Temui Makna Berarti, Asih: Berbuat Baik Lampaui Sekat-Sekat Perbedaan

BALI — Selain pemenuhan terhadap syariat agama, Iduladha dapat menjadi momen untuk meningkatkan konektivitas kita terhadap Allah Swt dan ciptaan-Nya. Hal ini dirasakan oleh Asih (58)–seorang santri mualaf asal Desa Tegal Badeng Timur yang terletak di Kabupaten Jembrana, Bali, sekaligus penerima manfaat kurban.

Kurban, menjadi salah satu aktivitas yang ia nantikan. Pada Hari Tasyrik pertama Iduladha 1445 H, ia dan santri mualaf lainnya bahu-membahu menyiapkan kegiatan berkurban.

Bertempat di Pesantren Mualaf Indonesia Dompet Dhuafa Cabang Bali, mereka melakukan pemotongan hingga pembagian hewan kurban berupa kambing. Bahkan, Asih dan teman-temannya turut menyajikan hidangan daging, siapa pun boleh berkunjung untuk menikmatinya.

Salah satu penerima manfaat kurban sekaligus santri mualaf Pesantren Mualaf Indonesia Dompet Dhuafa Cabang Bali, Asih (58).
Salah satu penerima manfaat kurban sekaligus santri mualaf Pesantren Mualaf Indonesia Dompet Dhuafa Cabang Bali Asih 58
Dari kiri: Bunda Ellen (58) yang merupakan salah satu pembina di Pesantren Mualaf Indonesia Dompet Dhuafa Cabang Bali dan Asih (58).
Kiri kanan Bunda Ellen 58 yang merupakan salah satu pembina di Pesantren Mualaf Indonesia Dompet Dhuafa Cabang Bali dan Asih 58

Menurut Asih, Iduladha bisa jadi sarana untuk meningkatkan solidaritas yang tulus antarumat muslim. Kala itu, rasa bahagianya memuncak ketika relawan Dompet Dhuafa, Chef Amanda Arum Sari–salah satu kontestan Master Chef, turut berkontribusi pada perhelatan kurban di pesantren mualaf tersebut.

“Keyakinan saya mengantarkan pada pemahaman-pemahaman baru. Salah satunya pelaksanaan kurban ini. Iduladha mengajarkan saya untuk berbagi sebagai sesama manusia tanpa pandang agama dan suku. Kami bergotong royong, mulai dari penyembelihan, pembersihan, hingga pembagian daging kurban kepada warga Desa Tegal Badeng Timur. Pesantren mualaf kami pun juga akan menghidangkan masakan dan menggelar makan bersama, siapapun boleh hadir,” tuturnya kali ini dengan bersemangat.

Tak hanya keseruan yang nampak, namun juga penuh refleksi yang bermakna. Setelah memasak hidangan bersama, ia dan Chef Amanda turut ikut menghantarkan daging kurban bagi para warga Desa Tegal Badeng Timur yang tinggal di sekitar pesantren.

Baca juga: Momen Haru Kurban di Pulau Kei Kecil, Raih Kebahagiaan Hingga Pelosok Negeri

Penyembelihan kurban Dompet Dhuafa Cabang Bali pada hari tasyrik kedua berjalan dengan khidmat dan haru.
Penyembelihan kurban Dompet Dhuafa Cabang Bali pada hari tasyrik kedua berjalan dengan khidmat dan haru
Setelah membersihkan hewan kurban, para santri bersama Chef Amanda mengolahnya menjadi sebuah hidangan.
Setelah membersihkan hewan kurban para santri bersama Chef Amanda mengolahnya menjadi sebuah hidangan
Para santri dan warga sekitar Pesantren Mualaf Indonesia Dompet Dhuafa Cabang Bali menyambut Iduladha dengan sukacita dan menyantap sajian olahan daging bersama-sama.
Para santri dan warga sekitar Pesantren Mualaf Indonesia Dompet Dhuafa Cabang Bali menyambut Iduladha dengan sukacita dan menyantap sajian olahan daging bersama sama
Asih bersama teman-temannya yang merupakan mualaf usai melakukan prosesi penyembelihan hingga mengolah daging kurban bersama.
Asih bersama teman temannya yang merupakan mualaf usai melakukan prosesi penyembelihan hingga mengolah daging kurban bersama

Asih membagikan daging kurban kepada warga yang membutuhkan, tanpa pandang perbedaan agama dan sukunya. Ia hanya ingin menumbuhkan kebaikan di lingkungan sekitarnya.

“Saya tahu bagaimana rasanya dikucilkan. Sewaktu saya memilih menjadi mualaf, ada yang mencemooh saya, padahal sesama muslim. Ini yang membuat saya terus berbuat baik kepada siapapun makhluk ciptaanNya. Kita sama-sama manusia yang ingin menjadi damai. Saya memilih Islam sebagai jalan saya,” ucap Asih lirih.

Senada dengan Asih, Ahmad Faris yang merupakan Ketua Pengurus Pesantren Mualaf Indonesia Dompet Dhuafa Cabang Bali pun beranggapan hari raya Iduladha ini sebagai momentum untuk merefleksikan diri.

Sebagai mualaf, ia paham bagaimana rasanya menjadi asing di lingkungan sendiri. Melalui berbagai kegiatan di pesantren, salah satunya berkurban, jadi pengingat satu sama lain bahwa mereka saling memiliki.

“THK di Bali memang biasanya di pesantren mualaf ini. Selain menjadi momen mendekatkan terhadap sesama mualaf, ini juga menjadi refleksi tersendiri bagi para mualaf untuk berbagi terhadap sesama, bahkan terhadap warga non-muslim. Alhamdulillah, tahun ini kami menyembelih 5 kambing. Saya sangat berterima kasih kepada donatur yang berkurban di Dompet Dhuafa,” jelas Faris.

Ketua Pengurus Pesantren Mualaf Indonesia Dompet Dhuafa Cabang Bali, Ahmad Faris yang juga merupakan mualaf sekaligus penerima manfaat daging kurban.
Ketua Pengurus Pesantren Mualaf Indonesia Dompet Dhuafa Cabang Bali Ahmad Faris yang juga merupakan mualaf sekaligus penerima manfaat daging kurban
Mbok Suminten (60) merupakan seorang hindu sekaligus penerima manfaat daging kurban Dompet Dhuafa. Sebagai orang tua tunggal, sehari-harinya ia mengandalkan penghasilan dari warung sembakonya untuk menghidupi kedua anaknya
Mbok Suminten 60 merupakan seorang hindu sekaligus penerima manfaat daging kurban Dompet Dhuafa Sebagai orang tua tunggal sehari harinya ia mengandalkan penghasilan dari warung sembakonya untuk menghidupi kedua anaknya
Salah satu penerima manfaat daging kurban yang bertempat tinggal tak jauh dari Pesantren Mualaf Dompet Dhuafa Indonesia Cabang Bali.
Salah satu penerima manfaat daging kurban yang bertempat tinggal tak jauh dari Pesantren Mualaf Dompet Dhuafa Indonesia Cabang Bali

Baca juga: Lawan Kesenjangan Sosial: Kurban Kendalikan Ego Konsumtif Jadi Lebih Arif

Pada hari itu, Mbok Suminten (60)–seorang perempuan Hindu, menerima daging kurban yang diantar oleh Asih dan Chef Amanda. Sejak suaminya meninggal, ia menjadi orang tua tunggal dari kedua anaknya. Untuk hidup sehari-hari, ia mengandalkan penghasilan dari warung sembako miliknya. Ia bercerita bahwa saat itu menjadi kali pertamanya ia menerima daging kurban.

“Selamat merayakan hari raya, ya. Ini pertama kali saya mendapat kurban seperti ini. Saya senang sekali bisa dapat ini (daging kurban). Terima kasih Dompet Dhuafa,” tutur Mbok Suminten.

Melalui momentum kurban, banyak makna kehidupan yang dapat dipetik. Sederhana, tapi mampu menyentuh hati banyak insan. Berkurban melalui Dompet Dhuafa, kamu bisa mendekatkan yang jauh, bahkan melampaui sekat-sekat perbedaan sekalipun. Yuk, mulai berkurban hingga pelosok negeri dengan mudah lewat digital.dompetdhuafa.org/kurban.

Teks dan foto: Hany Fatihah Ahmad
Penyunting: Dhika