FLORES TIMUR, NUSA TENGGARA TIMUR — Di tengah khidmat perayaan Iduladha 1446 Hijriah, ada kisah-kisah nyata yang menyentuh hati tentang makna berbagi yang melampaui sekadar ritual. Salah satunya adalah perjalanan Rahmi Syofia, atau yang akrab disapa Mimi Campervan Girl, seorang perempuan pejalan dan pegiat sosial yang tak pernah lelah mencari dan menebar kebaikan. Untuk kedua kalinya, Mimi merelawankan diri untuk terjun langsung dalam distribusi Tebar Hewan Kurban (THK) 2025 bersama Dompet Dhuafa.
Perjalanan Mimi kali ini membawanya menjelajah pelosok Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), setelah tahun lalu merasakan langsung atmosfer berbagi di Pulau Kei, Maluku. Sebelum memulai petualangannya, Mimi berinisiatif mengajak para pengikutnya di media sosial untuk berpatungan kurban. Sebuah ajakan sederhana, namun dampaknya luar biasa, menginspirasi banyak orang untuk turut serta menebar manfaat kurban hingga ke wilayah 3T (terpencil, terluar, terdalam) di Indonesia.
Baca juga: Kurban untuk Palestina: Upaya Hadirkan Asa di Tengah Darurat Kelaparan


Hingga pada Hari Tasyrik pertama, Sabtu (07/06/2025) sore, Mimi tiba di lokasi distribusi kedua, Desa Kiwang Ebang, Pulau Solor Timur. Pagi harinya, ia telah lebih dulu menyalurkan hewan kurban kepada masyarakat penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Desa Boru, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur. Perjalanan yang ditempuh sungguh tidak mudah.
Dari Wulanggitang, perjalanan darat memakan waktu sekitar dua jam menuju Larantuka, lalu dilanjutkan dengan jalur laut menggunakan kapal menuju Adonara selama satu jam. Setelah itu, perjalanan darat sekitar satu jam lagi menuju dermaga, dan sekali lagi menyeberang selama satu jam dengan kapal, mengangkut hewan-hewan kurban menuju Pulau Solor.
Sesampainya di Desa Kiwang Ebang, sebuah pemandangan mengharukan menyambut kedatangan Mimi dan tim Dompet Dhuafa. Warga desa terlihat guyub dan bahagia, menanti dengan penuh harap. Anak-anak kecil para santri ikut berbaris, melantunkan doa dan shalawat, sebagai ungkapan syukur yang tulus atas kehadiran THK di desa mereka.
Baca juga: Tebar Hewan Kurban 1446 H Sasar Penyintas Erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki di Flores Timur


Mimi tak kuasa menahan haru. Matanya bergelimang air mata, ia menangis dan menyambut balik anak-anak itu dengan pelukan hangat. Di sisi lain, para warga pria telah sigap mempersiapkan diri untuk menyembelih hewan kurban, sementara para warga wanita dengan riang gembira menyajikan kudapan dan mempersiapkan masakan daging kurban yang sudah lama mereka dambakan.
Proses penyembelihan berlangsung khidmat, diiringi lantunan takbir yang menggema dari para santri penghafal Al-Qur’an tersebut. Sebuah perayaan ritual yang telah lama mereka nanti-nantikan, sebuah penantian untuk menerima kebaikan kurban di desa mereka.


Mimi menemukan lebih dari sekadar pengalaman di setiap perjalanannya. Pengalaman langsung ini bukan hanya tentang mendistribusikan daging kurban, namun juga tentang sebuah pelajaran hidup.
“Aku melihat langsung proses THK bersama Dompet Dhuafa saat di Maluku tahun lalu, dan ini membuka mata dan menjadi ilmu baru. Ketika hadir langsung kesini, aku merasa bahwa harusnya mereka menerima tapi malah memberi pada kita,” jelas Mimi.
Semangat kebaikan Mimi Campervan ini menginspirasi 28 pekurban untuk ikut berbagi kebahagiaan melalui THK Dompet Dhuafa. Sebanyak lima ekor sapi dan sembilan ekor kambing didistribusikan ke tiga desa di Kabupaten Flores Timur.
“Aku belajar banyak dari yang aku temui melalui perjalanannya. Dan sebenarnya saat ini aku sedang masa recovery pasca sakit dan operasi, namun dalam perjalanan ini aku sangat mensyukuri hidup dan menjadi ‘obat’ bagi diri ku pribadi,” ungkapnya lagi, menyiratkan kedalaman makna yang ia rasakan.
Baca juga: Sambut Iduladha 1446 H, Dompet Dhuafa Edukasi Kurban Sehat untuk Lansia


Salah satu penerima manfaat THK di sana adalah Mama Ratna (60). Dengan mata berbinar, ia mengungkapkan rasa syukurnya saat menerima daging kurban. Sudah setahun ia mendambakan makan daging, sebuah rezeki yang langka baginya yang sehari-hari hanya makan ikan, titi (keripik) jagung, atau bahkan hanya nasi dan air putih saja.
Keseharian Mama Ratna dihabiskan berkebun buah bidara, namun belakangan hasil kebunnya sering rusak (kurang jemur) karena cuaca mendung. Sebagai tambahan, ia menjual kayu yang ia cari di hutan dengan penghasilan Rp10.000 per hari.
“Untuk (kebutuhan) sehari-hari, kita menabung penghasilan beberapa hari, baru bisa beli beras, sering juga tahan-tahan lapar atau berpuasa. Ya, senang ada daging kurban, setahun sekali toh,” ungkap Mama Ratna.
Baca juga: Proses Panjang Quality Control dari Bajawa hingga Flores Timur Demi Tebar Hewan Kurban Berkualitas


Di Nusa Tenggara Timur, program Tebar Hewan Kurban (THK) Dompet Dhuafa tahun ini mendistribusikan sebanyak 128 ekor sapi dan 50 ekor kambing, setara dengan 1.646 doka. Hewan kurban ini tersebar di 15 kabupaten, termasuk Kota Kupang, Kab. Kupang, Belu, Timor Tengah Utara (TTU), Timor Tengah Selatan (TTS), Sikka, Bajawa, Ende, Rote, Flores Timur, Nagekeo, Manggarai, Manggarai Timur, juga Manggarai Barat.
Tentunya kisah ini menginspirasi kita semua. Dengan sebuah asa bersama-sama terus menebar kebaikan, karena kurban mu sengaruh itu. Setiap kurban adalah harapan yang bermekaran di hati mereka yang membutuhkan. (Dompet Dhuafa)
Teks & Foto : Dhika Prabowo
Penyunting : Dedi Fadlil

