YUNANI — Umat muslim yang tinggal di negara-negara nonmuslim sering kali menghadapi kehidupan yang penuh dengan tantangan. Mereka pun dipaksa untuk terus beradaptasi dengan beragam kondisi, termasuk iklim yang ekstrem dan fasilitas ibadah yang terbatas.
Di antara semua tantangan, satu yang terbesar adalah menjaga keutuhan ibadah. Apalagi bila sulit menemukan tempat ibadah senyaman masjid-masjid di Tanah Air. Masjid di negara-negara nonmuslim sering kali lebih sederhana dan tidak ‘semewah’ masjid di negara-negara mayoritas muslim. Meski begitu, bisa menemukan masjid di negara minoritas muslim sudah menjadi kemewahan tersendiri, karena umat muslim bisa menjalankan ibadah dengan khusyuk dan penuh keberkahan.
Hal ini dirasakan oleh masyarakat muslim Indonesia yang tinggal di Manolada, Yunani. Pada Rabu (26/03/2025), saya mendapat undangan untuk berdakwah selama beberapa hari di daerah perkebunan di Yunani, tepatnya di Manolada.
“Insyaallah, berangkat bareng saya, Ustaz. Di sana, kita sudah mendirikan masjid untuk teman-teman Indonesia yang bekerja di Manolada,” ujar Pak Harianto, Ketua Masindo di Manolada.
Baca juga: Dai Ambassador Pimpin Salat Jenazah PMI yang Wafat di Yunani dan Kisahkan Sulitnya Proses Pemakaman

Ketika disebutkan kata masjid, yang terbayang di benak saya adalah masjid pada umumnya atau setidaknya seperti Masjid Al-Ikhlas di Athena di mana saya sering menjadi imam. Namun, ketika saya sampai di sana, ternyata masjid yang dimaksud berbeda dengan apa yang saya bayangkan. Masjid tersebut sangat sederhana, namun dibangun atas dasar iman dan gotong royong masyarakat Indonesia yang tinggal di sana.
Pukul 17.30 waktu setempat, saya tiba di Masjid Manolada. Setibanya di sana, saya bertanya kepada beberapa jemaah mengenai proses pembangunan masjid tersebut. Mereka menjelaskan bahwa mereka terlebih dahulu meminta izin kepada majikan yang memiliki lahan. Setelah izin diberikan, mereka mulai membangun masjid tersebut. Masjid ini didirikan seminggu sebelum bulan Ramadan dan hanya membutuhkan waktu sekitar tiga hari untuk menyelesaikannya, berkat gotong royong masyarakat muslim Indonesia di sana. Semua ini mereka usahakan agar ibadah selama Ramadan dapat dilaksanakan dengan khusyuk. Masyaallah.
Pembangunan masjid yang sederhana ini tidak dapat dilakukan dengan bangunan yang lebih besar karena beberapa alasan. Antara lain karena izin lahan dari majikan, administrasi yang sulit, dan keterbatasan dana.

Baca juga: Langit Yunani Bertasbih, Dai Ambasador Tuntun WNI ‘Log-In’ Ucap Syahadat untuk Memeluk Islam
Pada Kamis (27/03/2025), hujan mulai turun mulai siang hingga malam, menambah rasa dingin di dalam masjid. Dinding yang hanya berlapis plastik tidak dapat menahan suhu dingin dari luar. Pada saat itu, saya menggunakan tiga lapis pakaian dan satu jaket tebal untuk mencari kehangatan di dalam masjid. Meskipun suhu sangat dingin, semangat para jemaah untuk salat berjemaah dan mendengarkan kajian tidaklah surut.
Memang tidak mudah menjaga keimanan, ketakwaan, dan ibadah, di tengah keterbatasan yang ada. Namun, justru melalui keterbatasan dan kesulitan itulah pahala menjadi berkali-kali lipat. Sebagaimana yang sering dikatakan oleh para ulama, “Pahala itu sesuai dengan kesulitan yang dihadapi”.
Semoga masyarakat muslim Indonesia yang ada di Manolada, Yunani, tetap istikamah dalam beribadah kepada Allah Swt. Aamiin … (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Dai Ambassador penugasan Yunani, Ustaz Abdul Ghafur
Penyunting: Ronna

