Potensi Ziswaf Tembus Rp343 Triliun, Hasil Survei Nasional Jadi Dasar Penguatan Filantropi Islam Kedepan

Six-panel discussion on stage in a conference room; audience watching, banner behind with Indonesian national survey text.

JAKARTA — Potensi total nilai zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswaf) yang dikeluarkan masyarakat Indonesia kembali menunjukkan angka yang besar. Hasil Survei Nasional Potret dan Perilaku Ziswaf yang dilakukan oleh Social Trust Fund (STF) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bersama Indikator Politik Indonesia, Voyage, serta Dompet Dhuafa, mengungkapkan bahwa total nilai Ziswaf, serta kurban yang dikeluarkan masyarakat Muslim Indonesia dalam setahun terakhir mencapai sekitar Rp343,08 triliun.

Temuan tersebut dipaparkan dalam peluncuran hasil survei (Public Release) bertajuk “Potret dan Perilaku Ziswaf Muslim Indonesia” yang berlangsung di Sasana Budaya Rumah Kita Dompet Dhuafa, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (05/06/2026).

Speaker in a batik shirt at a conference, screen shows a slide with a table of estimated ZISWAF totals for Indonesia.

Survei ini menjadi salah satu pemetaan terbesar mengenai perilaku filantropi umat Islam di Indonesia, yang melibatkan 8.360 responden Muslim berusia 18 tahun ke atas yang tersebar di Indonesia.

Dalam sambutannya sekaligus membuka acara, Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama RI, Waryono Abdul Ghafur, menyebut bahwa hasil survei ini penting untuk melihat kembali wajah filantropi Islam Indonesia yang selama ini masih merujuk pada angka potensi zakat sekitar Rp327 triliun dari penelitian sebelumnya.

Male speaker wearing a beige jacket and black hat giving a talk at a clear podium with a microphone in a conference room, with a logo on the podium.

“Ini penelitian kolaboratif, banyak hal yang harus dilakukan bersama terkait ekosistem zakat dan wakaf. Survei ini sangat penting, tentu ini memiliki pengaruh dalam kebijakan yang relevan terkait dengan lembaga filantropi Indonesia ke depan itu seperti apa, karena dalam membuat kebijakan itu based on riset,” ungkap Waryono dalam sambutannya.

Menurutnya, perkembangan sosial, ekonomi, dan perilaku masyarakat, perlu diukur kembali agar kebijakan yang diambil pemerintah maupun para pengelola zakat dan wakaf dapat berbasis data yang aktual. Ia berharap, hasil survei ini dapat menjadi bahan pembelajaran bersama dalam memperkuat ekosistem filantropi Islam sekaligus menjadi pijakan dalam merumuskan kebijakan yang lebih relevan ke depan, termasuk dalam pengelolaan zakat nasional.

Baca juga: Paparkan Kekuatan Potensi ZISWAF, RSAW Hadir di IHEX 2022

Smiling man in a batik shirt giving a presentation, standing beside a projected slide with bullet points.

Sementara itu, Founder dan Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, menjelaskan bahwa riset ini dirancang untuk menghasilkan gambaran yang lebih representatif mengenai perilaku filantropi Muslim Indonesia.

“Berdasarkan hasil survei, kontribusi terbesar dalam total dana filantropi Islam berasal dari infak dan sedekah yang mencapai Rp221,7 triliun. Posisi berikutnya ditempati kurban sebesar Rp52,3 triliun, wakaf Rp33,6 triliun, zakat maal Rp27 triliun, dan zakat fitrah Rp8,4 triliun,” ujar Burhanuddin dalam paparannya.

Six panelists seated on a stage discussing at a seminar, with an audience in the foreground and a blue banner behind them.|The scene shows a panel discussion with six speakers on stage and attendees watching from the audience, against a blue banner backdrop.

Hasil survei menunjukkan bahwa praktik filantropi Islam masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Muslim Indonesia. Sebanyak 98,5 persen responden mengaku menunaikan zakat fitrah dalam satu tahun terakhir, baik dalam bentuk barang maupun uang tunai.

Infak dan sedekah menjadi bentuk Ziswaf yang paling banyak dilakukan. Tercatat 74,8 persen responden memberikan infak atau sedekah dalam satu bulan terakhir, dengan mayoritas penyaluran masih dilakukan secara langsung atau offline.

Sementara itu, 10,2 persen responden melaksanakan ibadah kurban dalam setahun terakhir dengan rata-rata nilai kurban mencapai Rp2,84 juta per orang. Pada sektor wakaf, tingkat partisipasi masyarakat masih tergolong rendah, yakni 5,8 persen responden yang berwakaf dalam 12 bulan terakhir. Meski demikian, potensi pengembangannya sangat besar. Sebanyak 72,3 persen responden menyatakan tertarik untuk berwakaf uang, membuka peluang yang luas bagi penguatan program wakaf produktif yang berdampak bagi masyarakat.

Panel discussion on stage with five speakers; banner behind discusses a national survey on charitable giving in Indonesia (Zakat, Infak, Sedekah). Audience is seated in front.

Direktur Social Trust Fund UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Amelia Fauzia, mengungkapkan bahwa masyarakat Muslim Indonesia kini menunjukkan cara pandang yang makin progresif terhadap filantropi Islam. Zakat, infak, sedekah, dan wakaf tidak lagi dipandang semata sebagai bantuan konsumtif, melainkan sebagai instrumen strategis untuk pemberdayaan ekonomi, pendidikan, pengentasan kemiskinan, hingga mendukung pembangunan nasional.

Bagi Dompet Dhuafa, sebagai salah satu lembaga amil zakat nasional terbesar di Indonesia sekaligus tuan rumah penyelenggaraan peluncuran survei, hasil penelitian ini menjadi referensi penting dalam menyusun strategi pengelolaan dan penyaluran dana Ziswaf di masa mendatang.

Man seated on a stage or panel, speaking into a handheld microphone while holding a tablet, audience blurred in the foreground.

Ketua Pengurus Dompet Dhuafa, Ahmad Juwaini, menyoroti beberapa hal yang menjadi tugas dan tantangan bersama bagi berbagai lembaga dan pemangku kepentingan, termasuk nilai wakaf dengan jumlah masyarakat yang menunaikannya, relatif kecil.

“Saya mengapresiasi terhadap hasil survei ini, hasil survei ini menunjukkan masih banyak masyarakat yang menganggap wakaf hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki harta besar. Padahal bisa dimulai dari nominal kecil. Tantangan lainnya adalah rendahnya alokasi dana untuk advokasi serta masih dominannya lembaga nonformal sebagai pilihan donasi. Temuan ini menjadi PR bersama untuk memperkuat literasi dan meningkatkan kinerja Ziswaf di Indonesia,” ujar Ahmad Juwaini.

Conference room full of people watching a presentation on a screen at the front of the room

Baca juga: Wamenlu Anis Matta Kagumi Zona Madina sebagai Dampak Positif Pengelolaan Ziswaf

Data tersebut dinilai dapat membantu lembaga memahami perubahan perilaku masyarakat Muslim dalam berfilantropi, termasuk preferensi terhadap program-program pemberdayaan yang berkelanjutan. Temuan mengenai tingginya dukungan masyarakat terhadap zakat produktif juga memperkuat arah program yang selama ini dijalankan Dompet Dhuafa melalui berbagai sektor, seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, serta dakwah dan budaya.

Selain menjadi alat ukur potensi filantropi nasional, survei ini juga memberikan gambaran mengenai ekspektasi masyarakat terhadap pengelolaan dana umat yang semakin profesional, transparan, dan berdampak.

Five individuals stand in a row holding gift bags at a formal event, with a conference banner in the background.

Bagi Dompet Dhuafa, hasil survei tersebut dapat menjadi kompas dalam memperkuat inovasi program, meningkatkan kepercayaan publik, serta memperluas kontribusi filantropi Islam dalam menjawab berbagai tantangan sosial di Indonesia. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Anndini Dwi Putri
Penyunting: Dhika