SORONG, PAPUA — Iduladha menjadi hari raya besar kedua setelah Idulfitri, momen Iduladha tak kalah dinantikan oleh seluruh umat muslim. Perayaan hari raya Iduladha tak lepas dari kisah Nabi Ibrahim dan putranya. Ada kisah ketaatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang bisa dijadikan suri tauladan dibalik perayaan Iduladha.
Meskipun dirayakan setiap tahun, Iduladha selalu memberikan makna mendalam bagi umat muslim. Iduladha mengajarkan nilai-nilai keikhlasan, kesabaran, ketaatan, berbagi dan pengorbanan sekaligus.

Nilai-nilai itu tak hanya hidup dalam kisah Nabi Ibrahim, tetapi juga tercermin nyata dalam kehidupan orang-orang yang harus menggenggam perihnya realitas demi memastikan anak-anaknya tetap bisa makan dan sekolah, seperti Amsiah (22), di sudut terpencil Kurowato, Kecamatan Aimas, Kabupaten Sorong, Papua.
Setiap hari, Amsiah harus menempuh perjalanan cukup jauh, berjalan kaki menyusuri medan berat demi satu tujuan yaitu mencari nafkah untuk kedua anaknya. Setiap pagi, tujuannya adalah batu karang yang sumber penghasilan utama Amsiah, ia membelah batu karang menggunakan linggis.
“Pergi cuma belah batu karang, pagi jam tujuh atau delapan saya berangkat, pulang bisa sore jam empat atau setengah lima di Klaleng Ampat, lumayan jauh, saya jalan kaki ke sana, balik juga jalan kaki kalau ada truk kita numpang,” tutur Amsiah.
Baca juga: Jejak Pengorbanan Sahabat, Kisah Kurban di Zaman Rasulullah

Selain jarak dan waktu, proses yang ia lakukan juga menguras tenaga.
“Di bawah itu kasih pindah, baru kasih naik baru kita dapat batu dan pake linggis kita belah batu karang,” tambah Amsiah.
Setiap insan dihadapkan pada pilihan dalam hidup mulai dari hal-hal sederhana hingga keputusan besar seperti karier, hubungan, dan tujuan hidup. Dalam masyarakat, peran kepala keluarga biasanya diemban oleh laki-laki. Namun, tidak semua kisah berjalan sesuai pakem itu. Amsiah, misalnya, harus menjalani peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya, karena suaminya telah menutup usia sejak tahun 2023 dikarenakan sakit yang dideritanya.

Bukan karena keinginan, melainkan karena keadaan yang menuntutnya untuk kuat, dan menjadi segalanya bagi keluarga. Pilihan itu bukan yang mudah, tapi ia menerimanya dengan lapang, karena cinta dan tanggung jawab kerap membuat manusia mampu melampaui batas dirinya.
“Suami saya sudah meninggal jadi terpaksa saya cari pekerjaan sendiri untuk anak-anakkan kita mata pencaharian juga itu mau ga mau,” kata Amsiah dengan tegar.
Kini ia tinggal bersama ibunya dan harus menghidupi anak-anak seorang diri. Rutinitas paginya dimulai dengan memasak nasi, memastikan anak-anak tidak pulang sekolah dalam keadaan lapar.
Baca juga: Kurban, Sunnah yang Menguatkan Hati dan Mengasah Kepedulian

Dalam sehari, jika beruntung, Amsiah bisa membawa pulang setengah hingga satu rit batu.Namun, pekerjaan ini tak selalu pasti. Sering kali ia harus menunggu lama sampai ada trek yang bisa mengangkut batu-batu itu.
“Kalau dapat ya alhamdulillah, kita pulang,” jelas Amsiah.
Namun, di tengah perjuangan itu, momen seperti Iduladha menghadirkan haru dan syukur. Di tengah kesulitan yang dirasakan Amsiah, dapat memberikan kebahagiaan bagi Amsiah dan anak-anaknya, karena ia dapat merasakan daging kurban di momen hari raya.
“Kalau ada rezeki kita beli ikan juga, kalau tidak ada kita makan sayur kangkung saja, makan dengan anak anak,” terangnya.

Baca juga: Kurban Se-Ngaruh Itu: Dari Gempa Bumi Sumbar Kini Jadi Peternak Sukses
Kurban Sengaruh Itu juga dirasakan Amsiah, yang dapat memberikan kebahagiaan sederhana bagi Amsiah dan keluarga kecilnya.
“Alhamdulillah, di Iduladha ini bisa dapat daging kurban, senang juga, makan dengan nasi. Anak-anak juga makan, iya senang juga ya dapat daging, terima kasih Dompet Dhuafa” ucapnya sambil tersenyum kepada sang anak.
Kini, harapan Amsiah tinggal satu bisa menyekolahkan anak-anaknya. Harapan ini juga yang menjadi mimpi terakhir sang suami.
“Dia mau kasih sekolah anak-anaknya, tapi butuh biaya buat anak anak sekolah,” ungkap Amsiah.

Amsiah tetap berdiri teguh, perjuangan dan pengorbanannya dimaknai sebagai simbol ketangguhan perempuan demi masa depan yang lebih baik bagi anak-anaknya. Terus bagikan kebahagiaan melalui daging kurban, kepada mereka yang berjuang di tengah keterbatasan melalui digital.dompetdhuafa.org/kurban. (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Anndini Dwi Putri
Penyunting: Dhika

