Dobrak Keterbatasan: Kisah Rahmad, Anak Yatim Piatu yang Meniti Angan Lewat Beasiswa YES

Smiling man in a blue varsity jacket points to a logo on his chest.",

JAKARTA — Bak kisah dalam film animasi Jumbo karya Ryan Adryandhi. Tokoh Don (Jumbo) harus merasakan kepergian sang orang tua harus pergi tanpa kembali sejak usia belia. Bagi sebagian besar anak, pelukan hangat orang tua adalah tempat berteduh paling aman dari badai kehidupan. Namun, bagi Rahmad Gustav Kurniawan Lubis, kehangatan itu runtuh terlalu cepat.

Takdir membawanya menjadi seorang yatim piatu sejak usianya masih sangat belia. Ayahnya berpulang saat ia baru berusia enam bulan, kemudian kepergian sang ibu ketika Rahmad baru menginjak usia delapan tahun.

Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, Rahmad tumbuh dalam situasi yang tidak mudah. Jarak usia antara dirinya dengan kakak keempatnya terpaut cukup jauh, yakni 10 tahun. Seiring berjalannya waktu, kakak-kakaknya pun mulai terpencar menjalani hidup masing-masing. Rahmad kecil akhirnya diasuh oleh bibinya—adik kandung almarhumah ibunya. Sang bibi menyambutnya dengan tangan terbuka, merawat Rahmad di tengah keterbatasan bersama tiga anak kandungnya sendiri.

Press conference setup at Heritage Center with two speakers seated on stage in front of a backdrop banner reading 'Bestian/Sama Yatim BeSteam'.

Beranjak remaja dan duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), Rahmad mulai menyadari beban berat yang dipikul oleh ibu asuhnya. Kebutuhan sekolah yang kian melonjak sering kali membuatnya dirundung rasa sungkan.

“Saat di SMA, biaya kebutuhan sekolah itu terasa memberatkan. Saya segan untuk meminta kepada ibu asuh saya,” kenang pemuda asal Medan, Sumatra Utara ini, membuka lembaran kisahnya pada khalayak saat peluncuran program kolaboratif BesTeam (Bestian Sama Yatim) di ANTARA Heritage Centre, Jakarta Pusat, Kamis (18/06/2026).

Rasa sungkan itulah yang kemudian memicu dirinya untuk mencari jalan keluar. Enggan pasrah pada keadaan, Rahmad mulai berburu informasi beasiswa. Langkah kakinya menuntunnya pada sebuah program pilar pendidikan dari Dompet Dhuafa: Youth Ekselensia Scholarship (YES).

Namun, jalan menuju perubahan itu tidak instan. Rahmad harus melewati proses seleksi yang panjang dan sangat ketat bersaing dengan ratusan pendaftar lainnya. Mulai dari seleksi berkas hingga ujian tertulis ia lalui dengan ketekunan. Tahapan krusial terjadi ketika proses seleksi memasuki babak akhir, di mana para mentor dari Dompet Dhuafa datang langsung berkunjung ke rumah untuk menemui ibu asuhnya, memastikan bahwa bantuan ini akan jatuh ke tangan yang tepat.

Dari 300 anak yang mendaftar, keteguhan hati Rahmad membawanya menjadi satu dari 14 orang saja yang dinyatakan lolos.

Baca juga: Penerima Beasiswa ETOS ID, Raden Achmad Zildhan: Aku Ingin Jadi Sarjana Pertama di Keluarga

Two men stand together in front of a 'PRESS CONFERENCE' banner at an event, posing for a photo.

Bagi Rahmad, Beasiswa YES bukan sekadar bantuan materi. Program ini menjadi jembatan yang mengubah total cara pandangnya terhadap masa depan. Bila dahulu kuliah hanyalah angan-angan yang mustahil, kini impian itu berada dalam genggaman.

“Sejak dulu, saya tidak pernah terpikir untuk bisa masuk perguruan tinggi. Tapi karena Program YES ini, saya terbuka dan optimis bisa lanjut ke jenjang kuliah,” ungkap Rahmad.

Di program ini, Rahmad dan penerima manfaat lainnya ditempa secara menyeluruh. Mereka tidak hanya menerima uang saku bulanan, tetapi juga mendapatkan pembinaan klasikal dalam bidang kepemimpinan (leadership), pengembangan potensi individu, pendampingan intensif, hingga pelibatan dalam berbagai social project untuk mengasah kepekaan sosial mereka.

Pendampingan yang humanis dan terstruktur dari Dompet Dhuafa berhasil mengantarkan anak yatim yang dahulu terkungkung keterbatasan ini, bertransformasi menjadi pemuda yang penuh prestasi. Saat ini, Rahmad tercatat sebagai mahasiswa semester 4 Jurusan Pendidikan Guru di Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatra Utara. Langkahnya kini mantap untuk menyongsong masa depan sebagai seorang pendidik.

Young man in a blue-and-white jacket stands before a colorful banner that reads 'Press Conference' and 'Bestian Rama Yatim | BestTeam,' with silhouetted figures and event details in the background.

Di hadapan khalayak, ia kerap membagikan energi positifnya agar anak-anak yang senasib dengannya tidak pernah menyerah.

“Kita adalah manusia yang sudah sepantasnya memiliki harapan dan cita-cita, jadi jangan jadikan label yatim kita sebagai alasan untuk tidak bisa maju,” pesannya dengan tegas dan penuh haru.

Menutup ceritanya, Rahmad menyelipkan sebait doa dan rasa terima kasih yang mendalam untuk pihak-pihak yang telah membukakan jalan bagi mimpi-mimpinya.

“Dan untuk Dompet Dhuafa juga para donatur, terima kasih atas kontribusi kalian. Karena insyallah, saya merasakan bukti nyata dan tepat sasaran,” ucap Rahmad.

Dompet Dhuafa terus berupaya untuk menghidupkan sebuah gerakan bertepatan dengan momentum Muharram 1448 Hijriah. Bukan sekadar program santunan instan, gerakan ini membawa filosofi hangat yang membumi. Kata “Bestian” diambil dari niat tulus untuk menjadi seorang bestie—sahabat karib yang selalu hadir, mendampingi, dan menguatkan di kala sepi. Sementara BesTeam adalah penegasan bahwa memuliakan anak yatim tidak bisa dilakukan sendirian; melainkan sebuah kerja tim terbaik yang berlandaskan kebersamaan dan kasih sayang.

Baca juga: Emban Kuliah di ITS Sambil Bantu Jualan Sayur, Cerita Penerima Beasiswa YES

Ketua Program BesTeam 2026 Dompet Dhuafa, Widodo, dalam kesempatannya memaparkan bahwa banyak talenta-talenta adik-adik kita yang berpotensi luar biasa, dan harus kita dorong dengan kontribusi terbaik kita agar program ini berdampak baik dan berkelanjutan. Hal ini Dompet Dhuafa tuangkan dalam sebuah microsite yaitu yatim.dompetdhuafa.org. Bukan hanya itu, masyarakat juga dapat berkontribusi untuk saling memberi informasi akan potensi luar biasa dari anak-anak yatim se-Indonesia.

“Model Program BesTeam merupakan sebuah ekosistem, yakni ada Beasiswa Pendidikan Yatim, Yatim Ekonomi Berdaya, Kesehatan Anak Yatim. Tentu upaya ini juga membutuhkan sinergi bersama anak-anak yatim, program, donatur, dan mitra kolaborator agar berdampak baik dan berkelanjutan,” jelas Widodo.

Anda juga bisa menjadi bagian dari “tim terbaik” ini, Dompet Dhuafa telah membuka akses informasi dan partisipasi yang luas melalui laman di yatim.dompetdhuafa.org. Karena pada akhirnya, kemuliaan anak-anak yatim Indonesia tidak dilahirkan dari kekuatan individu semata, melainkan dari pelukan hangat sebuah kebersamaan. Saatnya berkontribusi melalui https://digital.dompetdhuafa.org/donasi/bestianyatim. (Dompet Dhuafa)

Penulis: Andhika SP
Penyunting: Dedi Fadlil