Ke Perbukitan dan Seberangi Laut, Hati Traveler Ini Tersentuh Ikut QC THK di Pedalaman Sulawesi Selatan

SULAWESI SELATAN — Perjalanan seorang traveler yang biasanya identik dengan petualangan dan keindahan alam, kali ini membawa Mutiara Ari Fitriana (24) pada sebuah pengalaman yang jauh lebih dalam, menyentuh hati, dan mengubah cara pandangnya tentang makna sebuah perjalanan. Pada tanggal 12 hingga 16 Mei 2025, Mutiara tak sekadar mengunjungi tempat-tempat baru di Sulawesi Selatan, melainkan mengemban misi kemanusiaan bersama Dompet Dhuafa untuk program Tebar Hewan Kurban (THK). Sebuah perjalanan yang awalnya hanya ingin ia jadikan penjelajahannya, kini berubah menjadi pengantar kebahagiaan yang tak terlupakan bagi saudara-saudara di pelosok negeri.

Bagi Mutiara, yang terbiasa mendaki gunung dan menjelajahi laut untuk hobi dan melepas penat, misi assessment THK ini adalah kali pertama ia menjadi volunteer dalam kegiatan sosial sedalam ini. Perjalanan dimulai dengan kunjungan ke kandang sapi peternakan mitra Dompet Dhuafa di Kabupaten Maros. Di sana, untuk pertama kalinya, ia berinteraksi langsung dengan hewan kurban. Dengan mata berbinar, Mutiara tak hanya melihat proses Quality Control (QC) yang ketat menjelang Iduladha 1446 H, tetapi juga mencoba memberi pakan rumput kepada sapi-sapi. Ia bahkan ikut membantu tim THK Dompet Dhuafa mengukur bobot sapi dan mengecek kesehatan gigi. Pengalaman ini menyadarkannya, tentang proses di balik penyaluran kurban yang syar’i dan berkualitas.

Mutiara (kanan) melihat langsung peternak melakukan pengecekan gigi dalam proses QC THK Dompet Dhuafa di Maros, Sulsel.
Mutiara kanan melihat langsung peternak melakukan pengecekan gigi dalam proses QC THK Dompet Dhuafa di Maros Sulsel
Mutiara (kiri) melihat langsung tim Dompet Dhuafa Sulsel melakukan pengukuran bobot sapi dalam proses QC THK Dompet Dhuafa di Maros, Sulsel.
Mutiara kiri melihat langsung tim Dompet Dhuafa Sulsel melakukan pengukuran bobot sapi dalam proses QC THK Dompet Dhuafa di Maros Sulsel
Mutiara (kanan) memberikan langsung pakan sapi di kandang ternak mitra Dompet Dhuafa di Maros, Sulsel.
Mutiara kanan memberikan langsung pakan sapi di kandang ternak mitra Dompet Dhuafa di Maros Sulsel

Perjuangan Muslim Minoritas di Toraja Utara

Dari Maros, perjalanan Mutiara berlanjut ke Rantebua, Toraja Utara, sebuah daerah terpencil dan berbukit yang menyimpan kisah. Di sana, hiduplah 92 jiwa Muslim yang menjadi minoritas di tengah dominasi agama lain. Rata-rata mereka berkebun dan bertani, namun hidup dalam keterbatasan. Mutiara merasakan haru yang mendalam saat mendengar cerita perjuangan mereka. Jangankan menikmati daging kurban, untuk beribadah pun mereka harus berjuang.

Saat ini, mereka tengah bergotong royong membangun sebuah masjid sebagai pusat dakwah, karena masjid yang ada saat ini hanyalah masjid darurat dari bambu dan tenda, hanya mampu menampung sekitar 30 orang. Pernah ada upaya mendirikan masjid permanen, namun dilarang beroperasi oleh oknum dan komunitas setempat. Kehadiran masjid yang baru ini adalah hasil dari toleransi luar biasa dari saudara non-Muslim yang mewakafkan lahannya, serta gotong royong muslim di Rantebua.

Mutiara menyusuri wilayah Rantebua, Toraja Utara, Sulsel.
Mutiara menyusuri wilayah Rantebua Toraja Utara Sulsel
Mutiara menyusuri wilayah Rantebua, Toraja Utara, Sulsel.
Mutiara menyusuri wilayah Rantebua Toraja Utara Sulsel
Mutiara (kanan) dan tim Dompet Dhuafa Sulsel berteduh di masjid darurat wilayah Rantebua, Toraja Utara, Sulsel.
Mutiara kanan dan tim Dompet Dhuafa Sulsel berteduh di masjid darurat wilayah Rantebua Toraja Utara Sulsel

Baca juga: Bersyukur dan Berkurban di Tengah Pandemi, Nina Septiani Ceritakan Pengalamannya Bareng Dompet Dhuafa

“Masjid terdekat ada di desa lain, jaraknya sekitar 3 kilometer dengan berjalan kaki dari pemukiman. Selain itu kita juga butuh dai, karena banyak yang perlu belajar agama,” aku Rantelino, Penyuluh Agama di Rantebua.

Warga lain juga menceritakan, mereka sangat jarang menikmati daging kurban. Jika ada kurban di kampungnya, itu pun didapat dari kampung sebelah yang memberi potongan daging. Bahkan, untuk membawa sapi kurban ke desa mereka, warga harus berjalan kaki sekitar empat jam menuruni dan menaiki jalanan yang curam dan terjal, lalu empat jam lagi untuk kembali membawa sapi ke kampung sebab akses perjalanan kurang memungkinkan untuk membawa sapi dengan kendaraan roda empat. Mutiara terdiam, membayangkan betapa besar perjuangan mereka untuk sekadar mencicipi nikmat daging.

Mutiara (kiri) berbagi cerita bersama warga Rantebua, Toraja Utara, Sulsel.
Mutiara kiri berbagi cerita bersama warga Rantebua Toraja Utara Sulsel
Mutiara (kiri) berbagi cerita bersama warga Rantebua, Toraja Utara, Sulsel.
Mutiara kiri berbagi cerita bersama warga Rantebua Toraja Utara Sulsel
Mutiara (kiri) berbagi cerita bersama warga Rantebua, Toraja Utara, Sulsel.
Mutiara kiri berbagi cerita bersama warga Rantebua Toraja Utara Sulsel

Air Mata di Pulau Sarappo Caddi

Setelah dari Toraja Utara, Mutiara menyambangi Pulau Sarappo Caddi, Desa Mattiro Langi, Kabupaten Pangkep. Sebuah pulau kecil seluas 33.000 meter persegi dengan lebih dari 1.000 penduduk, yang merupakan bagian dari gugusan Kepulauan Spermonde. Dinamakan Sarappo Caddi karena dahulu banyak ditumbuhi pohon pinang (sarappo dalam bahasa Makassar), dan caddi berarti kecil, sebagai lawan dari Sarappo Lompo (besar).

Di pulau ini, suasana haru semakin terasa kuat bagi Mutiara. Ia menemui seorang pria paruh baya berusia sekitar 60 tahun. Dengan tatapan lelah, pria itu bercerita sudah lama tidak melaut, pekerjaan utamanya, karena sakit. Di rumah sederhananya, ia tinggal bersama sang istri. Untuk makan sehari-hari, ia mengaku sering dibantu oleh tetangga.

“Bisa dibayangkan, jangankan tentang kurban atau menikmati daging, untuk kebutuhan makan sehari-hari saja kini pria itu kesulitan,” ungkap Mutiara. Air matanya tak terbendung, teringat sang ayah yang di usia yang sama masih semangat bekerja dan berjuang memenuhi kebutuhan keluarga.

Menggunakan perahu dakwah Dompet Dhuafa Sulsel, Mutiara menyambangi Pulau Sarappo Caddi, Pangkep, Sulsel.
Menggunakan perahu dakwah Dompet Dhuafa Sulsel Mutiara menyambangi Pulau Sarappo Caddi Pangkep Sulsel
Mutiara (kiri) berbagi cerita bersama warga Pulau Sarappo Caddi, Pangkep, Sulsel.
Mutiara kiri berbagi cerita bersama warga Pulau Sarappo Caddi Pangkep Sulsel
Mutiara (kiri) berbagi cerita bersama warga Pulau Sarappo Caddi, Pangkep, Sulsel.
Mutiara kiri berbagi cerita bersama warga Pulau Sarappo Caddi Pangkep Sulsel

Baca juga: Simbol Harapan Banyak Keluarga, Dompet Dhuafa Targetkan 35.000 Hewan Kurban ke Pelosok Negeri Hingga Palestina

Mutiara juga bertemu dengan seorang ibu yang suami dan anak laki-lakinya berprofesi sebagai nelayan. Kepergian mereka melaut tidak menentu, bisa berhari-hari atau berminggu-minggu, dengan hasil penjualan yang tak seberapa. Anak perempuannya sudah tidak sekolah karena tak ada biaya. Setiap sore, mereka berdua berjualan makanan ringan untuk menyambung hidup.

“Dibikin nangis karena masyarakat sini enggak pernah makan daging, adapun ketika momen Iduladha tapi udah tahun-tahun lalu,” cerita Mutiara tentang perasaannya di Sarappo Caddi.

Mengartikan Makna Perjalanan yang Sesungguhnya

Bagi Mutiara, ini bukan sekadar melakukan perjalanan, tetapi mengartikan makna perjalanan. Jika sebelumnya ia menjelajah tempat-tempat wisata atau mendaki gunung untuk hobi dan melepas penat, kali ini ia menemukan makna baru yang jauh lebih dalam.

“Ini pertama kalinya aku menjadi volunteer bersama Dompet Dhuafa, yang biasanya pergi cuma naik gunung explore laut kali ini aku mau yang pergi ke pelosok untuk saudara-saudara kita yang jauh di pelosok membutuhkan bantuan di sini,” kisahnya.

Mutiara (tengah) berbagi cerita bersama anak-anak warga Pulau Sarappo Caddi, Pangkep, Sulsel.
Mutiara tengah berbagi cerita bersama anak anak warga Pulau Sarappo Caddi Pangkep Sulsel
Mutiara (tengah) berbagi cerita bersama anak-anak warga Pulau Sarappo Caddi, Pangkep, Sulsel.
Mutiara tengah berbagi cerita bersama anak anak warga Pulau Sarappo Caddi Pangkep Sulsel

Pengalaman ini juga mengajarkan Mutiara untuk memahami lebih jauh slogan 4P milik Dompet Dhuafa:
● Pasti Sesuai Syariat
● Pasti Jantan
● Pasti Distribusi Hingga Pelosok Negeri
● Pasti Pelaporan Cepat

Perjalanan Mutiara menjadi bukti nyata bahwa Kurban se-ngaruh itu dan masih banyak saudara kita di pedalaman yang sangat membutuhkan dan merindukan kurban, baik dari segi perayaannya, pemerataan distribusi dan menyantap nikmatnya daging, maupun kebutuhan gizi yang terkandung di dalamnya. Melihat langsung kondisi di Toraja Utara dan Pulau Sarappo Caddi, hati Mutiara terpanggil untuk berbagi kebahagiaan ini.

Peternak mitra Dompet Dhuafa di Maros, Sulsel, menyiapkan pakan sapi.
Peternak mitra Dompet Dhuafa di Maros Sulsel menyiapkan pakan sapi
Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Sulsel, Pandu (kiri) berdiskusi dengan peternak (kanan) ikut memastikan proses QC THK di kandang ternak mitra Dompet Dhuafa di Maros, Sulsel.
Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Sulsel Pandu kiri berdiskusi dengan peternak kanan ikut memastikan proses QC THK di kandang ternak mitra Dompet Dhuafa di Maros Sulsel
Mutiara mengabadikan momen sebelum meninggalkan Pulau Sarappo Caddi, Pangkep, Sulsel.
Mutiara mengabadikan momen sebelum meninggalkan Pulau Sarappo Caddi Pangkep Sulsel
Mutiara (kiri) memberikan langsung pakan sapi di kandang ternak mitra Dompet Dhuafa di Maros, Sulsel.
Mutiara kiri memberikan langsung pakan sapi di kandang ternak mitra Dompet Dhuafa di Maros Sulsel

Baca juga: Menembus Bitorik, Negeri yang Sudah Sangat Lama Merindukan Perayaan Kurban

Oleh karena itu, Mutiara tak ragu mengajak teman-teman dan pengikutnya di media sosial untuk turut serta dalam kebaikan ini. “Buat teman-teman yuk bareng aku kita patungan Kurban untuk saudara-saudara kita di pelosok negeri, bareng aku dan Dompet Dhuafa,” ajak Mutiara penuh semangat. Kurban yang terkumpul nantinya akan didistribusikan di Toraja Utara dan Pulau Sarappo Caddi, membawa senyum dan harapan bagi mereka yang jarang merasakannya.

Setiap patungan kurban Anda akan menjadi senyum kebahagiaan bagi mereka di Toraja Utara, Pulau Sarappo Caddi, serta wilayah lainnya. Mari wujudkan kurban bersama Mutiara dan Dompet Dhuafa, hadirkan kebahagiaan kurban di pelosok negeri dengan berpartisipasi dengan mengeklik link ini. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Dhika Prabowo
Penyunting: Dedi Fadlil