Kartini Tangguh dari Sukabumi, Kisah Yuyum Peternak Berdaya Sekolahkan Anak Hingga Perguruan Tinggi

Woman wearing a headscarf balances a large sack on her head in a banana plantation.

SUKABUMI, JAWA BARAT — Tepat 21 April 2026, Hari Kartini menjadi momen untuk mengenang perjuangan perempuan-perempuan tangguh yang tak hanya hadir dalam lembar sejarah, tetapi juga hidup di sekitar kita hari ini. Sosok pahlawan perempuan sering kali mereka hadir dalam keseharian, berjuang diam-diam demi keluarga, dan memilih terus melangkah meski keadaan tak mudah.

Seperti Yuyum Susilawati, seorang perempuan tangguh dari Sukabumi yang membuktikan bahwa semangat Kartini tetap hidup dirinya. Di tengah profesi peternak yang kerap identik dengan laki-laki, Yuyum hadir sebagai sosok yang mampu menghidupi keluarga sekaligus menyekolahkan anak-anaknya lewat beternak domba.

Siapa sangka, dari kandang sederhana di bumi Pasundan, Sukabumi, lahir kisah perjuangan seorang srikandi yang menjadikan peternakan untuk membuka peluang hidup. Menjadi tulang punggung keluarga bukanlah hal mudah, terlebih bagi seorang perempuan. Itulah yang dijalani Yuyum setiap hari. Dengan bekerja keras sebagai peternak, ia terus berjuang memenuhi kebutuhan keluarga di tengah berbagai keterbatasan.

Meski perjalanan itu penuh tantangan, bahkan sering kali membuatnya kesulitan mencukupi kebutuhan sehari-hari, Yuyum tidak pernah menyerah. Kerja tanpa lelah, dan pengorbanannya perlahan membawanya pada hasil yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Alhamdulillah si Bapak (suami) kerja bangunan dan itu juga kalau ada, makanya kita ternak domba sambil bertani aja, mengelola lahan yang kosong,” ungkap Yuyum kepada Tim Dompet Dhuafa, pada Hari Iduladha tahun 2023 lalu.

Baca juga: Lahir dari Pemberdayaan, Kartini Ini Kini Memberdayakan

Keseharian Yuyum mengarit rumput untuk pakan ternak dombanya.
Keseharian Yuyum mengarit rumput untuk pakan ternak dombanya

Yuyum merupakan salah seorang mitra peternak dan pengurus aktif di Koperasi Peternak Serba Usaha (KPSU) Riung Mukti, Sukabumi—mitra pemberdayaan ternak Program Tebar Hewan Kurban (THK) binaan Dompet Dhuafa sejak tahun 2009. Sebagai warga asli Sukabumi, Yuyum telah dikenal masyarakat sebagai sosok wanita tangguh dan pekerja keras.

Perlahan, jalan Yuyum mulai menemukan arahnya ketika ia bergabung sebagai penerima manfaat program Tebar Hewan Kurban (THK) Dompet Dhuafa. Kesempatan itu menjadi titik penting dalam perjalanan hidupnya. Pada 2012, Yuyum menjadi satu-satunya peternak perempuan yang tergabung di KPSU Riung Mukti, Sukabumi

Yuyun saat sedang mengarut untuk kebutuhan pakan ternaknya.
Yuyun saat sedang mengarut untuk kebutuhan pakan ternaknya

Tak patah arang, sebagai sosok pekerja keras, Yuyun terbiasa mengambil pakan sendiri, mengelola langsung ternak-ternaknya serta mampu mendidik mengelola keluarganya dengan baik, Salah satu hal yang paling ia syukuri adalah berkat adanya program THK, Yuyum dapat menyekolahkan kedua putrinya hingga perguruan tinggi.

“Alhamdulillah, dengan cara seperti ini, saya ngurusin anak kambing tapi anak saya bisa sekolah, saya terharu-lah, ikut aja karena saya gak punya modal untuk menyekolahkan anak. Alhamdulillah ini terbuka jalan. Berkah ini banyak manfaatnya, terus selanjutnya kan saya ikutin terus, anak (kedua) masuk (sekolah),” ujar Yuyum penuh haru.

Berkat usahanya, kini sang anak dapat menjadi guru di tingkat SMP. Sebelumnya ia mengambil jurusan D3 Pendidikan, sementara anaknya yang lain mengambil jurusan perbankan.

“Jadi sampai sekarang, alhamdulillah dia ngajar, bermanfaat di SMP,” tambahnya.

Baca juga: Pulang, Berdaya, Berdikari, 50 Pekerja Migran Indonesia di Hong Kong Lulus Program Kewirausahaan ‘Migrant Bright Go Home’

Pakan yang telah dikumpulkan, kemudian disimpan di belakang rumahnya.
Pakan yang telah dikumpulkan kemudian disimpan di belakang rumahnya

Kerja kerasnya menjadi peternak dan petani bisa mencukupi kebutuhan ekonomi keluarganya, bahkan Yuyum dapat membeli dua unit sepeda motor, yang ia gunakan untuk meringankan pekerjaannya mengarit rumput untuk pakan domba miliknya, serta menunjang aktivitas sehari-hari.

Meski menjadi satu-satunya peternak perempuan di sana, tak menyurutkan semangatnya terus belajar cara beternak yang baik, mulai dari manajemen pakan, kesehatan ternak, hingga reproduksi ternak.

Perubahan ekonomi jauh meningkat di saat Yuyum menggeluti pengelolaan dan bisnis peternakan domba miliknya. Yuyum yang pendidikannya tamatan sekolah dasar ini, terus semangat meneruskan pendidikannya pada program kejar paket, serta mampu menyekolahkan kedua putrinya hingga sampai bangku kuliah.

Berkat kegigihan dan dedikasinya dalam dunia peternakan, Yuyum diberi amanah sebagai Ketua dan dan sudah menjabat selama dua tahun di Kelompok Peternak Panggugah Lumaku, yang memiliki arti “Untuk Kita Bersatu”.

Para peternak yang tergabung dalam Kelompok Ternak Panggugah Lumaku, tengah menguliti domba untuk dibagikan kepada masyarakat sekitar.
Para peternak yang tergabung dalam Kelompok Ternak Panggugah Lumaku tengah menguliti domba untuk dibagikan kepada masyarakat sekitar

Yuyum sangat bersyukur bisa menjadi bagian Kelompok Peternak Panggugah Lumaku, ia bermimpi untuk terus menjadi peternak perempuan yang tangguh dan berdaya.

“Kalau ada waktu kumpul-kumpul untuk rapat, kita sharing lah, di sini ada belasan anggota atau peternak, pure ngurusin kambing-kambing sendiri di kandang masing-masing,” imbuh Yuyum.

“Kalau saya, utamakan kita senang-senang juga waktu kita ngarit sama-sama, sama anggota, sambil makan-makan lah. Happy-happy aja,” sambungnya.

Selain aktif dalam beberapa organisasi, Yuyum dikenal amanah dan dengan cepat mengerti program peternakan di KPSU Riung Mukti, sehingga saat ini Yuyum dapat memetik hasil dari usaha kerja kerasnya.

“Banyak manfaatnya untuk warga semua, di sini kebagian Alhamdulillah pada makan kambing semua. Terima kasih untuk Dompet Dhuafa, setiap tahunnya Tebar Hewan Kurban (THK) untuk masyarakat di sini semua pada bahagia. Mereka gembira, dulu mah gitu masih ada yang belum makan kambing, kan sekarang mah setiap tahun ada terus, sudah 12 tahun makan kambing terus. Pada antusias gitu kalau Iduladha,” terang Yuyum.

Baca juga: Yuke Yuliantaries; Merawat Warisan dan Memberdayakan Sekitar

Elderly woman in a purple hijab sits on a mat, folding a banana leaf for a traditional snack.
Person wearing a patterned headscarf cuts raw meat on a wooden chopping block, with pieces and blood on a green surface nearby.

Yuyum berhasil membuktikan potensi wanita di dunia peternakan ternyata menunjukkan bahwa wanita juga dapat mengelola ternak dan peternakannya dengan baik. Ia juga turut memberdayakan empat orang wanita lainnya, untuk mengurus peternakan.

Di tengah dominasi peternak laki-laki, Yuyum hadir dengan cerita yang berbeda. Sebagai salah satu dari sedikit perempuan yang menekuni dunia peternakan, perjalanan Yuyum dalam membangun usahanya, menghadapi berbagai tantangan, hingga berhasil bertahan dan berkembang seperti sekarang, menjadikannya sosok kartini tangguh.

An elderly man and a woman wearing a headscarf exchange a small bag of vegetables outside a rural mud-walled house.

“Terima kasih banyak ya, selalu mengalir kurbannya dari Dompet Dhuafa. Semoga banyak manfaatnya, untuk kedepannya juga bertambah ya mudah-mudahan semuanya lancar,” tutup Yuyum.

Perjalanan Yuyun tentu tidak mudah. Namun, lewat Program THK Dompet Dhuafa, Yuyum mendapat ruang untuk bertumbuh dan melangkah lebih jauh. Bukan hanya soal beternak, tetapi tentang keberanian untuk percaya bahwa hidup bisa berubah. Dari sana, Yuyum tidak hanya bertahan, tetapi juga perlahan membangun masa depan yang lebih baik bagi keluarganya

Melalui ikhtiar program THK Dompet Dhuafa, beri kontribusi untuk melahirkan lebih banyak perempuan tangguh yang mampu berdiri di atas kakinya sendiri.Karena sejatinya, pahlawan perempuan tidak selalu dikenang lewat sejarah, tapi lewat keberanian dan perjuangannya untuk terus hidup. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Anndini Dwi Putri
Penyunting: Dhika Prabowo