Dompet Dhuafa Dorong Optimalisasi Pangan Lokal dan Peran Budaya untuk MPASI Bergizi

JAKARTA — Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menyelenggarakan Seminar Budaya Sehat Nusantara secara hybrid dengan mengangkat judul “Optimalisasi Bahan Pangan Lokal, MPASI Bergizi, untuk Tumbuh Kembang Anak”. Acara ini diselenggarakan pada Rabu (12/11/2025) di Sasana Budaya Rumah Kita, Gedung Philanthropy, Jakarta Selatan.

Seminar ini diisi oleh narasumber profesional di bidangnya, mulai dari dr. Ika Nurillah Satriana, IBCLC selaku Dokter Umum & Konsultan Laktasi Internasional, dr. Hani Purnamasari MsiMed, SpA, IBCLC selaku Dokter Spesialis Anak & Konsultan Laktasi Internasional, Meyta Winduka Alexandriana A.Md.Gz selaku Ahli Gizi LKC Dompet Dhuafa, dan drg. Martina Tirta Sari selaku Kepala LKC Dompet Dhuafa.

Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting nasional masih berada di angka 19,8 persen. Dan yang memprihatinkan, kasus tertinggi justru ditemukan pada kelompok usia 24-35 bulan, yaitu fase di mana anak sepenuhnya bergantung pada Makanan Pendamping ASI (MPASI). Fakta ini mengonfirmasi bahwa kualitas MPASI memegang peran krusial dalam pencegahan stunting.

Ismail Agus Said selaku Direktur Program Kesehatan Dompet Dhuafa berharap, giat ini dapat mendorong peran ibu dan makanan dalam menumbuhkan bayi yang sehat. Tata kelola MPASI yang baik dan benar dapat melahirkan anak-anak yang tumbuh sehat dan berkembang.

Baca juga: Peringati Pekan ASI Dunia, LKC Dompet Dhuafa Beri Edukasi ASI Eksklusif Hingga Demo Masak MPASI

Ahmad Juwaini, Ketua Yayasan Dompet Dhuafa Republika (YDDR), saat memberi sambutan dalam Seminar Budaya Sehat Nusantara.
Ahmad Juwaini Ketua Yayasan Dompet Dhuafa Republika YDDR saat memberi sambutan dalam Seminar Budaya Sehat Nusantara

Di sisi lain, Ahmad Juwaini selaku Ketua Yayasan Dompet Dhuafa Republika mengatakan, “Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, prevalensi stunting nasional di Indonesia pada tahun 2025 adalah sekitar 19.8 persen, dengan target penurunan menjadi 18.8 persen pada tahun 2025. Angka ini menunjukkan penurunan dari tahun-tahun sebelumnya, namun terdapat disparitas yang tinggi antardaerah, dengan beberapa provinsi masih mencatat angka di atas 30 persen. Beberapa provinsi di atas angka nasional seperti di Papua Barat, Sulawesi Barat, dan NTT, paling tinggi. Banyak bayi-bayi di Indonesia belum mendapatkan gizi yang baik”.

Lebih lanjut Ahmad Juwaini menuturkan, “Pemenuhan ASI sangat penting bagi bangsa Indonesia. Setidaknya menyadarkan realita bangsa kita dan memperbaiki. Dompet Dhuafa sejak awal berdiri fokus pada gizi dan ASI. Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) terus mengembangkan budaya sehat Nusantara. Seminar ini mengingatkan makanan lokal dalam pemenuhan gizi. Di sebagian masyarakat kita banyak manfaatkan kearifan lokal, seperti daun kelor, hati ayam yang dihaluskan, dan bubur jagung”.

Ahmad berharap, “Budaya konsumsi dengan sumber daya yang kita miliki sebagai pemenuhan ketahanan pangan kita. Warisan nenek moyang diharapkan dapat dikuatkan dan dikembangkan dengan inovasi dan teknologi saat ini”.

Seminar Budaya Sehat Nusantara diikuti oleh 80 peserta luring dan 800 peserta daring melalui kanal YouTube Dompet Dhuafa TV.
Seminar Budaya Sehat Nusantara diikuti oleh 80 peserta luring dan 800 peserta daring melalui kanal YouTube Dompet Dhuafa TV

Seminar ini diikuti oleh 80 peserta luring yang terdiri dari kader posyandu, fasilitator, penanggung jawab program LKC Jakarta, Jawa Barat, dan Banten, serta perwakilan dari organisasi masyarakat juga media. Secara daring, acara ini menjangkau 800 peserta melalui siaran langsung YouTube.

“Kader Pos Sehat adalah ujung tombak perubahan di masyarakat. Melalui seminar ini, kami berharap tidak hanya meningkatkan kapasitas kader, tetapi juga mendorong terciptanya resep dan produk MPASI berbahan lokal yang dapat langsung diterapkan di Posyandu,” jelas drg. Martina Tirta Sari.

Pada MPASI, menurut dr. Ika Nurillah Satriana, pola makan menjadi hal penting dalam pemenuhan MPASI. Makan adalah proses tumbuh kembang anak, anak perlu belajar makan, bujuk dengan kasih sayang dan kesabaran. Kenalkan berbagai jenis makanan sedari dini pada bayi (minimal 6 bulan) agar bayi terbiasa menguyah dan mengenalkan ragam rasa makanan.

Baca juga: Penyintas Balita Jadi Usia Rentan, LKC Antar MPASI Hingga Rumah Warga Yang Terendam

dr. Ika Nurillah Satriana memaparkan materi tentang pemberian MPASI yang ideal bagi anak usia 6 bulan hingga 2 tahun.
dr Ika Nurillah Satriana memaparkan materi tentang pemberian MPASI yang ideal bagi anak usia 6 bulan hingga 2 tahun

Pada kesempatan yang sama dr. Hani Purnamasari mengatakan, “MPASI siap diberikan pada bayi usia 6 bulan hingga 2 tahun, periode emas tumbuh kembang anak. Dalam pola MPASI harus dilakukan pemantauan, hal tersebut bertujuan untuk deteksi dini masalah gizi, memastikan intervensi cepat dan tepat, serta mengoptimalkan tumbuh kembang anak”.

“Hal tersebut untuk mengurangi dampak kekurangan gizi. Bilamana terjadi kekurangan gizi pada tumbuh kembang, akan berdampak pada kekebalan tubuh rendah, dan rentan penyakit, keterlambatan perkembangan otak dan kognitif, gangguan pertumbuhan, serta risiko penyakit kronis,” tambah dr. Hani Purnamasari.

LKC Dompet Dhuafa mengajak semua pihak untuk bersinergi mendampingi setiap keluarga dalam memantau tumbuh kembang anak dan mendorong penerapan MPASI yang bergizi dan berbasis bahan pangan lokal. Bersama, kita wujudkan anak Indonesia yang sehat, bebas stunting, menuju Indonesia Emas 2045. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Bani Kiswanto
Penyunting: Ronna