Keteguhan Ibu Tazkiroh Tumbuhkan Pendidikan di Pelosok Sumsel

SUMATRA SELATAN — Setiap pagi, ia memulai pelajaran dengan doa bersama. Setelah itu ia bergegas ke sisi kanan ruangan untuk mengajar kelas 3, sementara kelas 5 menunggu. Setelah memberi tugas kelas 3, ia berpindah ke kelas 5, lalu kembali lagi. Begitu seterusnya hingga jam pelajaran selesai.

“Saya mulai dari kelas rendah dulu, karena mereka lebih rawan ribut. Namanya juga anak-anak, masih kecil. Setelah tenang, baru saya ke kelas 5,” jelasnya.

Di tengah kondisi pendidikan di daerah pelosok yang sering menghadapi berbagai tantangan, selalu ada individu-individu yang menunjukkan dedikasi luar biasa atas pendidikan yang menjadi hak setiap anak bangsa tetap terpenuhi. Salah satunya adalah Tazkiroh, guru di Madrasah Ibtidaiyah Ittihadiyah, Desa Karang Dapo 1, Kecamatan Karang Dapo, Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatra Selatan.

Sebagai Sarjana Pendidikan yang telah mengajar sejak tahun 2006, Tazkiroh menjadi salah satu sosok penting dalam perjalanan pendidikan anak-anak di wilayah tersebut. Hampir dua dekade ia mengabdikan diri sebagai pendidik di madrasah yang berdiri sejak 1956 itu. Meski berada di tengah segala keterbatasan fasilitas dan kondisi alam yang sering memicu banjir, komitmen dan ketekunannya tidak pernah surut.

“Alhamdulillah sekarang masih sehat, masih bisa mengajar di kelas, masih bisa bermanfaat bagi anak-anak,” ujarnya dengan penuh syukur, Rabu (26/11/2025).

Kalimat sederhana itu mencerminkan keteguhan hatinya untuk tetap berada di ruang kelas, tempat ia merasa dapat memberikan bermanfaat bagi generasi muda.

Saat awal mengajar, kondisi sekolah jauh dari seperti yang sekarang. Bangunannya berdiri yang dibangun dari kayu-kayu hasil gotong royong warga sekitar. Hanya ada tiga ruang kelas, sementara jenjang MI memiliki enam tingkatan. Akibatnya, dua atau tiga kelas harus disatukan dalam satu ruangan.

Baca juga: Guru Honorer Menembus Angin Natuna Demi Didik Anak-Anak Bangsa

Lokasinya berada di lembah dataran rendah yang rawan banjir. Setiap hujan turun deras, air sungai meluap dan menggenangi halaman sekolah. Tidak jarang kegiatan belajar terpaksa terhenti, namun anak-anak tetap datang. Mereka menggulung celana, menenteng buku, dan duduk di bangku kayu yang kadang lembap agar tetap bisa belajar.

Pada tahun 2012, datang para dermawan yang membangun empat ruang kelas tambahan serta satu ruang guru. Meski bangunan masih jauh dari ideal, kondisi itu sangat membantu proses belajar.

Saat ini, Tazkiroh mengajar dua kelas sekaligus (kelas 3 dan 5) dalam satu ruangan tanpa sekat permanen. Hanya dibatasi dengan tripleks sebagai pemisah. Namun ia tetap mengatur ritme pengajaran dengan cara sederhana tapi efektif.

Tahun 2016 menjadi titik penting dalam perjalanan mengajar Tazkiroh. Ia mengikuti Program Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa, sebuah program yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas guru terutama di daerah-daerah pelosok.

“Banyak sekali manfaatnya. Terutama soal kedisiplinan, cara mengajar, hingga pengelolaan kelas. Bahkan waktu ikut PPG, banyak materi yang mirip dengan yang diajarkan di SGI,” ungkapnya.

Selain membuatnya lebih percaya diri, ilmu-ilmu yang didapat dari SGI juga menjadi pedoman yang ia pegang hingga sekarang. Ia merasa lebih mampu mengatur strategi pembelajaran, lebih peka terhadap kebutuhan murid, dan lebih siap menghadapi kondisi lapangan yang serba terbatas.

Baca juga: Haru Bahagia Guru Pelosok Negeri, Pengabdian Dibayar Tuntas Lewat Panggilan Umrah

Hal yang lebih indah lagi, ia tidak menyimpan ilmunya sendiri. Ia berbagi kepada guru-guru lain di sekolah maupun di tempat ia pernah mengajar. Dampak SGI akhirnya menjalar, menebar manfaat ke banyak tangan. Ini memang yang menjadi kekuatan program SGI Dompet Dhuafa dalam membentuk guru-guru inspiratif yang menjadi motor perubahan dan menularkannya kepada lingkungan sekitar.

Meski sempat berpindah-pindah sekolah, Tazkiroh kembali ke MI Ittihadiyah. Ada sesuatu di madrasah kecil itu yang menariknya untuk pulang—tempat yang ia yakini sebagai ladang pengabdian terbaik.

Sejak SD, ia sudah bercita-cita menjadi guru agama di madrasah. Baginya, menjadi guru bukan soal honor atau jabatan, tetapi jalan hidup yang penuh keberkahan. Kini, banyak rekan sejawatnya sudah menjadi ASN dengan honor dan fasilitas lebih baik. Namun, ia tetap bersyukur dengan segala yang dimilikinya.

“Rezeki datang dari banyak pintu. Anak-anak saya bisa kuliah dengan beasiswa. Itu rahasia Allah yang diberikan untuk saya karena terus mengajar,” tuturnya.

Baca juga: Gaji Guru Kecil: Realita, Tantangan, dan Harapan yang Sering Terlupakan

Selain mengajar di MI, ia juga mengajar di TPA. Ia meyakini bahwa tugas guru bukan hanya untuk mengajar ilmu, tetapi juga membentuk akhlak. Itulah mengapa ia begitu menikmati setiap percakapan kecil dengan murid-muridnya. Bagi Tazkiroh, guru yang baik adalah guru yang mampu membuat siswanya merasa aman, nyaman, dan diterima.

“Kalau ilmunya bertambah, akhlaknya baik, dan mereka nurut ketika diarahin ke kebaikan. Itu kebahagiaan yang tidak bisa diganti dengan apa pun,” katanya.

Tazkiroh mengakhiri kisahnya dengan senyum tenang. Sederhana, tapi penuh makna. Ia tahu pekerjaannya mungkin tidak semua orang lihat. Namun, ia yakin Allah selalu melihat pengabdian itu. Kisah ini menjadi secuil gambaran kisah tentang keteguhan hati seorang pendidik yang bekerja tanpa sorotan popularitas dan sambutan meriah.

Dompet Dhuafa melalui Sekolah Guru Indonesia (SGI) hadir untuk memastikan bahwa guru-guru hebat seperti Tazkiroh tidak pernah berjalan sendiri. Dompet Dhuafa ingin memastikan lebih banyak guru di pelosok mendapatkan pelatihan dan pendampingan agar pendidikan Indonesia makin maju. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Riza Muthohar
Penyunting: Dhika