Lebih dari 41 Juta Jiwa Merasakan Manfaat dan Terberdayakan Selama 32 Tahun Dompet Dhuafa Berdiri

Ketua Pengurus Yayasan Dompet Dhuafa Republika, Ahmad Juwaini saat menyampaikan “Public Expose 2026 Atas Laporan Kinerja 2025” pada acara “Indonesia Humanitarian Summit (I-HitS)” dengan tema “Empowerment to the Next Level”, di Nusantara TV Tower, Pulomas, Jakarta Timur, Kamis, 15 Januari 2026.

JAKARTA — Dalam 32 tahun terakhir, Dompet Dhuafa terus konsisten menjadi mediator kebaikan. Tiap tahun, lebih dari 3 juta orang telah merasakan manfaat nyata dari berbagai program yang digelontorkan. Program tersebut mencakup aspek pendidikan, ekonomi, kesehatan, sosial kemanusiaan, dakwah & budaya.

“Penerima manfaat ini akan terus bertambah seiring berjalannya waktu,” ujar Ketua Pengurus Yayasan Dompet Dhuafa Republika, Ahmad Juwaini saat menyampaikan Public Expose 2026 Atas Laporan Kinerja 2025 pada perhelatan Indonesia Humanitarian Summit (I-HitS) dengan tema “Empowerment to the Next Level”, di Nusantara TV Tower, Pulomas, Jakarta Timur, Kamis (15/01/2026).

Namun, dukungan itu tidak hanya berhenti pada tataran program. Dompet Dhuafa bermaksud untuk memperluas pada tahap pemberdayaan, sehingga mustahik dapat menjadi muzaki.

“Ada anak buruh pabrik sekolah di luar negeri, jadi dosen, dan berdampak besar. Ada anak muda lulusan perguruan tinggi, pulang kampung, bantu mensejahterakan petani,” tutur Ahmad mengisahkan bagaimana transformasi itu terjadi.

Baca juga: Paparkan Capaian, Dompet Dhuafa Gelar Public Expose Program SIMCETING Inisiasi PT PJUC

Anak buruh pabrik yang dimaksud Juwaini adalah Koko Iwan Kurniawan. Dia adalah alumni Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung penerima manfaat beasiswa BAKTI NUSA Dompet Dhuafa. Program ini memberi penguatan karakter, kepemimpinan, dan jaringan yang memperluas cakrawala serta kepercayaan dirinya.

Sejak masa kuliah, komitmen Koko terhadap pemberdayaan masyarakat sudah terlihat melalui penerbitan bukunya yang berjudul Sociopreneur Millenial. Mimpinya terus berlanjut sampai ke luar negeri. Ia mendapat kesempatan studi S2 di Thailand dan S3 di Jepang. Di dua negara itu, ia terlibat aktif memimpin aksi sosial dan riset inovatif, seperti biofuel dari alga dan proyek penghijauan.

Saat ini, Koko menjadi dosen di Unpad sekaligus sociopreneur yang berfokus pada pembangunan ekosistem Sustainable Agro Industry. Ia menggagas inisiatif seperti co-food hingga inovasi ATM Beras untuk merespons kebutuhan masyarakat.

Berbeda dengan Koko, Ramli justru memilih menjadi petani. Saat teman sebayannya memutuskan untuk mengadu nasib di kota besar setelah lulus, ia memutuskan pulang kampung dan mendampingi petani kopi. Ramli mengembangkan teknik panen kopi yang efektif, sehingga dapat meningkatkan kualitas kopi. Perubahan kecil ini berdampak besar terhadap harga jual kopi dari Rp2.500 menjadi Rp8.500.

Kini, terdapat 59 petani yang telah bergabung dengan Inovasi Kopi Sinjai yang dibangunnya. Gerakan tersebut telah menjelma menjadi program Kawasan Madaya Sinjai bersama Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan. Puncaknya, Inovasi Kopi Sinjai meraih Gold Award kategori Ekonomi Inklusif pada ajang InTecSEA 2025, sebuah pengakuan nasional atas keberhasilan pemberdayaan yang lahir dari kolaborasi dan komitmen panjang.

“Pemberdayaan filantropi memang pada akhirnya harus juga mengukur manfaat-manfaat seperti ini. Bukan sekadar sampai ke mustahik, bukan sekadar jumlah penerima manfaat yang bertambah, tapi juga perubahan apa yang dihasilkan dari bantuan tersebut,” ungkap Juwaini.

Baca juga: Tebar Manfaat Melalui Social Entrepreneur Academy

Selain itu, Dompet Dhuafa juga memberikan perhatian serius terhadap wilayah Indonesia Timur sebagai bentuk komitmen pemberdayaan masyarakat di wilayah-wilayah yang masih menghadapi ketimpangan akses pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan dakwah. Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, Dompet Dhuafa menghadirkan program yang tepat sasaran, berkelanjutan, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Program tersebut direalisasikan dalam bentuk beasiswa pelajar berprestasi, Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC), Bidan Untuk Negeri, DD Farming, Kopi Kahayya, Tebar Hewan Kurban (THK), dan Corps Dai Dompet Dhuafa (Cordofa).

“Ini masih menjadi prioritas kita, kita tahu Indonesia Timur masih banyak tertinggal dari beberapa aspek dan akses. Karena itu, kami mengajak untuk melakukan pemberdayaan di Indonesia Timur,” ajak Ketua Pengurus Dompet Dhuafa itu.

Tidak berhenti di dalam negeri, Dompet Dhuafa juga menyalurkan dukungan kemanusiaan hingga ke beberapa negara. Program-program tersebut meliputi inisiatif dakwah internasional, seperti Dai Ambassador yang hadir di berbagai negara di Eropa, Asia, dan Oseania, serta Islamic Online Course yang diselenggarakan untuk komunitas muslim di Belanda, Filipina, Malaysia, dan Korea. Selain itu, Dompet Dhuafa juga melaksanakan program sosial, termasuk Tebar Hewan Kurban (THK) di Myanmar, Somalia, dan Palestina, serta bantuan kemanusiaan, seperti Respons Palestina dan Jaga Palestina.

“Keseluruhan program ini memperlihatkan komitmen Dompet Dhuafa dalam menghadirkan nilai kemanusiaan, memperkuat peran dakwah global, serta memberikan akses bantuan kemanusiaan kepada masyarakat internasional yang membutuhkan,” kata Ahmad Juwaini.

Baca juga: Dubes RI untuk Filipina Puji Kemampuan Bahasa Inggris Dai Ambassador dalam Berdakwah

Namun, yang lebih penting dari semua ini adalah target jangka panjang Dompet Dhuafa untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat secara bertahap. Menurut Juwaini ada 6 level yang perlu dilakukan untuk mendorong pemberdayaan masyarakat lokal bersaing di tingkat global. Adapun tahapan ini antara lain; bantuan kebutuhan pokok, pelatihan keterampilan kerja, pendampingan usaha individu, pendampingan usaha kelompok, pengembangan usaha kelompok, dan pengembangan industri komunal.

“Kalau Cina bisa mengekspor mobil ke berbagai negara pada akhirnya, itu awalnya dari industri-industri kecil milik komunitas, milik masyarakat, milik warga yang mengerjakan bagian-bagian mobil itu. Lembaga pemberdayaan juga bisa masuk di pengembangan industri-industri komunal atau masyarakat,” pungkasnya.

Sebagai informasi, turut pula hadir dalam gelaran tersebut Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama Republik Indonesia, Waryono Abdul Gofur; Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Anis Matta; Entrepreneur, Sandiaga Uno; Rahmad Riyadi, Anggota Pembina Dompet Dhuafa, Anggota Dewan Pembina Dompet Dhuafa, Yudi Latif; Ahmad Juwaini, Ketua Pengurus Dompet Dhuafa, Direktur IDEAS, Agung Pardini; Ketua Bidang Inovasi dan Literasi Forum Zakat, Eko Muliansyah; Direktur Komersial NTV, Dede Apriandi; Owner Batik Trusmi, Sally Giovanny; Founder dan CEO Agradaya, Andhika Mahardika; serta Penerima Manfaat Dompet Dhuafa, M. Atiatul Muqtadir. (Dompet Dhuafa)

Teks: Aji Pangestu
Foto: Anndini, Aji, NTV.
Penyunting: Dhika