Tak Sekedar Merayakan, Mari Jadi Kartini Versi Terbaikmu!

JAKARTA — Setiap 21 April, masyarakat Indonesia merayakan Hari Kartini. Kartini merupakan sosok pahlawan bangsa yang berjuang untuk emansipasi perempuan. Salah satu mimpi besar Kartini adalah kesetaraan bagi seluruh perempuan di Indonesia.

Ranah perjuangan Kartini di antaranya mendorong kesetaraan akses pendidikan, kesempatan berpolitik dan ekonomi, serta kesamaan status sosial bagi perempuan dengan laki-laki di tengah budaya bermasyarakat.

Lantas, bagaimana cara Kartini mewujudkan mimpinya saat itu? Walaupun Kartini lahir dari keluarga bangsawan Jawa, ia tak sepenuhnya menjadi manusia yang hujan keistimewaan.

Jauh dari itu, Kartini cilik terpaksa putus sekolah saat berusia 12 tahun. Pada tahun itu, sekitar 1890-an terdapat tradisi yang tak boleh dilanggar oleh masyarakat, yaitu “dipingit” bagi perempuan.

Tradisi tersebut mengharuskan perempuan untuk menghabiskan hari-harinya di dalam rumah. Sebatas sumur, dapur, kasur, kata orang Jawa terdahulu. Kartini merasa itu tak adil bagi perempuan. Sebab, tradisi itu menciptakan kebodohan dan kemiskinan struktural yang menimpa perempuan.

Baca juga: Lahir dari Pemberdayaan, Kartini Ini Kini Memberdayakan

Kartini tak menyerah dengan keadaan. Ia aktif membaca buku dan koran berbahasa Belanda. Ia belajar tentang bagaimana memajukan cara berpikir perempuan pribumi. Kartini muda aktif menuliskan juangnya dalam bentuk surat yang kemudian terkumpul menjadi karya fenomenal berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Ia menyurati berbagai pihak yang dianggap berpengaruh. Mulai pejabat publik di Kementerian Kebudayaan dan Agama hingga sahabat penanya di Belanda. Kartini bercerita pengalamannya menghadapi masa pingit hingga tuntutan-tuntutannya soal kesetaraan bagi perempuan.

“Usaha kami mempunyai dua tujuan, yaitu turut berusaha memajukan bangsa kami dan merintis jalan bagi saudara-saudara perempuan kami menuju keadaan yang lebih baik, yang lebih sepadan dengan martabat manusia,” tulis Kartini Nellie van Kol pada tahun 1901 dalam Emansipasi: Surat-Surat Kepada Bangsanya.

Hingga akhir hayat, Kartini mendedikasikan hidupnya untuk mewujudkan hal tersebut. Zaman terus bergulir. Bak estafet, tongkat perjuangan Kartini tak pernah berhenti berpindah dari tangan ke tangan. Bangsa kita masih punya banyak tugas untuk mewujudkan mimpi mulia Kartini.

Pemegang Tongkat Estafet Perjuangan Kartini di Masa Kini

Kini dunia modern membuat jarak dan waktu tak menjadi penghalang bagi masyarakat untuk menggaungkan nilai-nilai emansipasi perempuan. Juangnya pun menjadi tak terbatas. Melalui berbagai inovasi kreatif, masyarakat dapat terikat pada suatu perjuangan yang sama.

Salah satunya Dompet Dhuafa dalam ranah pemberdayaannya di berbagai bidang mulai dari pendidikan, ekonomi, kesehatan, sosial kemanusiaan, dan budaya dakwah. Masyarakat dapat saling urun tangan untuk menciptakan sebuah wadah bertumbuh yang setara, baik bagi perempuan dan laki-laki.

Dompet Dhuafa memungkinkan setiap individu–tak pandang perbedaan gender–untuk berkesempatan mengakses pendidikan dan turut andil dalam menggerakkan roda perekonomian. Bahkan, juga terlibat dalam kegiatan dakwah sosial dan aktif berkontribusi dalam mendorong kesejahteraan bagi masyarakat luas.

Baca juga: Darwina, Kartini Masa Kini Penggerak UMKM #JadiManfaat

Berikut gambaran Kartini masa kini, yang mungkin bisa jadi inspirasi bagi kita semua.

1. Yuyum Susilawati – Mitra Peternak Dompet Dhuafa di Sukabumi

Yuyum Susilawati, Kartini masa kini yang berdaya dan memberdayakan.

Seorang ibu yang berdaya asal Sukabumi ini merupakan tulang punggung keluarga. Hidup yang sulit tak lantas menyurutkan perjuangannya sebagai petani dan peternak, hingga akhirnya berkesempatan bergabung menjadi mitra program Tebar Hewan Kurban (THK) Dompet Dhuafa sejak tahun 2009.

Sejak itu ia belajar mengembangkan bisnis peternakannya dan mengalami perubahan ekonomi keluarganya menjadi jauh lebih baik

Satu-satunya peternak perempuan yang tergabung menjadi pengurus aktif di Koperasi Peternak Serba Usaha (KPSU) Riung Mukti Sukabumi ini pun berhasil menyekolahkan kedua putrinya hingga perguruan tinggi. Sosoknya yang tangguh ini menjadi inspirasi bagi setiap perempuan di desanya.

2. Samsinar – Petani Kopi Binaan Dompet Dhuafa di Solok, Sumatra Barat

“Oh Ya Allah, Ya Tuhan, yang akan berhasil besok (hasil kebun kopi), yang akan jadi contoh untuk orang banyak nanti. Supaya orang-orang (yang susah) bisa jadi seperti saya, sudah tidak susah lagi hidup di kampung,” tuturnya Samsinar kepada Dompet Dhuafa.

Ia merupakan salah satu perempuan yang berhasil menumbuhkan kopi jenis specialty–kopi dengan grade yang tinggi di ladangnya. Di tengah keterbatasan ekonomi, ia bertaruh nasib dengan membuka ladang, walau mendapat cemooh warga yang tak percaya dengan perjuangannya.

Setelah mengalami jatuh bangun, ia berkesempatan mendapat akses binaan dan modal dari Dompet Dhuafa, hingga dapat berdiri sendiri dengan 25 pekerja lainnya. Samsinar merupakan salah satu sosok perempuan yang bertumbuh dan menumbuhkan semangat warga lainnya. Mendulang harapan bagi yang lain.

3. Murniati Mukhlisin – Dai Ambassador Dompet Dhuafa di Amerika

Ia merupakan seorang guru besar sekaligus pakar keuangan syariah yang kemudian menjadi delegasi Dai Ambassador Dompet Dhuafa di Wilayah Amerika, meliputi Los Angeles, Las Vegas San Francisco, Michigan,Boston, Washington DC, Virginia, Toronto dan Kanada.

Ia mendedikasikan hidupnya untuk memberdayakan masyarakat melalui keilmuan yang ia miliki. Tahun 2024 lalu, ia berhasil menggelar sesi diskusi, pengajian hingga mengisi materi dalam konferensi keuangan syariah di Harvard University.

Cakupan topiknya pun beragam. Mulai pengembangan sektor industri halal: makanan dan minuman halal, pariwisata ramah muslim, kosmetik dan obat-obatan halal, serta media islami. Kehadiran Murniati sangat relevan, terlebih jumlah muslim di Amerika sangatlah kecil, dalam persentase sebanyak 1,1 persen.

Baca juga: Sosok Kartini dari Pedalaman Hutan Tanaman Industri

4. Mbah Muko – Pembatik Binaan Dompet Dhuafa asal Bantul

Mbah Muko–sapaan akrabnya, berprofesi menjadi pembatik yang tergabung dalam kelompok Batik Berkah Lestari (BBL) di Bantul, DI Yogyakarta. Tak harap datang, pada tahun 2006 ia dan kelompoknya harus mengalami kejadian traumatis yakni Gempa Yogyakarta. Seluruh peralatan membatiknya hancur tak bersisa.

Tak pesimis,ia berusaha bangkit dari keterpurukan hingga mendapat akses binaan dan modal dari Dompet Dhuafa. Ia dan kelompoknya mulai berkarya dari nol. Bak kain kosong menjuntai, ia siap mengisinya dengan beragam pola batik.

Kini BBL dapat berdaya dan bertumbuh dengan mandiri. Pesanan ramai, pengunjung pun tak henti berdatangan. Komunitas tersebut aktif mengadakan workshop membatik yang ramai oleh pengunjung lokal maupun mancanegara.

Mereka adalah pahlawan lokal bagi lingkungan sekitarnya, menyemai benih harapan bagi mereka yang membutuhkan. Mereka menumbuhkan generasi bangsa yang tangguh dan bermartabat. Yuk, mari kita rajut bersama harapan itu dengan berdonasi melalui link ini. Jadi, bagaimana Kartini versi kamu? (Dompet Dhuafa)

Teks: Hany Fatihah Ahmad
Foto: DDTV
Penyunting: Dhika