JAKARTA — “Terima kasih semoga Allah membalas kebaikanmu, untuk donatur dan anggota perkumpulan ini,” ujar salah satu penyintas di Gaza, Palestina.
Program Tebar Hewan Kurban (THK) yang dijalankan Dompet Dhuafa tahun ini kembali memperluas distribusi kurban ke sejumlah wilayah. Tidak hanya menyasar daerah terpencil di Indonesia, distribusi kurban juga diarahkan ke Palestina hingga negara-negara yang tengah dilanda perang dan bencana kemanusiaan termasuk keterbatasan akses pangan.
Laporan Food and Agriculture Organization dan World Food Programme menunjukkan bahwa masyarakat di wilayah konflik dan daerah terdampak bencana masih kesulitan mendapatkan asupan protein hewani. Ini adalah solidaritas lintas batas, dukungan yang digaungkan umat Islam terhadap saudara-saudara terdampak perang dan krisis kemanusiaan lintas negara.


Untuk distribusi Kurban ke Palestina, Dompet Dhuafa melakukan penyembelihan hewan kurban tidak dilakukan langsung di Gaza karena mempertimbangkan faktor keamanan dan keterbatasan ketersediaan hewan ternak.
Pemotongan hewan kurban akan dilakukan di India dengan menggunakan kerbau sebagai hewan utama. Pemilihan India dinilai lebih memungkinkan karena ketersediaan kerbau yang melimpah dan harga yang lebih terjangkau dibandingkan membeli hewan hidup di Palestina.

Baca juga: Kurban untuk Palestina: Upaya Hadirkan Asa di Tengah Darurat Kelaparan
“Jadi kita akan potong kerbau dari India nanti kemudian dikirim ke Palestina, kami tidak melakukan pemotongan hewan hidup di Gaza karena pertimbangan keamanan dan juga ketersediaan hewan kurban yang bisa disembelih,” ujar Syamsul Ardiansyah, Manager Aliansi Strategis Dompet Dhuafa.
Daging hasil pemotongan di India nantinya akan dikemas dalam bentuk frozen meat atau daging beku sebelum didistribusikan ke para pengungsi Palestina di sejumlah wilayah sekitar Palestina, seperti Tepi Barat, Lebanon, Suriah, Yordania, Turki hingga Mesir.
Lebih lanjut, menurut keterangan Syamsul, distribusi tersebut ditargetkan berlangsung dalam kurun waktu satu bulan setelah pemotongan. Selain dalam bentuk daging beku, sebagian daging kurban juga akan dikirim ke pabrik di Mesir dan Dubai untuk diolah menjadi daging kaleng.
Produk kaleng ini diprioritaskan untuk dapat masuk ke Gaza karena memiliki masa simpan yang lebih panjang dan dinilai lebih sesuai dengan tantangan logistik bantuan kemanusiaan.

Daging kaleng akan diproduksi dalam dua jenis, yakni pure meat berupa daging utuh siap santap tanpa tambahan bumbu, serta meat with sauce yang telah dibumbui sesuai selera masyarakat Palestina. Kedua produk itu dirancang agar dapat langsung dikonsumsi setelah dipanaskan.
“Kita khususkan untuk bisa dikirimkan masuk ke Gaza kenapa kita buat dalam bentuk kaleng karena mempertimbangkan masa guna ya dengan bentuk kaleng dan bisa diterima oleh warga palestina khususnya di Gaza dalam kurun waktu tidak kurang dari enam bulan,” sambung Syamsul.

Dompet Dhuafa juga memperluas distribusi kurban ke tujuh negara yang tengah menghadapi krisis kemanusiaan, yaitu Myanmar, Somalia, Palestina, Suriah, Lebanon, Yordania, dan Sudan. Program ini dijalankan melalui kolaborasi bersama tiga mitra global. Tahun ini, Dompet Dhuafa juga menambahkan unta sebagai salah satu hewan kurban yang akan disembelih.
Program Tebar Hewan Kurban 1447 H, Dompet Dhuafa menargetkan sedikitnya sekitar 142 ekor kerbau untuk Palestina. Namun, Dompet Dhuafa juga berharap jumlah hewan yang berhasil dihimpun dapat mencapai 300 ekor agar manfaatnya menjangkau lebih banyak pengungsi Palestina di berbagai negara.


Melalui skema distribusi lintas negara ini, Dompet Dhuafa berharap manfaat kurban dapat menjangkau lebih banyak masyarakat yang membutuhkan, termasuk mereka yang berada di wilayah krisis kemanusiaan. (Dompet Dhuafa)
Teks dan Foto: Anndini
Penyunting: Dhika

