MALUKU TENGGARA, MALUKU — Jelajah Tebar Hewan Kurban (THK) Dompet Dhuafa selalu meninggalkan kisah unik dan haru dalam perjalanannya. Tahun lalu, Tim THK Dompet Dhuafa berkesempatan mendarat di Pulau Kei Kecil yang terletak di Maluku Tenggara, Provinsi Maluku.
Selain dikelilingi dengan laut yang indah, Pulau Kei Kecil ini memiliki paling banyak populasi manusia di antara pulau-pulau lainnya di Kepulauan Kei. Namun, tokoh agama Islam yang berasal dari Desa Ohoidertawun, Ahmad Albar bercerita bahwa kondisi warga setempat membuat ritual kurban sangat jarang terjadi sepanjang tahun.
Albar tak sedang mengeluh, justru ia memakluminya. Selain faktor ekonomi, mayoritas warga bukan merupakan penganut agama Islam. Ditambah lokasinya yang lumayan jauh dari kota.
“Jarang sekali di sini ada kurban. Mungkin kesadarannya yang belum tinggi. Selain itu juga karena kondisi ekonomi masyarakat. Kalaupun ada kurban, biasanya sumbangan dari pemerintah daerah. Itu pun tidak setiap tahun. Terakhir, tahun lalu dapat dari pemerintah satu kambing. Karena tidak mungkin dibagi-bagi dagingnya, tidak akan cukup, jadi kami ramai-ramai saja masak bareng. Setelah itu baru dibagikan di mangkok-mangkok ke rumah-rumah,” jelasnya.


Baca juga: Distribusi THK Sumut ke Desa di Atas Air Hingga Desa di Atas Bukit
Memang, masyarakat muslim di desa ini hanya ada 37 keluarga yang bermukim di 27 rumah. Ini karena satu rumah bisa saja diisi oleh lebih dari satu keluarga. Meski begitu, toleransi antarmasyarakat beragama di desa ini sangat tinggi. Bahkan Kementerian Agama pun menjulukinya sebagai desa moderasi.
Bertemu dengan Albar, memberikan kami kekuatan lebih untuk terus berikhtiar melewati berbagai proses dalam pelaksanaan THK ini. Tak mudah memang, namun mewujudkan impian berkurban bagi mereka yang membutuhkan menjadi alasan kami terus melangkah.
Ditemani mitra Dompet Dhuafa, Tim THK mengunjungi beberapa ohoi atau desa di pinggir kabupaten. Tujuannya berpatok pada dua hal, melakukan Quality Control (QC) pada hewan-hewan ternak yang akan menjadi kurban dan mulai melakukan asesmen terhadap calon penerima manfaat kurban.
Pengalaman di sini berbeda dengan kebanyakan Tim THK di wilayah barat dan tengah yang merawat hewan ternak di dalam plasma kandang atau Sentra Ternak DD Farm.
Di wilayah Indonesia Timur, tim biasa melakukan QC di alam lepas. Sebab bukan menjadi kebiasaan warga setempat untuk mengikat hewan ternak di kandang. Sapi-sapi ternak dibiarkan secara lepas di alam bebas. Meski terkadang tetap diikat di pohon atau batu besar.


Baca juga: Bersama Para Santri Pesantren Mualaf Dompet Dhuafa, Chef Amanda Tebar Hewan Kurban Hingga Bali
Dompet Dhuafa melaksanakan prosedur ini guna memastikan hewan kurban sesuai kriteria yang telah ditetapkan. Yakni berjenis kelamin jantan, sehat dan bobot tercukupi. Untuk domba kambing (doka) ekonomis berat harus menyentuh angka 21-22 kg hingga doka premium yang menyentuh 33 kg. Begitu pula dengan sapi, yang memiliki kriteria bobot sebesar 250-300 kg.


Keseharian masyarakat Pulau Kei Kecil adalah ke laut untuk mencari ikan. Selain itu, mereka menabur bibit rumput laut sebagai cara lain mendapatkan uang. Beberapa mungkin memilih menjadi buruh serabutan. Mulyadi Kilmas (52) adalah salah satu yang melakukannya.
Mulyadi tinggal di sebuah rumah kayu kecil. Didapati, rumah itu diisi oleh 10 jiwa dengan empat kepala keluarga. Tak ada yang salah dalam kehidupan mereka. Pun tak ada keinginan tinggi di benak mereka. Mereka adalah orang-orang pandai bersyukur dengan segala kesederhanaannya.
“Tidak ada yang makan daging di sini. Hewannya saja tidak ada. Di sini orang-orang ya makan ikan. Kadang jagung, kadang embal (singkong). Pernah ada daging kambing karena ada yang ngasih kurban tahun lalu. Tapi tidak banyak. Hanya semangkuk untuk serumah,” ucap Mulyadi.
Sambut Hari Iduladha dengan Tradisi Unik
Saat hari Iduladha tiba, tentu desa Ohoidertawun ini menjadi salah satu di antara banyaknya masyarakat yang berhak menerima manfaat kurban Dompet Dhuafa.
Ditemani Mimi Campervan–julukan akrabnya di dunia maya, yang merupakan seorang perempuan pegiat sosial, THK di Ohoidertawun ini menjadi lebih berwarna. Ia melakukan campaign untuk berkurban di Dompet Dhuafa bersama para followers-nya.
Baca juga: Potong Hewan Kurban di Tengah Minoritas Islam


Perempuan asal Sumatra Barat itu telah 13 bulan berkelana di wilayah timur Indonesia, melakukan aksi-aksi sosial. Kolaborasi Dompet Dhuafa dengannya ini diharapkan akan makin meluaskan manfaat THK di wilayah timur, khususnya di Pulau Kei Kecil.
Mimi dan Tim THK mendistribusikan dua ekor sapi kepada kurang lebih 73 kepala keluarga. Mimi Campervan dengan bahagia membagikan daging-daging kurban ke beberapa rumah penerima manfaat.
Terlihat gadis cilik asli Ohoidertawun menerima daging kurban dengan sumringah. Ia tak berhenti tersenyum.
“Kaka, kami sangat berterima kasih. Senang rasanya bisa ada kurban sapi di sini. Akhirnya kami bisa merasakan daging kurban sapi yang cukup untuk satu desa,” ujar salah satu masyarakat Desa Ohoidertawun kepada Mimi Campervan setelah menerima daging kurban.



Baca juga: Tim Tebar Hewan Kurban Sambangi Pulau Arar, Ikut Pawai Obor Tradisi Warga Sorong Jelang Iduladha
Terlihat tak seperti pada umumnya. Alih-alih menggunakan wadah plastik, masyarakat sekitar menggunakan “Kamdada” untuk wadah daging kurban yang akan dibagikan kepada warga. Kamdada merupakan anyaman khas masyarakat lokal yang menggunakan daun muda pohon kelapa.
Suasana haru sekaligus bahagia menyelimuti Ohoidertawun. Prosesi kurban berjalan begitu khidmat. Para warga bergotong royong, mulai dari pemotongan, pembersihan hingga pembagian hewan kurban.
Itulah rangkaian THK Dompet Dhuafa di Pulau Kei Kecil. Dompet Dhuafa setiap tahunnya menggelar THK sebagai upaya pemerataan konsumsi daging kurban bagi mereka yang membutuhkan. Setiap prosesnya pun dipastikan sesuai syariat juga terdistribusikan hingga pelosok negeri.
Bagi kamu yang berencana ingin berkurban tahun ini, kamu dapat mengunjungi laman digital.dompetdhuafa.org/kurban. Laporan pascakurban pun akan dikirim setelah dua minggu pelaksanaan kurban. Mari berkurban, tebar kebahagiaan secara merata hingga pelosok negeri! (Dompet Dhuafa)
Teks: Hany Fatihah Ahmad
Foto: Riza Muthohar dan Ayudia
Penyunting: Dhika

