Warisan Kebaikan dari Panggung: Pusakata Ajak Anak dalam Misi Sosial di Pulau Seram

MASOHI, MALUKU — Di atas panggung sederhana di Pantai Ina Masohi, Maluku, suara Pusakata mengalun menyentuh hati. Namun malam itu, yang paling mencuri perhatian bukan hanya lantunan lagu-lagu seperti ‘Akad’ atau ‘Ruang Tunggu’, melainkan sosok kecil yang berjalan di antara penonton sambil menenteng kotak donasi. Anak itu adalah buah hati dari Mohammad Istiqomah Djamad, pria dibalik nama panggung Pusakata yang kini diajak langsung menyaksikan bagaimana musik bisa menjadi jalan untuk menebar manfaat.

“Saya ingin anak saya menyaksikan langsung bahwa musik bukan hanya tentang panggung dan sorotan,” ujar Is, sapaan akrab Pusakata. “Tapi bisa menjadi jalan untuk menebar kebaikan.”

Baca juga: Is Pusakata bersama Musisi Suarakan Kemanusiaan dalam Senandung Sound of Humanity

Pusakata anak ketiga dari Is Pusakata turut ikut mengumpulkan donasi dari penonton konser

Gerakan ini juga mendapat dukungan penuh dari dua sosok yang berperan penting dalam menyukseskan kampanye: Ican, konten kreator asal Maluku yang dikenal luas melalui akun Instagramnya @13ican, serta Asep Souisa seorang perwira polisi dari Polres Seram Bagian Barat yang turut aktif mempromosikan gerakan ini melalui berbagai kanal digital dan kehadiran langsung di lapangan. Kehadiran keduanya menegaskan bahwa kolaborasi lintas profesi dan platform sangat mungkin dilakukan untuk memperjuangkan pendidikan di wilayah pesisir.

Kehadiran sang anak menjadi simbol penting dalam kampanye sosial bertajuk “Sisir Kota Pesisir Kedua”, sebuah gerakan kolaboratif yang bertujuan membangun sekolah-sekolah di wilayah pesisir Indonesia. Kali ini, Pusakata bersama Dompet Dhuafa dan sejumlah kolaborator menargetkan pembangunan MTs Al Ishlah di Desa Pasanea, Seram Bagian Utara. Sekolah tersebut kondisinya memprihatinkan, tembok kelasnya dari papan yang sudah rusak dan berlubang sehingga mengganggu aktivitas siswa belajar. Tampak bangku yang kecil dan rapuh karena disusun dari kayu seadanya. Juga tidak ada ruang perpustakaan apalagi kamar mandi, kondisi pendidikan yang tidak layak ini harus diperbaiki.

Baca juga: Sisir Kota Pesisir: Gerakan Bangun Sekolah Layak, Wujudkan Mimpi Anak Pelosok

Terlihat lubang besar di dinding kelas di MTs Al Ishlah

Baca juga: Pusakata dan Koalisi Musisi Makassar Gelar Aksi untuk Palestina

Sebelumnya, fase pertama dari kampanye ini sukses membantu pembangunan MTs Taman Sejarah di Seram Bagian Barat. Dengan energi yang sama, Pusakata kembali ke Maluku membawa pesan keberlanjutan: bahwa misi sosial tidak boleh berhenti pada satu titik keberhasilan.

Beberapa konser amal digelar di Raissa Cafe, Sianida Cafe, Sarabba Cafe di Masohi, serta Akropolis Cafe di Seram Bagian Barat. Konser ini bukan hanya pertunjukan musik, tetapi juga menjadi ruang temu harapan bagi anak-anak pesisir. Di tengah keramaian, sang anak yang menjadi inspirasi nama panggung Pusakata turun langsung menggalang donasi dari para penonton, membawa kotak donasi dengan malu-malu namun penuh semangat.

Malam lelang karya Eko bertuliskan Beta Maluku ditandatangani oleh Pusakata
Pengunjung Konser Amal hanyut dalam lantunan musik Pusakata

Baca juga: Sound of Humanity Makassar, Is Pusakata dan Gema Konser Kemanusiaan Untuk Palestina

Penampilan Pusakata ditemani sejumlah musisi lokal seperti Zuleske, Nino & Friends, Khafiwas, hingga penyair Eko S. Poceratu yang menggetarkan ruangan dengan puisi berjudul “Natsar Pendidikan Maluku”. Bait-bait puisinya mengungkapkan kegelisahan atas kondisi pendidikan di Maluku yang masih timpang dan memerlukan perhatian nyata:

Jangan bangga bilang Maluku
Kalau ale saudara sendiri masih makan di batu
Tulis di batu
Masih dapat tipu satu satu
Jadi mari bantu Maluku
Dengan apa yang kamu punya

Tak hanya musik dan puisi, konser amal ini juga menghadirkan sesi podcast antara Pusakata dan Asep Souisa, anggota Polres Seram Bagian Barat yang dikenal aktif mengkampanyekan isu-isu sosial lewat TikTok. Dalam percakapan mereka, pendidikan menjadi topik utama — terutama soal ketimpangan yang masih nyata di pulau sebesar Seram, pulau terbesar kedelapan di Indonesia.

Pengunjung Konser Amal hanyut dalam alunan musik Pusakata
Kolaborator Konser Amal Sisir Kota Pesisir di Akropolis Cafe

Baca juga: Lewat Musik, Is Pusakata Galang Donasi Kemanusiaan

Total dana yang berhasil dikumpulkan dari dua konser amal tersebut mencapai Rp33.242.133. Donasi ini berasal dari lelang karya seni, pembelian tiket, kotak donasi keliling, hingga transaksi QRIS. Semua dana dialokasikan untuk mendukung pembangunan dan renovasi MTs Al Ishlah yang kondisinya sangat memprihatinkan — berdinding papan berlubang, tanpa ruang perpustakaan, bahkan tanpa toilet.

Apa yang dilakukan Pusakata bukan sekadar konser amal. Ia menghidupkan kembali semangat gotong royong dan empati sosial lewat musik. Dengan melibatkan anaknya dalam proses, Is seakan mengajarkan bahwa nilai-nilai kebaikan bukan untuk dikhotbahkan, melainkan dicontohkan dan diwariskan.

Sisir Kota Pesisir bukan hanya tentang membangun sekolah tapi juga tentang membangun generasi yang peduli. Dan malam itu, di Pulau Seram, satu generasi baru tengah belajar langsung dari panggung: bahwa suara, jika digunakan dengan hati, bisa menjadi cahaya. (Dompet Dhuafa)

Teks dan Foto: Fitin Agustin, Ayudia Chaeroni, Dedi Fadlil
Penyunting: Dedi Fadlil