LIBYA — Delegasi Indonesia dari Dompet Dhuafa yang tergabung dalam misi Land Convoy Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0, Imam Alfaruq, pada Kamis (21/05/2026) pukul 13.00 waktu setempat, membagikan laporan terbaru terkait situasi para relawan yang hingga kini masih tertahan di wilayah gurun Libya, sekitar 65 kilometer sebelum Kota Sirte.
Memasuki hari kelima, rombongan Land Convoy masih bertahan di lokasi tandus yang disebut berada di antara wilayah otoritas Libya Barat dan Libya Timur. Imam menyebut, lokasi tersebut nyaris seperti “tanah tak bertuan”.
“Tidak ada sumur, tidak ada air permukaan. Yang ada hanya air laut dengan jarak sekitar dua kilometer dari lokasi perkemahan,” tulis Imam dalam laporannya, Kamis (21/05/2026).
Di sekitar lokasi perkemahan, diduga terdapat area milisi Haftar. Sementara itu, hingga kini Komite GSF masih terus berupaya melakukan negosiasi dengan Pemerintah Libya Timur agar rombongan diizinkan melintas menuju Gaza. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil.
Pada Senin (19/05/2026), Komite GSF 2.0 bersama delegasi internasional, termasuk delegasi Indonesia, sempat melakukan pertemuan dengan Bulan Sabit Merah Libya Timur. Dalam pertemuan awal itu, respons yang diterima cukup positif. Bahkan, pihak Bulan Sabit Merah disebut siap menerima dan mengawal bantuan kemanusiaan menuju Gaza.
Baca juga: Akses Komunikasi Terbatas, Delegasi Jalur Darat GSF Masih Tertahan di Wilayah Libya

Namun, harapan itu belum menjadi kepastian. Saat diminta memberikan surat balasan resmi pada Rabu (20/05/2026), pihak yang sebelumnya hadir justru tidak dapat dihubungi dan tidak datang ke lokasi perkemahan sebagaimana dijanjikan.
Pada Kamis (21/05/2026), delegasi GSF 2.0 kembali bergerak menuju Sirte untuk menemui perwakilan Bulan Sabit Merah Libya demi memastikan bantuan benar-benar dapat diteruskan ke Gaza. Sebab, hingga saat ini Pemerintah Libya Timur belum memberikan izin bagi rombongan Land Convoy untuk melintas.
Di tengah ketidakpastian tersebut, kondisi para relawan semakin berat. Imam menggambarkan tekanan besar yang dirasakan panitia maupun peserta.
“Tidak jarang kami melihat panitia sakit flu berat dengan jarum suntik infus yang masih menempel di tangan mereka,” tulisnya.
Rapat internal terus dilakukan hingga dua sampai tiga kali sehari. Dalam beberapa kesempatan, perwakilan delegasi dari berbagai negara turut dilibatkan untuk mendengarkan arahan langsung dari Komite GSF 2.0.
Baca juga: Ahmad Juwaini: Relawan Indonesia dalam Misi GSF 2.0 Telah Bebas dan Aman
Kondisi alam yang ekstrem juga mulai memengaruhi kesehatan peserta. Debu gurun, cuaca kering, serta keterbatasan air membuat sejumlah relawan mengalami flu, gatal-gatal, gangguan pencernaan, hingga radang tenggorokan. Pada siang hari, suhu di dalam tenda sangat panas. Sebaliknya, malam hingga pagi hari terasa sangat dingin, bahkan disebut bisa mencapai sekitar 15 derajat Celsius atau lebih rendah.
Meski begitu, Komite GSF 2.0 masih terus berupaya agar land convoy untuk dapat segera beroperasi. Dalam arahannya, panitia meminta seluruh peserta untuk tetap “sumud” atau menguatkan kesabaran dan ketahanan selama menjalani perjuangan kemanusiaan ini.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Imam memastikan tujuh delegasi Indonesia masih dalam kondisi sehat. Beberapa di antaranya memang mengalami flu, kulit terbakar matahari, hingga radang tenggorokan, namun hal tersebut dianggap sebagai bagian dari konsekuensi perjuangan.
“Mereka semua masih on fire untuk melanjutkan perjalanan mulia ini,” tulis Imam. (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Riza Muthohar
Penyunting: Dhika

