Kurban Pernah Langka, Heri Santoso Ubah Desa Tolokan Jadi Sentra Ternak Lewat Amanah Dompet Dhuafa

Smiling man in a gray jacket stands in a wooden sheep pen, gently touching a sheep's head.

SEMARANG, JAWA TENGAH — Di ketinggian 1.800 mdpl Dusun Dangklik, Desa Tolokan, Kecamatan Getasa, di mana kabut sering kali menyelimuti, tersimpan kisah perubahan besar. Bagi warga di lereng Gunung Merbabu ini, hewan kurban kini bukan sekadar simbol ibadah, melainkan bukti nyata kemandirian ekonomi.

Heri Santoso, salah satu mitra peternak Dompet Dhuafa, mengenang kembali masa-masa sebelum kolaborasi dimulai pada 2021. Di dusunnya, ibadah kurban pernah menjadi peristiwa yang sangat langka akibat minimnya kesadaran serta keterbatasan ekonomi masyarakat saat itu.

“Tingkat kesadaran masyarakat saat itu belum ada. Tahun 2018 bahkan tidak ada kurban sama sekali di satu Dusun Dangklik (Desa Tolokan) ini. Kalaupun ada yang pernah dapat kiriman daging, jumlahnya tidak mencukupi untuk semua umat di sini,” ungkap Heri, saat ditemui tim Dompet Dhuafa pada Selasa (12/05/26).

Kini, melalui Program Tebar Hewan Kurban (THK) dan Jaringan Tani Ternak Nusantara (Jantara), suasana dusun pun berubah total. Heri kini mengelola 20 ekor domba jantan di kandangnya yang merupakan amanah dari Dompet Dhuafa. Nantinya, domba-domba yang telah digemukkan olehnya akan dibeli kembali oleh Dompet Dhuafa untuk disalurkan sebagai hewan kurban bagi warga di Dusun Dlangklik, Desa Tolokan, maupun wilayah lainnya.

Baca juga: Pastikan Hewan Kurban Layak Syariat, Dompet Dhuafa Gelar QC Ketat di Getasan

Sheep inside a dim barn with wooden beams, backlit by daylight filtering in.

Bagi Heri, tantangan terbesar peternak di lereng gunung bukan hanya soal cuaca, melainkan jeratan tengkulak. Selama ini, peternak sering kali tidak berdaya saat tengkulak memainkan harga jual seenaknya, terutama saat mereka sedang sangat membutuhkan uang.

Kehadiran Dompet Dhuafa menjadi jawaban atas keresahan tersebut. Dengan sistem kemitraan, peternak mendapatkan harga yang adil dan kepastian pasar.

“Harapan saya peternak di Desa Tolokan bisa ikut berkolaborasi semua agar bisa menekan tengkulak yang sering memainkan harga jual. Sangat terlihat perbedaannya, adanya Dompet Dhuafa ini sangat membantu ekonomi kami,” tegas Heri.

Merawat domba di dataran tinggi memiliki tantangan tersendiri. Heri menceritakan bagaimana domba-domba yang didatangkan dari daerah panas membutuhkan waktu adaptasi suhu selama satu bulan penuh.

“Domba ini datang dari hawa yang hangat ke dataran tinggi yang dingin, perbedaannya sangat berpengaruh. Awalnya satu bulan itu kambing sempat kurang sehat karena adaptasi lingkungan, tapi alhamdulillah seterusnya sehat dan berhasil,” ceritanya.

Baca juga: Pertama Kali, Dompet Dhuafa Hadirkan Program Kurban Unta pada THK 1447 H

Smiling man in a gray jacket stands in a wooden sheep pen, gently touching a sheep's head.

Heri mengelola ternak tersebut bersama istrinya dengan sistem yang terukur. Ia lebih memilih pembagian kelompok kecil agar setiap peternak memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi dan semangat untuk memberikan hasil terbaik bagi para muzaki (donatur).

Selain ternak, Dompet Dhuafa juga telah menyentuh kebutuhan dasar warga melalui program pipanisasi air bersih yang sangat krusial bagi kehidupan di pegunungan. Sinergi berbagai program ini menjadikan Desa Tolokan bukan lagi sekadar desa yang terisolasi, melainkan pusat pemberdayaan yang berdaya.

Kisah Heri Santoso adalah bukti bahwa zakat dan kurban yang dikelola secara profesional mampu mengubah wajah sebuah desa dari dusun yang sepi kurban menjadi wilayah yang mandiri dan mampu melawan ketidakadilan harga di pasar. Luaskan manfaat kebaikan berkurban melalui digital.dompetdhuafa.org/kurban. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Roseta
Penyunting: Dhika