JAKARTA – Kita udah bahas sebelumnya, dilansir dari BBC News Indonesia, tunjangan rumah anggota DPR itu per orang Rp 50 juta per bulan. Kalau dikali 580 anggota DPR, totalnya Rp 29 miliar sebulan, alias Rp 348 miliar setahun. Nah, sekarang coba kita main hitung-hitungan lagi, gimana kalau duit segitu dialihkan ke dunia pendidikan, khususnya buat bikin sekolah kayak SMART Ekselensia di Bogor atau renovasi sarana sekolah rusak?
SMART Ekselensia bukan sekolah biasa. Ini adalah boarding school (asrama penuh) gratis buat anak-anak dhuafa tapi punya prestasi akademik bagus. Mereka belajar, tinggal, makan, semua ditanggung. Jadi anak-anak yang orang tuanya kesulitan ekonomi bisa fokus belajar tanpa mikirin biaya sekolah.
SMART Ekselensia sudah berdiri sejak 2004 di Parung, Bogor, dan banyak alumninya yang sukses kuliah di kampus ternama, bahkan ada yang dapat beasiswa ke luar negeri. Intinya, sekolah ini bukan cuma ngasih pendidikan, tapi juga ngebuktiin kalau kesempatan bisa bikin hidup orang berubah total.
Baca juga: Sekolah di SMART Ekselensia Pupuk Giat Arwan Angkat Derajat Keluarga Tanpa Ayah


Baca juga: SMART Ekselensia Putri, Buka Gerbang Harapan dari Bangku Sementara
Kisaran biaya untuk satu siswa SMART Ekselensia per tahun sekitar Rp 25–30 juta. Itu sudah termasuk biaya makan, asrama, seragam, buku, fasilitas belajar, sampai pembinaan karakter. Misalnya kita ambil angka Rp 30 juta per anak per tahun. Sekarang kita bandingin dengan anggaran tunjangan rumah anggota DPR tadi: Rp 348 miliar ÷ Rp 30 juta = sekitar 11.600 siswa bisa dibiayai sekolah asrama penuh selama setahun.
Terus bayangin ada 11 ribu lebih anak dhuafa yang dapat kesempatan belajar gratis dengan kualitas top, tinggal di asrama, dan difasilitasi penuh. Dan kalau ini dibagi rata per provinsi (38 provinsi di Indonesia), tiap provinsi bisa dapet sekitar 300 anak penerima manfaat. Itu setara bikin satu SMART Ekselensia mini di tiap provinsi.
Efek jangka panjangnya, anak-anak dhuafa punya akses ke pendidikan berkualitas setara sekolah elite, orang tua nggak perlu khawatir biaya pendidikan, cukup dukung anak belajar, dan dalam 10-15 tahun, ribuan alumni siap jadi generasi baru yang pinter, kritis, dan bisa jadi pemimpin masa depan. Dengan sekolah model SMART, efeknya bisa meluas sampai puluhan ribu keluarga, bahkan bisa mengubah arah hidup satu generasi.

Baca juga: SMART Ekselensia Pulang Kampung, Agrinesia Raya Bekali 420 Box Oleh-oleh Lapis Bogor
Ruang sekolah di MTs Nahdlatul Ulama, Dusun Taman Sejarah, Seram Bagian Barat, Maluku, pasca renovasi dari gerakan bangun sekolah layak bersama Is Pusakata, Sisir Kota Pesisir.
Di banyak sekolah, masih banyak juga yang ruang kelasnya jauh dari kata layak, buku-buku rusak, bahkan akses menuju sekolahnya pun ada yang harus naik perahu kayu menyebrangi sungai yang deras/dalam/ada buaya, atau menyebrangi jembatan kayu seadanya yang tinggi resiko. Atap kelas hancur, beralas tanah, dua kelas jadi satu, pembatas triplek, meja kursi usang, jendela pecah, dan sebagainya.
Dan karena faktor itu juga, seorang Musisi, Is Pusakata, terpantik membuat gerakan bangun sekolah layak di daerah 3T bersama Dompet Dhuafa bertajuk Sisir Kota Pesisir. Gerakan itu menginisiasi kebaikan khalayak luas, menghimpun dana sekitar Rp 240 juta dan telah merenovasi tiga ruang kelas beserta paket bantuan penunjang sekolah di wilayah Seram Bagian Barat, Maluku.

Mau habisin Rp 348 miliar buat “kenyamanan” segelintir pejabat, atau mau investasi masa depan anak-anak bangsa agar Indonesia punya lebih banyak dokter, guru, ilmuwan, pemimpin, yang lahir dari keluarga sederhana?
Tahun ini, Sisir Kota Pesisir kembali menggema dan merambah ajakan peduli pendidikan ke lokasi sekolah kedua di Maluku. Tentu kita semua juga bisa kok ikut bikin anggaran berdampak luas seperti di SMART Ekselensia atau Sisir Kota Pesisir, insha Allah bermanfaat luas, klik langsung: Bantu Wujudkan: Bangun sekolah Anak Pesisir. (Dompet Dhuafa)
Teks dan Foto : Dhika, DDTV
Penyunting : Dedi Fadlil

