JAKARTA — Dua hari jelang Iduladha 1447 Hijriah, Dompet Dhuafa menggaungkan semangat pengorbanan dari cerita perjuangan menembus blokade Gaza, hingga menghadirkan sapi raksasa. Dalam konferensi pers bertajuk “Dari Satu Pengorbanan Jadi Berlimpah Manfaat” di Sasana Budaya Rumah Kita Philanthropy Building, Jakarta, Senin (25/05/2026), Dompet Dhuafa mengajak masyarakat luas untuk merefleksikan arti pengorbanan sejati, berkaca dari perjuangan kemanusiaan di Palestina hingga pemenuhan pangan di pelosok Nusantara.
Dipandu oleh Dini sebagai Master of Ceremony, konferensi pers ini menghadirkan jajaran pimpinan Dompet Dhuafa, relawan misi global, hingga figur publik legendaris Indonesia. Sebagai pembuka, Ketua Pengurus Dompet Dhuafa, Ahmad Juwaini, memaparkan rekam jejak panjang lembaga dalam isu kemanusiaan global. Ia menjelaskan bahwa Dompet Dhuafa telah konsisten menyalurkan bantuan ke Palestina selama 30 tahun. Namun, blokade ketat dan genosida yang terjadi sejak tahun 2023 membuat penyaluran bantuan fisik jadi makin sulit.
Hal inilah yang mendorong Dompet Dhuafa terlibat aktif dalam gerakan kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF). Jika pada GSF 1.0 di bulan September 2025, Dompet Dhuafa melepas tim di Barcelona dan Tunisia, maka pada GSF 2.0 yang dirancang sejak Januari 2026, Dompet Dhuafa resmi mengirimkan tiga relawan terbaiknya. Dua di antaranya menempuh jalur laut, yaitu Herman Budianto dan Ronggo Wirasanu.
“Inilah yang perlu kita kuatkan di momentum kurban ini. Sebagaimana para aktivis GSF yang “berkorban” hingga disiksa, kita semua sebenarnya bisa berkorban dengan banyak cara. Berkurban (hewan) juga menjadi bentuk nyata dari pengorbanan tersebut. Meneladani kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Semoga kita semua mendapat kesempatan untuk berkurban dengan ikhlas dan takwa,” ujar Ahmad Juwaini.
Baca juga: Kurban Pernah Langka, Heri Santoso Ubah Desa Tolokan Jadi Sentra Ternak Lewat Amanah Dompet Dhuafa

Bercerita mengenai perjalanannya, Ronggo Wirasanu, salah satu relawan Dompet Dhuafa dalam misi GSF 2.0, mengenang bagaimana gerakan ini menyatukan lebih dari 80 negara tanpa memandang ras maupun agama demi membela Palestina. Bahkan, warga Amerika Serikat beragama Yahudi pun turut serta.
“Saya di perjalanan ini bukan siapa-siapa, tetapi saya bisa ikut karena keahlian saya di bidang video multimedia. Lewat keahlian inilah saya bisa ikut berperan dan berjuang dalam upaya kemerdekaan Palestina,” ungkap Ronggo.
Senada dengan Ronggo, Herman Budianto menggarisbawahi bahwa pengorbanan di segala lini kehidupan, baik dunia maupun akhirat, adalah sebuah keniscayaan yang telah dicontohkan sejak nabi terdahulu, mulai dari Nabi Adam, Nabi Ibrahim, hingga Nabi Muhammad Saw.
“Ibadah kurban ini esensinya adalah mencari rida Allah Swt. Kadang kita sudah berlelah-lelah, tapi belum tentu menghadirkan rida-Nya karena belum muncul keikhlasan yang totalitas. Dibandingkan dengan perjuangan rakyat Palestina yang sudah berlangsung sejak dulu, kita seharusnya malu. Justru hal itu harus memotivasi kita untuk terus berjuang,” tegas Ustaz Herman.

Ketua Program Kurban Dompet Dhuafa 1447 H, Ali Bastoni, memaparkan kesiapan Program Tebar Hewan Kurban (THK) tahun ini. Dompet Dhuafa membagi distribusi ke dalam dua kriteria besar, yakni pelosok Indonesia dan wilayah luar negeri yang mengalami krisis, termasuk Palestina.
Ali melaporkan bahwa antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Di wilayah terdampak bencana akhir tahun lalu, seperti Aceh dan Sumatera Utara, stok hewan kurban sudah sold out (habis dipesan), sementara Sumatera Barat sedang menuju sold out. Begitu pula dengan kurban unta untuk wilayah Somalia. Secara keseluruhan, sebaran THK Dompet Dhuafa tahun ini mencakup 24 Provinsi di dalam negeri, lebih dari 800 desa pelosok, dan bekerja sama dengan lebih dari 48 mitra domestik dan internasional.
Aktor dan komedian senior Indonesia, Indro Warkop, turut hadir membagikan pandangannya mengenai keresahan yang kerap terjadi di perkotaan saat Iduladha. Ia menyoroti fenomena di mana pembagian daging kurban sering kali kurang tepat sasaran dan justru menjadi ajang pesta pora lokal, alih-alih menjangkau mereka yang benar-benar membutuhkan.
Baca juga: Pastikan Hewan Kurban Layak Syariat, Dompet Dhuafa Gelar QC Ketat di Getasan

Hal itulah yang memantapkan langkah pria yang akrab disapa Pakde Indro ini untuk menitipkan kurbannya melalui Dompet Dhuafa.
“Dompet Dhuafa berjalan melalui koridor agama, yang kemudian diterjemahkan secara universal. Ketika sesuatu berjalan melalui agama, saya yakin lembaga ini mempertanggungjawabkannya langsung kepada Tuhan, kepada Allah, bukan hanya kepada manusia. Tanggung jawab kepada Tuhan itu jauh lebih berat,” tutur Indro.
Sebagai pengawas di Yayasan Pita Kuning (yayasan bagi anak penderita kanker dari keluarga prasejahtera), Indro mengaku selalu menerapkan prinsip serupa kepada para relawannya. Berdasarkan pengalaman pribadinya sebagai pekurban, Indro merasa sangat puas dengan transparansi dan profesionalisme Dompet Dhuafa.
“Saya sangat puas. Dompet Dhuafa memastikan bahwa apa yang kita kurbankan benar-benar sampai kepada tangan orang-orang yang berhak menikmatinya,” pungkasnya.
Dengan menyisakan waktu dua hari menjelang Hari Raya, Dompet Dhuafa mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menyalurkan kepedulian terbaiknya guna menghadirkan manfaat yang berlimpah bagi sesama. Ayo berkurban digital.dompetdhuafa.org/kurban. (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Roseta
Penyunting: Dhika

