Iduladha selalu punya cara unik untuk menyatukan hati. Adha bukan sekadar ritual ibadah, melainkan sebuah siklus kebermanfaatan yang menghubungkan niat baik pekurban, kerja keras peternak lokal, hingga senyum syukur masyarakat di pelosok Nusantara.
Melalui Program Tebar Hewan Kurban (THK) yang digagas Dompet Dhuafa sejak 1994, semangat kolaborasi ini terus bertumbuh. Tahun-tahun sebelumnya, cerita inspiratif datang dari berbagai penjuru, membuktikan bahwa satu hewan kurban bisa berdampak bagi banyak garis tangan.
Kebaikan itu menular. Hal ini dibuktikan oleh grup band The Rain dan presenter Nycta Gina. Alih-alih berkurban secara personal saja, The Rain mengajak para The Rain Keepers (sebutan fans mereka) untuk ikut patungan dalam gerakan “Kurban The Rain bersama Fans”.
Amanah kolektif ini menempuh perjalanan jauh menuju Desa Sambori, Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Wilayah yang dijuluki “Negeri di Atas Awan” ini merupakan daerah terpencil di mana daging adalah barang mewah. Bayangkan saja, sehari-hari warga di sana terbiasa makan hanya dengan nasi dan lauk daun kelor. Kehadiran kurban dari kolaborasi musisi dan fans ini bukan sekadar memberi makan, tapi memberi harapan bahwa mereka tidak sendirian.


Baca juga: Kurban Jadi Simbol Harapan Penyintas Bencana
Siklus kebaikan berlanjut ke Dukuh Kedung Udal, Jawa Tengah. Sebuah kampung di wilayah hutan jati yang terisolir di ujung timur Grobogan. Untuk sampai ke sana, tim Dompet Dhuafa harus berjibaku melewati sungai kering berbatu dan perbukitan terjal karena belum adanya jembatan.
“Akhirnya bisa masak sop daging dan rendang hari ini. Matur suwun nggih, Dompet Dhuafa,” ucap Mbah Satiyem (60) dengan mata berkaca-kaca.
Di sini, kurban dikemas dengan kearifan lokal. Dompet Dhuafa Volunteer (DDV) mengusung konsep “Kurban Asyik Tanpa Sampah Plastik”, daging dibagikan menggunakan besek rotan dan daun jati. Sebuah pesan kuat bahwa ibadah kita harus selaras dengan kelestarian alam.


Inilah inti dari siklus kebermanfaatan THK. Di sisi hulu, juga ada orang-orang seperti Kang Uceng dari Sukabumi. Mantan musisi panggung ini kini menjadi penggerak ekonomi desa melalui ternak domba.
Berawal dari hanya memiliki enam ekor domba, pendampingan dari Dompet Dhuafa membantunya berkembang hingga memiliki lebih dari 30 ekor. Dampaknya luar biasa, Kang Uceng kini juga bisa mendirikan Koperasi Riung Mukti untuk membantu peternak lain. Hasil dari ternak tersebut bahkan digunakan untuk membangun madrasah bagi anak yatim dan duafa di desanya.
Dari cerita Kang Uceng, kita belajar bahwa kurban bisa menjadi modal bagi peternak kecil untuk mandiri. Dari cerita di Bima dan Grobogan, kita melihat bahwa kurban adalah kebahagiaan bagi mereka yang terlupakan. Baginya, beternak bukan sekadar mencari penghidupan, tapi jalan untuk membangun kampung, menyantuni yang lemah, dan mewujudkan mimpi bersama.
Baca juga: Puasa Arafah Amalan Utama Sebelum Kurban di Hari Iduladha

Inilah Siklus Kebermanfaatan. Kurban Anda tidak berhenti di satu tempat, ia mengalir, memberdayakan, dan menghidupkan. Mari berkolaborasi lagi tahun ini. Sempurnakan ibadahmu, luaskan manfaatmu. Setiap pekurban yang berkurban melalui digital.dompetdhuafa.org/kurban di Dompet Dhuafa telah ikut berkontribusi memberdayakan para peternak kecil. (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Dhika, Iis
Penyunting: Dedi Fadlil

