Satu Mushaf, Hidupkan Harapan Penyintas di Sumatra

JAKARTA —Alif lam mim, dzalikal kitaabu laa raiba fiihi hudal lil muttaqin, alladziina yu’minuuna bil ghaibi wa yuqiimuunas salaata wamimma razzaq nahum yunfiqun,” terdengar suara anak-anak mengaji, samar. Pelan, tapi suaranya pasti.

Dari kejauhan, terdengar suara anak-anak sedang mengaji, tapi bukan di Meunasah, melainkan di sisa puing-puing bangunan yang dulunya adalah balai pengajian tempat mereka mengaji.

Di tempat itu, ada sebuah batang pohon besar sisaan banjir dan longsor, mereka mengaji di sana. Namun, ada yang lebih memprihatinkan dari penampakan anak-anak mengaji, yakni Al-Qur’an—sebuah kitab suci sebagai pedoman hidup yang memuat segala sesuatu yang dibutuhkan umat manusia sepanjang zaman. Al-Qur’an tersebut adalah satu-satunya yang tersisa, ia seperti menjadi saksi amukan banjir dan longsor yang juga melewati Gampong Lampahan Timur, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah, Aceh.

Namun, seperti ada kekuatan. Dalam kondisinya yang nyaris terbawa hanyut, Al-Qur’an tersebut berhasil ditemukan di sisi luar Meunasah dengan kondisi yang penuh lumpur, dengan sampulnya sudah terlepas dan terbelah dua, tinta dalam Al-Qur’an tersebut beberapa sudah tak terbaca lagi, bagian depan dan belakang kertasnya robek. Al-Qur’an tersebut seperti menjadi satu-satunya kenangan yang tersisa.

“Al-Qur’an kita sudah hancur Zis karena terkena banjir, kita bagaimana besok-besok bulan Ramadan di sini, Zis?” tanya seorang anak bernama Daffa kepada temannya, Azis.

“Dulu, Kak, di sini ada balai, itu tempat pengajian juga, Kak, tapi sekarang balainya sudah hilang, dan anak-anak ngaji sudah di atas tuh di lantai dua Meunasah,” sambungnya.

Baca juga: Sedekah Al-Qur’an untuk Sumatra dan Nusantara, Dompet Dhuafa dan Gramedia Targetkan 30.000 Al-Qur’an

Meski demikian, Daffa dan Azis tetap semangat membaca Al-Qur’an dan mengaji. Suara-suara yang tadi samar terdengar namun pasti adalah seperti suara harapan yang melantunkan ayat suci dari satu-satunya Al-Qur’an yang tersisa.

Di samping balai pengajian yang sudah tidak ada wujudnya, ada sebuah Meunasah yang masih berdiri kukuh, dua lantai. Di temboknya tercium aroma cat, menandakan belum lama Meunasah itu dicat ulang setelah banjir dan longsor menerjang Gampong Lampahan Timur, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah, Aceh.

Berdiri kokoh Menasah Al Taqwa, yang selalu aktif ketika menjalankan salat lima waktu. Adalah Karim Harahap, seorang bilal di Meunasah Al Taqwa. Karim adalah orang yang menemukan Al-Qur’an yang telah terbawa arus cukup jauh dari Meunasah.

“Ya ini satu-satunya Al-Qur’an yang tersisa, habis semua alat salat dan sempat menyelamatkan beberapa lembar sajadah habis itu sudah air semakin naik ya nggak sempat lagi. Al-Qur’an ini dapatnya sudah di luar, kita sengaja keringkan biar kalau ada yang mau baca satu per satu mesti pelan-pelan lantaran masih banyak lengket, udah makan lumpur, bagian depannya udah hancur,” kata Karim

Karim juga menceritakan bagaimana ia mengumandangkan azan terakhir tepatnya sebelum banjir dan longsor datang. Sejak malam, Karim sudah memiliki firasat air akan meluap. Lantaran air yang mengalir berwarna hitam pekat dan mengeluarkan aroma tidak sedap. Biasanya tidak pernah begitu, namun malam itu tercium hingga ke dalam Meunasah.

Saat itu memasuki waktu Subuh pada tanggal 25 November 2025. Listrik sudah padam, dan alat komunikasi mulai terbatas. Karim mencoba menyelamatkan genset supaya bisa azan dan bisa digunakan di pengungsian, di tengah gelapnya dini hari dan juga ia seperti dikejar waktu lantaran air makin banyak menjelang subuh.

Baca juga: Salurkan Sedekah Al-Qur’an, Dompet Dhuafa Semai Bibit-Bibit Qur’ani di Bumi Sriwijaya

“Saya mau ngeluarin genset biar bisa azan, lampu gelap semua ketakutan, akhirnya saya keluarin sambil meraba-raba. Saya tarik, saya hidupin, terus azan. Iya itu azan terakhir waktu sebelum kejadian. Dalam hati saya pun memang sudah was-was, cuma dalam hati ‘ya Allah lindungilah aku selamatkanlah aku, aku menjalankan perintahmu’, langsung bapak azan,” ucap Karim.

Banjir dan lumpur datang makin besar, air bahkan hampir mencapai atap dan menyentuh lampu di lantai pertama. Sejumlah bangunan permanen seperti balai pengajian, kantor kepala desa, dan gudang hancur rata, sementara fasilitas Meunasah, termasuk tempat wudu dan toilet, juga terdampak.

Banjir akhirnya mulai surut setelah 48 jam, tepatnya pada 27 November 2025. Karim menjelaskan bahwa di tengah berbagai keterbatasan, proses pembersihan dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat bersama relawan. Tanpa bantuan alat berat, mereka bahu-membahu membersihkan lumpur dan puing yang tersisa.

“Al-Qur’an alhamdulillah namanya kitab itu selalu kita baca kalau Al-Qur’an berapa saja kita terima. Anak-anak memang banyak ada pengajian di sini. Al-Qur’an memang sudah itu imam kita panutan kita kalau ada donatur kasih Al-Qur’an kalau masyarakat membutuhkan Al-Qur’an saya kasih-kasih ke masyarakat,” pungkas Karim.

Semangat anak-anak mengaji di tengah keterbatasan Al-Qur’an dan keteguhan Karim menjadi bukti bahwa segala yang hancur tidak pernah benar-benar mampu memadamkan iman. Di Gampong Lampahan Timur, bencana mungkin meruntuhkan bangunan. Namun, ia tak mampu meruntuhkan keyakinan. Dalam genggaman mushaf yang nyaris hilang, dan dalam keyakinan bahwa selama ayat-ayat itu masih dibaca, harapan akan selalu ada.

Dukung dan hadirkan Al-Qur’an untuk anak-anak yang terdampak bencana, khususnya di Sumatra dan berbagai penjuru Nusantara. Mari jadi bagian dari ikhtiar menjaga harapan itu tetap menyala. Satu mushaf, bisa menjadi sumber harapan bagi mereka yang ingin terus belajar, mengaji, dan menjalani Ramadan dengan lebih bermakna melalui digital.dompetdhuafa.org/donasi/sedekahjariyahquran. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Anndini Dwi Putri
Penyunting: Ronna