montenegro juga hadir dan aktif dalam komunitas Association des Musulmans de Nouvelle-Calédonie (AMNC).
Masyarakat muslim keturunan Indonesia juga memiliki berbagai organisasi yang menjadi wadah kebersamaan dan dakwah, seperti Persatuan Masyarakat Indonesia dan Keturunannya (PMIK), Persatuan Umat Islam Masyarakat Indonesia dan Keturunannya (PUIMIK), serta Association Dakwah et Social Indo-Calédonienne.
Baca juga: Dai Ambassador Bimbing WNA di Australia Ucap Syahadat, Peluk Islam karena Rasakan Damai
Islam dan Multikulturalisme: Piagam Madinah
Sejarah Islam mengajarkan bagaimana Nabi Saw membangun masyarakat yang harmonis di tengah perbedaan. Ketika beliau hijrah ke Yatsrib (Madinah), kota itu bukan hanya dihuni oleh kaum muslim, tetapi juga oleh Yahudi, Nasrani, dan penganut kepercayaan lain. Namun, dengan visi kepemimpinan yang luar biasa, Rasulullah menciptakan Piagam Madinah, sebuah kesepakatan yang menjamin kebebasan beragama dan hak hidup berdampingan dengan damai.
Konsep ini menjadi contoh bahwa keberagaman bukanlah penghalang untuk hidup harmonis. Sebaliknya, dengan rasa saling menghormati dan bekerja sama dalam kebaikan, masyarakat bisa tumbuh lebih kuat. Hal ini sangat relevan bagi umat muslim di Kaledonia Baru yang juga hidup di lingkungan yang beragam. Dengan meneladani kebijakan Nabi Saw dalam menjaga hubungan antarumat beragama, ukhuwah islamiyah bisa makin kokoh dan bermakna.

Menyatukan Umat di Tengah Keberagaman
Kisah Nabi Saw dalam menyatukan umat tak hanya terlihat dalam Piagam Madinah, tetapi juga dalam berbagai peristiwa lainnya. Salah satu yang menarik adalah ketika Makkah dilanda banjir besar dan Kakbah harus direnovasi. Saat tiba pada tahap pemasangan Hajar Aswad, para pemuka Quraisy berselisih mengenai siapa yang paling berhak meletakkannya kembali ke tempatnya.
Ketika situasi makin tegang dan hampir memicu konflik, Nabi Saw muncul dengan solusi cerdas. Beliau membentangkan sehelai kain, meletakkan Hajar Aswad di tengahnya, lalu meminta masing-masing suku untuk memegang ujung kain tersebut dan mengangkatnya bersama-sama. Dengan cara ini, semua merasa memiliki andil dalam kehormatan tersebut, dan perselisihan pun mereda.
Dari kisah itu, kita belajar bahwa persatuan bukanlah tentang siapa yang lebih berhak atau lebih unggul, melainkan tentang bagaimana setiap individu merasa memiliki peran dan tanggung jawab dalam sebuah kebersamaan. Prinsip inilah yang bisa diterapkan dalam kehidupan muslim di Kaledonia Baru. Dengan mengutamakan kebersamaan, bukan perbedaan, berbagai tantangan bisa dihadapi dengan lebih mudah.
Baca juga: Potret Kehidupan Umat Muslim Jawa di Kaledonia Baru: Lupa Bahasa Jawa, Mahir Bahasa Prancis
Pluralisme dan Tantangan Dakwah di Kaledonia Baru
Pluralisme bukan hanya soal hidup berdampingan, tetapi juga bagaimana kita bisa saling memahami dan menghargai satu sama lain tanpa kehilangan jati diri. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi muslim di Kaledonia Baru adalah kurangnya akses terhadap pendidikan Islam, yang membuat generasi muda mudah kehilangan pemahaman tentang agamanya. Banyak dari mereka yang akhirnya terpengaruh oleh budaya luar tanpa memiliki pegangan yang kuat terhadap ajaran Islam.
Untuk menjawab tantangan ini, dibutuhkan langkah-langkah nyata. Pembangunan masjid di berbagai lokasi, seperti di Kone, Poindimié, dan seberang pulau Lifou, bisa menjadi pusat kegiatan keagamaan sekaligus tempat berkumpulnya umat. Selain itu, ketersediaan pemakaman muslim yang layak juga penting agar komunitas bisa menjalankan tradisi pemakaman sesuai dengan ajaran Islam.
Tak kalah penting, pendidikan Islam harus diperkuat dengan mendirikan madrasah yang memberikan pemahaman mendalam kepada generasi muda, sehingga mereka tetap bangga dengan identitas keislamannya di tengah keberagaman budaya.
Keberagaman adalah anugerah, bukan tantangan yang harus dihindari. Dengan ukhuwah islamiyah yang kuat, umat muslim di Kaledonia Baru bisa menjadi bagian penting dalam menciptakan masyarakat yang damai, saling menghormati, dan penuh toleransi. Seperti yang dicontohkan Nabi Saw, persatuan selalu lebih kuat daripada perpecahan. Dengan bersatu, tidak ada tantangan yang terlalu besar untuk dihadapi. (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Dai Ambassador penugasan Kaledonia Baru, Ustaz Basyir Arif
Penyunting: Ronna

