Kata Pakar: Bagaimana Kondisi Otak dan Tubuh Saat Kita Berpuasa?

Dr. Aisah Dahlan saat mengisi materi di Pesantren Gemilang 2025 Dompet Dhuafa pada 27 Januari 2025 lalu.

Bulan Ramadan menjadi bulan yang istimewa bagi seluruh umat muslim di dunia. Selain menjadi bulan diturunkannya Al-Qur’an, Ramadan juga menjadi sarana untuk menyucikan diri dari segala hal buruk. Dengan berpuasa salah satunya.

Tak hanya dari segi spiritual, puasa pun mengundang banyak manfaat bagi tubuh. Apa saja manfaatnya? Dr. Aisah Dahlan yang merupakan seorang Dokter dan Praktisi Neuroparenting akan menjelaskannya.

Selain di bidang kesehatan, Dr Aisah Dahlan selama ini juga turut aktif dalam kegiatan dakwah. Di berbagai kegiatan, ia mengolaborasikan ilmu kedokteran dengan ilmu keagamaan. Sebagai muslim, baginya dua hal tersebut saling bertautan.

Bersama Dr Aisah Dahlan, Tim Dompet Dhuafa akan mengulik bagaimana dampak kesehatan otak dan tubuh bagi seseorang yang menunaikan ibadah puasa, khususnya pada bulan Ramadan.

Baca juga: Macam-macam Puasa Sunnah & Manfaatnya Bagi Umat Islam

Bagaimana kondisi sistem pencernaan kita saat puasa?

Setiap harinya sistem pencernaan kita selalu berkontraksi secara terus menerus tanpa ada waktu untuk istirahat. Namun saat berpuasa, mulai dari imsak hingga waktu Magrib, lambung akan memiliki waktu jeda untuk tak bekerja dan akan mengurangi produksi asam yang akan mencegah pengikisan dinding lambung.

Lantas, bagaimana dengan organ-organ pencernaan lainnya? Mengutip laman resmi HaloDoc, organ pencernaan seperti liver akan berperan memecah glukosa yang tersimpan di dalam organ hati. Sehingga, tubuh akan memiliki cukup kandungan gula.

Begitu pula dengan usus halus yang akan menyerap nutrisi lebih sedikit, sehingga usus dapat bergerak normal dan mengecil. Lalu berpindah ke usus besar yang akan menyerap lebih sedikit cairan. Hal itu membuat kerja usus besar lebih terkontrol. Tubuh pun akan tetap memiliki cairan yang cukup.

Demikian setiap organ pencernaan lainnya akan memiliki jeda waktu untuk membersihkan bagiannya, juga menyeimbangkan cairan saat seorang berpuasa.

“Ini juga tetap perlu diperhatikan waktu berpuasanya. Tentu setiap daerah bahkan negara memiliki durasi waktu berpuasa yang berbeda-beda. Perlu pengawasan dan penyesuaian pada kebiasaan setempat saja,” tutur Aisah Dahlan yang akrab disapa Bunda.

Baca juga: Apa Menangis Membatalkan Puasa? Yuk, Cari Tahu Jawabannya!

Lantas, apa yang terjadi pada otak kita?

Beberapa ada yang mengatakan bahwa puasa berpotensi menyebabkan kadar stres pada otak meningkat. Namun, menurut Dr Aisah hal ini dapat terjadi berkebalikan. Peningkatan rasa bahagia dan tentram justru dapat meningkat saat menunaikan ibadah puasa. Bagaimana penjelasannya?

Dengan niat berpuasa demi mengharap rida Allah Swt, maka hipotalamus pada otak bagian tengah akan menghasilkan hormon dopamine atau hormon bahagia. Selain itu, kelenjar pituitari yang berfungsi mengatur respons tubuh terhadap stres fisik dan emosional serta suhu tubuh, rasa lapar dan haus juga akan bekerja. Ia akan memproduksi hormon endorfin yang memberikan rasa nyaman dan tentram pada manusia. Hal ini membuat tubuh manusia akan bekerja lebih rileks.

Ilustrasi kondisi otak manusia.
Ilustrasi kondisi otak manusia

Dr Aisah menjelaskan, penyebab stres saat berpuasa tak lain dikarenakan menjadikan puasa hanya sebatas kewajiban yang harus dijalankan tanpa memaknainya lebih dalam. Sehingga, seseorang tersebut akan berpuasa dengan keterpaksaan dan menimbulkan stres.

“Jadi puasa bukan hanya ikut-ikutan saja, tapi siap secara spiritual dan dibarengi dengan ilmu kesehatan. Sehingga ketika berpuasa, seseorang akan menjalankannya dengan teratur, mulai dari sahur sampai buka puasa. Tidak menyebabkan GERD atau stres berlebihan. Lalu mengatur apa yang dikonsumsi. Tak berlebihan dan kekurangan,” jelas Dr Aisah.

Ketika seseorang berpuasa dengan terpaksa, kelenjar adrenal akan bekerja menghasilkan hormon adrenalin, kortisol, dan norepinefrin yang menyebabkan stres fisik dan emosional. Membuat kerja jantung berdegup lebih kencang dan produksi asam pada lambung meningkat.

Dokumentasi DDTV dalam peliputan Pesantren Gemilang 2025 di Bogor, Jawa Barat.
Dokumentasi DDTV dalam peliputan Pesantren Gemilang 2025 di Bogor Jawa Barat

Baca juga: Ini 8 Aturan Puasa Ramadan yang Sebenarnya Keliru, Simak Deh!

Maka dari itu, lanjut Dr Aisah, umat muslim perlu memperdalam ilmu spiritual maupun kesehatan mengenai puasa. Tentu puasa Ramadan akan dimaknai sebagai sebuah momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt sekaligus bermanfaat bagi tubuhnya. Terlebih bulan ini identik dengan penyucian diri dan dapat menjadi sarana latihan untuk menjauhi perilaku buruk.

“Mengapa menjadi bahagia? Karena kita telah menyucikan diri, mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Seseorang yang berpuasa dengan berbekal ilmu akan berbeda dengan seseorang yang berpuasa dengan keterpaksaan,” jelasnya.

Dr. Aisah Dahlan saat mengisi materi di Pesantren Gemilang 2025 Dompet Dhuafa pada 27 Januari 2025 lalu.
Dr Aisah Dahlan saat mengisi materi di Pesantren Gemilang 2025 Dompet Dhuafa pada 27 Januari 2025 lalu

Ramadan dapat menjadi bulan di mana seorang umat menyegarkan jiwa dan raga. Dr Aisah berpesan, sebagai muslim kita tak boleh berhenti untuk belajar. Elaborasi antara ilmu keagamaan serta ilmu-ilmu lainnya merupakan suatu keniscayaan. Agar umat manusia dapat berkehidupan dengan baik dan membawa keberkahan.

“Mengapa saat bulan Ramadan banyak kajian-kajian? Karena memang ini momentum yang baik untuk memicu kita untuk terus belajar. Apa pun bidangnya, itu bermanfaat. Satu lagi, jika kita siap secara spiritual dan keilmuan, maka berpuasa pada bulan Ramadan bukan suatu siksaan, melainkan keberkahan,” pungkas Dr Aisah. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Hany Fatihah Ahmad
Penyunting: Dhika