Penguat Aqidah dan Ruang Aman, Langkah Dompet Dhuafa Dirikan Masjid Al Muttaqin Sebagai Mualaf and Islamic Cultural Center

Large crowd seated on blue prayer mats on a sunny grassy field, listening to a speaker in traditional clothing at an outdoor religious gathering.

JEPANG — Menjaga nilai-nilai keislaman di tengah lingkungan minoritas seperti di Jepang adalah sebuah perjuangan yang sunyi bagi generasi muda Muslim di sana. Untuk menjembatani kebutuhan tersebut, Dompet Dhuafa bergerak mendirikan Masjid Al-Muttaqin yang juga berfungsi sebagai “Mualaf & Islamic Cultural Center” di Chiba, Jepang.

Asa ini dimulai dengan satu misi utama, yakni menyediakan ruang sosial yang nyaman agar anak-anak serta para mualaf setempat memiliki lingkungan yang mendukung untuk tumbuh bersama.

Perjalanan menghadirkan ruang aman beribadah ini lahir dari sejumlah tantangan sosial yang kian hari kian menghimpit. Selama bertahun-tahun, napas kehidupan komunitas Muslim di Chiba sangat bergantung pada ruang-ruang terbuka publik.

Ketika Hari Raya seperti Idulfitri atau Iduladha menyapa, hamparan taman kota atau lapangan menjadi saksi bisu bersujudnya sekitar 700 jemaah lintas negara, berkejaran dengan embusan angin musim dingin yang menusuk tulang.

Namun, seiring berjalannya waktu, kondisi Negeri Sakura itu mulai berubah. Memasuki tahun 2026, ruang gerak yang semula longgar kini terasa makin sempit. Dinamika isu warga asing dan ketatnya regulasi lokal membuat penggunaan fasilitas publik untuk ibadah bersama tak lagi bisa dilakukan secara bebas. Realitas di lapangan memaksa komunitas untuk bergerak lebih hati-hati demi menjaga harmoni dengan masyarakat lokal.

Baca juga: Cerita Dai Ambassador: Islam, Ajaran dan Kasih Sayang, Kisah Mualaf Pekerja Migran di Jepang

Large group of people wearing colorful robes sit on prayer mats outdoors, with shoes off nearby, on a grassy field against a stadium backdrop.

Ahmad Firman Wahyuni selaku Pimpinan Dompet Dhuafa Cabang Jepang, menceritakan bagaimana ketatnya aturan memaksa mereka harus berpindah-pindah tempat.

“Tahun 2026, di mana isu terkait orang asing dan banyaknya protes orang Jepang terkait orang asing dan Islam salah satunya, maka kita menghindari memakai fasilitas publik (taman) untuk ibadah. Kami harus menyewa ruangan punya pemerintah untuk melayani jemaah di sini, di mana kami harus berlomba-lomba agar bisa mendapatkan ruangan tersebut juga biaya yang tidak sedikit,” kenang Ahmad Firman.

Ketergantungan pada gedung sewaan milik pemerintah daerah ini memicu tantangan teknis yang rumit, terutama ketika penanggalan Hari Raya mengalami perbedaan metode penentuan hilal di kalangan umat Islam setempat. Komunitas harus memutar otak agar seluruh jemaah tetap terfasilitasi dengan baik.

“Untuk Idulfitri kemarin kami melaksanakan dua kali Salat Id di gedung yang berbeda. Yang pertama yang ikut Muhammadiyah dan yang hari kedua yang ikut keputusan Hasil Sidang Isbat Jepang. Beruntung dua hari kami fasilitasi dengan gedung yang harus kami sewa dua kali. Jika nanti ternyata ada kesepakatan yang sama, maka kami bingung mau pinjam gedung ke mana, sementara kami tidak boleh memakai fasilitas publik,” tambahnya.

Large diverse group posing for a group photo outdoors on a grassy field with trees behind them.

Di balik riuhnya urusan pencarian ruang ibadah, ada persoalan yang jauh lebih mendasar dan menyentuh masa depan anak-anak Muslim yang lahir dan tumbuh besar di Bumi Sakura. Ada sebuah kenyataan yang terjadi bahwa mayoritas generasi kedua Muslim di Jepang perlahan menjauh dari nilai-nilai keislaman begitu mereka menginjak usia dewasa.

“Kami perlu menghadirkan Masjid Al Muttaqin Chiba ‘Mualaf and Islamic Cultural Center’ ini untuk menyelamatkan akidah anak-anak Muslim yang lahir dan besar di Jepang. Karena ada data yang menyebutkan bahwa di atas 80 persen anak-anak second generation meninggalkan Islam ketika memasuki usia 20 tahun di Jepang,” ungkap Ahmad Firman dengan nada cemas.

Baca juga: Suhu Minus di Jepang Tak Surutkan Semangat Warga Muslim Tadarus Al-Qur’an

Pola perkembangan karakter anak-anak ini sangat dipengaruhi oleh rutinitas harian di Jepang yang sangat padat. Sejak pagi hingga menjelang malam, waktu mereka habis terserap oleh lingkungan sekolah formal yang kental dengan budaya setempat.

Berangkat dari rentetan kondisi tersebut, langkah fisik ini diambil bukan sekadar untuk mendirikan bangunan atau tempat ibadah salat semata. Dompet Dhuafa Jepang menginisiasi proyek ini sebagai upaya menghadirkan solusi jangka panjang melalui dua fungsi strategis sebagai ruang ibadah dan pulang.

Mari jadikan harta kita sebagai saksi pembela akidah generasi muda Muslim di Jepang. Alirkan pahala tanpa putus melalui sedekah jariyah untuk pendirian Masjid Al-Muttaqin Chiba melalui Hadirkan Masjid Permanen untuk Muslim di Chiba Jepang. (Dompet Dhuafa)

Teks: Roseta
Penyunting: Dhika