ROIS OJK Bersama Dompet Dhuafa Tebar Hewan Kurban 30 Ekor Sapi di Nusa Tenggara Timur

Two smiling boys stand outside a wooden house, each holding a bag of fresh vegetables.

KUPANG, NUSA TENGGARA TIMUR — Semangat berbagi kebahagiaan Iduladha 1447 Hijriah kembali hadir di pelosok Nusa Tenggara Timur melalui kolaborasi ROIS OJK dan Dompet Dhuafa dalam Program Tebar Hewan Kurban 1447 H/2026. Sebanyak 30 ekor sapi didistribusikan kepada kurang lebih 2.700 penerima manfaat yang tersebar di Desa Manusak, Kabupaten Kupang, serta sejumlah desa di Kabupaten Timor Tengah Selatan, khususnya di Kecamatan Fautmolo dan Kecamatan Amanuban Timur.

Melalui program ini, amanah kurban dari para Insan OJK menjangkau masyarakat yang tinggal di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), daerah yang masih menghadapi berbagai keterbatasan akses dan layanan dasar.

White SUV stranded on a rocky riverbank at night, with two people nearby and headlights on; water and large boulders surround the scene.

Group of children and adults posing with a deceased pig in the back of a pickup truck in a rural area?

Perwakilan Partnership Dompet Dhuafa, M Kamil Zaidan, menyampaikan bahwa kolaborasi bersama ROIS OJK telah terjalin selama enam tahun terakhir dan terus menghadirkan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.

Alhamdulillahirabbil’alamin, pada momentum Tebar Hewan Kurban 2026, Dompet Dhuafa kembali dipercaya oleh ROIS OJK dalam menjalankan amanah kurban para Insan OJK. Kami mengapresiasi sebesar-besarnya karena kolaborasi ini bukanlah yang pertama, melainkan telah berjalan sejak tahun 2021 hingga 2026,” ujarnya.

“Selain penyaluran sapi di Nusa Tenggara Timur, Dompet Dhuafa bersama ROIS OJK juga mendistribusikan 47 ekor kambing di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Khusus di NTT, program kurban difokuskan pada wilayah-wilayah yang memiliki akses terbatas dan membutuhkan perhatian lebih,” tambahnya.

Man with glasses kneels in a meat market, handling a large raw cut of meat among other carcasses and bones in a cluttered workspace.

Baca juga: Semburat Senyum di Margomulyo: Sinergi Hangat Kurban Dompet Dhuafa Bersama ROIS OJK

Tim Dompet Dhuafa yang turun langsung ke lapangan menyaksikan berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat. Perjalanan dari Kota Kupang menuju wilayah Timor Tengah Selatan harus melewati sejumlah sungai tanpa jembatan, jalan yang rusak, serta kawasan yang mengalami keterbatasan air bersih.

“Kami menyaksikan sendiri bagaimana sulitnya akses menuju lokasi salah satu titik pemotongan, yaitu di Desa Bileon. Dari Kota Kupang menuju Timor Tengah Selatan, kami harus melewati empat sungai yang belum memiliki jembatan. Alhamdulillah saat itu sungai dalam kondisi kering, sehingga masih dapat dilalui. Selain itu, masyarakat juga menghadapi kesulitan mendapatkan air bersih dan keterbatasan akses untuk menjual hasil pertanian mereka,” jelasnya.

Menurutnya, program kurban tidak hanya menghadirkan manfaat berupa daging bagi masyarakat, tetapi juga memberikan dampak ekonomi melalui pemberdayaan peternak lokal.

“Pada momentum kurban ini, kami bersama ROIS OJK bukan hanya memberikan daging kurban kepada masyarakat, tetapi juga berupaya meningkatkan nilai ekonomi warga dengan membeli hewan kurban dari masyarakat setempat. Dengan demikian manfaat kurban tidak berhenti pada distribusi daging, tetapi juga menggerakkan perekonomian warga,” tambahnya.

Lebih dari itu, kurban menjadi sarana mempererat persaudaraan dan kepedulian sosial antara para pekurban dan masyarakat di daerah terpencil.

“Kami juga menyaksikan sendiri kehangatan masyarakat saat menerima daging kurban. Meskipun para pekurban berada jauh di luar Nusa Tenggara Timur, mereka tetap dapat berbagi kebahagiaan dengan saudara-saudara mereka di pelosok negeri,” katanya.

Woman wearing a gray headscarf stirs a large wok over an open fire outdoors, with people seated nearby under trees in the background.

Rows of raw meat cuts placed on banana leaves on a blue tarp, each with small white labeling cards nearby for display

Di Desa Manusak, Kecamatan Kupang Timur, kegiatan kurban dipusatkan di Musala Al Furqan. Tokoh masyarakat setempat, Muhammad Tohir atau yang dikenal sebagai Tito Dakosta, menjelaskan bahwa mayoritas umat Islam di desa tersebut berprofesi sebagai petani dan sebagian merupakan eks pengungsi dari Timor Leste yang menetap di wilayah tersebut sejak tahun 1999.

Menurutnya, perkembangan umat Islam di Desa Manusak berlangsung secara bertahap sejak tahun 2007. Saat pertama kali menetap, belum terdapat sarana ibadah bagi umat Islam. Namun, melalui dialog dan musyawarah dengan masyarakat setempat, umat Islam akhirnya dapat membangun musala dan menjalankan aktivitas keagamaan dengan damai, karena mengedepankan rasa toleransi, gotong royong, kebersamaan, dan persatuan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Tohir, semangat kebersamaan itu juga terlihat saat pelaksanaan kurban.

“Dalam kegiatan kurban ini kami tetap menjaga persatuan bersama saudara-saudara kami yang lain. Masyarakat sangat bahagia dan gembira atas pelaksanaan kurban di Desa Manusak. Kami mengucapkan terima kasih kepada ROIS OJK, Dompet Dhuafa, dan seluruh pekurban yang telah berbagi kebahagiaan dengan kami,” katanya.

Ia berharap seluruh amal ibadah kurban yang ditunaikan diterima oleh Allah Swt dan menjadi keberkahan bagi para pekurban.

Man carrying a large piece of meat on a wooden pole over his shoulder in a rural outdoor setting, as several onlookers stand nearby.

Man wearing a light blue traditional tunic and kufi cap sits on a wooden bench outdoors, smiling at the camera in a sunny garden setting.

Sementara itu, di Desa Bileon, Kecamatan Fautmolo, Timor Tengah Selatan, Pengurus Masjid Al-Munawarah Tuniun, yaitu Awaluddin Isu menceritakan perkembangan Islam di wilayah tersebut.

“Menurut sejarah yang kami terima dari para pendahulu, sekitar 13 ribu hingga 15 ribu warga masuk Islam tanpa paksaan. Tokoh utama saat itu adalah Gunawan Isu. Ketika beliau memeluk Islam, masyarakat juga mengikuti dengan kesadaran sendiri,” jelasnya.

Meski menjadi salah satu pusat perkembangan Islam di wilayah tersebut, akses menuju desa masih menjadi tantangan besar hingga saat ini.

“Untuk menuju ke sini harus melewati beberapa sungai yang belum memiliki jembatan. Kondisi jalannya juga masih sangat terbatas dan belum beraspal. Bahkan, satu kecamatan ini belum memiliki ruas jalan beraspal. Hal itu membuat aktivitas masyarakat menjadi cukup sulit,” katanya.

Mayoritas warga bekerja sebagai petani jagung dan tanaman pangan lainnya. Namun hasil pertanian umumnya hanya cukup untuk kebutuhan keluarga selama satu tahun karena tingginya biaya transportasi menuju pasar.

“Kadang ongkos angkut lebih mahal daripada harga hasil panen yang akan dijual. Karena itu sebagian besar masyarakat bertani hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga selama setahun,” ujarnya.

Baca juga: Upaya Dompet Dhuafa dan ROIS OJK Berdayakan Petani Lokal

Assortment of raw beef cuts arranged in round woven baskets on a table, each with a label reading 'The Kurban Series'.

“Bagi kami, kurban adalah pesta yang hadir setahun sekali. Kehadiran para pekurban membuat kami merasa tidak sendiri. Ada saudara-saudara kami di luar sana yang peduli kepada masyarakat di pedalaman,” ungkap Awaluddin.

Rasa syukur juga disampaikan Muhammad Orlando Soares (55), salah satu penerima manfaat di Desa Manusak. Petani yang sehari-hari menggarap sawah dan kebun itu mengaku sangat bahagia menerima daging kurban.

“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas bantuan daging kurban ini. Kami orang tani, hidup sederhana. Daging kurban ini akan dimasak dan dinikmati bersama keluarga,” ujarnya.

“Biasanya kami makan jagung dan umbi-umbian hasil kebun. Karena itu, ketika ada kurban seperti ini, kami sangat bersyukur. Kami mengajak keluarga untuk bersama-sama menikmati daging kurban,” katanya.

Soares pun menyampaikan doa khusus bagi para Insan OJK yang telah berkurban.

“Kami mendoakan semoga para pekurban selalu diberikan kesehatan, umur panjang, rezeki yang berkah, dan segala kebaikannya dibalas oleh Allah Swt,” tuturnya.

An elderly woman in a purple headscarf gathers leaves in a woven basket in a sunny rural garden.

Volunteer hands a gift basket to an elderly woman standing outside a wooden home; both smile at the camera.

Salah satu penerima manfaat di Desa Bila, Timor Tengah Selatan, yaitu Rudina Suwan (59) seorang mualaf yang memeluk Islam sejak tahun 1989. Rudina menjalani kehidupan sederhana. Sehari-hari, ia mengisi waktunya dengan berkebun dan menenun kain. Hasil kebunnya berupa pisang, ubi, jagung, tebu, dan kelapa. Sebagian hasil panen digunakan untuk konsumsi keluarga, sementara sisanya dijual di pasar atau kepada pembeli yang datang langsung ke rumah.

Namun, penghasilan yang diperoleh Rudina tak selalu bisa mencukupi. Untuk membeli kebutuhan sehari-hari seperti garam, sabun, gula, dan kebutuhan rumah tangga lainnya, ia terkadang harus berutang terlebih dahulu di kios dan membayarnya setelah hasil panen atau dagangannya terjual.

Dalam kesehariannya, makanan yang dikonsumsi sangat sederhana. Pagi hari biasanya ia memasak bubur, ubi, atau pisang. Siang hari, ia memasak nasi atau bose (jagung), makanan khas berbahan dasar jagung, dengan lauk sederhana seperti singkong atau jantung pisang. Daging ayam maupun sapi hanya bisa dinikmati pada momen-momen tertentu seperti pesta atau undangan keluarga.

Bagi Rudina, bantuan daging kurban yang diterima melalui Program Tebar Hewan Kurban (THK) Dompet Dhuafa menjadi kebahagiaan tersendiri. Daging kurban merupakan makanan yang jarang dapat ia nikmati dalam keseharian. Dengan penuh rasa syukur, daging tersebut diolah menjadi berbagai masakan untuk dikonsumsi selama hingga dua minggu. Sebagian daging juga diawetkan dengan cara dipanggang dan dijemur agar tahan lebih lama.

“Saya senang dapat daging kurban. Terima kasih, daging kurbannya bisa saya masak dan makan sampai dua minggu,” ungkap Rudina.

Baca juga: Solidaritas ROIS OJK Tebar Kebahagiaan Kurban Hingga Sumatera Utara dan NTT

Three women wearing hijabs stand outdoors, each holding a wooden tray with portions of raw meat on banana leaves.

Lebih dari sekedar pembagian daging, Program Tebar Hewan Kurban ROIS OJK bersama Dompet Dhuafa menghadirkan kebahagiaan dan harapan bagi masyarakat di pelosok negeri. Di tengah berbagai keterbatasan akses, kondisi ekonomi, dan tantangan kehidupan sehari-hari, kehadiran kurban menjadi bukti bahwa kepedulian dapat menjangkau hingga daerah-daerah yang jauh dari pusat kota.

Kurban yang ditunaikan oleh para Insan OJK menghadirkan kebahagiaan bagi saudara-saudara kita di pelosok negeri. Bagi banyak keluarga, daging kurban bukan sekadar hidangan istimewa, tetapi juga tanda bahwa mereka tidak sendiri. Senyum yang terukir, rasa syukur yang terucap, dan kebersamaan yang tercipta di hari raya menjadi bukti bahwa kepedulian dapat menjangkau siapa saja, melintasi jarak dan keadaan. (Dompet Dhuafa)

Teks: Elfi
Foto: Aryo, Elfi
Penyunting: Dhika